Sunday, March 5, 2017

Ummu Hakim RA

Ummu Hakim binti Harits bin Hisyam telah memeluk Islam ketika suaminya, Ikrimah bin Abu Jahal masih musyrik. Saat Fathul Makkah, suaminya itu berusaha melarikan diri ke Yaman karena takut akan dibunuh. Ummu Hakim menemui Nabi SAW untuk meminta jaminan keselamatan bagi suaminya, dan beliau menyetujuinya.

Ummu Hakim berangkat ke pesisir Tihamah untuk menyusul suaminya, ia disertai seorang budak Ikrimah yag berbangsa Romawi. Di tengah perjalanan, budak Rumawi tersebut berusaha mencabuli kehormatannya. Ketika sampai di tempat bani Akk, ia berteriak minta tolong, dan orang-orangpun menangkap budak tersebut dan mengikatnya di tempat itu.

Ummu Hakim melanjutkan perjalanan ke pesisir, ia melihat suaminya terlibat perdebatan dengan sang nakhkoda ketika akan naik kapal. Ia berseru kepada suaminya, "Wahai putra pamanku, aku telah datang kepadamu dari sisi orang yang paling banyak menyambung silaturahmi, sebaik-baiknya manusia dan semulia-mulianya manusia, janganlah engkau binasakan dirimu sendiri."

Setelah dekat, ia berkata lagi, "Sesungguhnya aku telah meminta jaminan keselamatan untukmu dari Rasulullah SAW."

Akhirnya Ummu Hakim berhasil membujuk suaminya untuk kembali ke Makkah. Ketika diceritakan perilaku budak Romawinya, Ikrimah menjadi marah dan ketika sampai di tempat Bani Akk dimana budak tersebut ditahan, ia membunuhnya.

Sesampainya di Makkah, Ikrimah menemui Nabi SAW, menanyakan banyak hal tentang Islam dan akhirnya berba'iat memeluk agama yang selama ini dimusuhinya. Dalam keislamannya ini, Ikrimah selalu ikut berjuang untuk menegakkan kalimat Ilahi, jauh lebih hebat dibanding ketika ia dahulu memusuhinya, baik dengan harta ataupun jiwanya, dan akhirnya memperoleh syahidnya pada masa khalifah Abu Bakar. Sebagian riwayat menyebutkan ia syahid pada Perang Yarmuk pada masa Umar bin Khaththab.

Setelah kematian suaminya, Ikrimah, Ummu Hakim dinikahi oleh Khalid bin Sa'id dalam suatu perjalanan pertempuran melawan tentara Romawi, di suatu tempat bernama Marjush Shafar. Memasuki malam pengantin, ketika akan dipergauli suaminya, Ummu Hakim berkata, “Tundalah hingga kita selesai memerangi pasukan Romawi!!”

Khalid bin Sa’id berkata, “Aku mempunyai firasat akan memperoleh syahid dalam pertempuran esok hari, karena itu kita tidak mempunyai kesempatan yang lain lagi!!”

Ummu Hakim memenuhi permintaan suaminya. Setelah menghabiskan malam pengantin di dalam tenda sederhana, keesokan harinya Khalid menerjunkan diri dalam pertempuran dengan perkasa dan akhirnya menemui syahidnya.

Mendengar kematian suaminya, Ummu Hakim membongkar tenda dan mengemasi barang- barangnya. Dengan sebuah patok tenda, ia ikut ikut terjun dalam pertempuran dan berhasil membunuh tujuh tentara Romawi dengan tangannya sendiri. Sungguh suatu semangat keislaman susah dicari tandingannya, dari seorang wanita yang baru saja ditinggal mati suaminya.

Baca Juga Kisah Sahabat Nabi :
Si Badui yang Menghisab Allah SWT
Amarah bin Hazm RA
Abdullah bin Abu Hadrad al Aslamy RA
Seorang Pecinta Rasulullah Saw
Anas bin Nadhar RA

Ummu Ziyad RA

Dalam perang Khaibar, Ummu Ziyad beserta enam wanita lainnya ikut menyambut seruan Nabi SAW untuk berjihad. Ketika kemudian Nabi SAW mengetahui sekelompok wanita ini, beliau tampak agak marah, dan memanggilnya. Setelah dekat beliau bersabda, "Siapa yang menyuruh kalian datang kemari? Dengan siapa kalian datang?"

"Wahai Rasulullah," Ummu Ziyad menjawab, "Kami mengetahui cara membalut luka, yang diperlukan dalam pertempuran ini. Kami datang dengan membawa obat-obatan dan perban untuk mujahid yang terluka. Kami juga bisa menyiapkan panah-panah untuk mujahid yang berperang. Kami akan mengobati dan merawat mujahid yang terluka, dan kami juga bisa menyiapkan makanan dan minuman kalau mereka lapar."

Mendengar penjelasan ini, akhirnya Nabi SAW mengijinkan mereka terlibat dalam perang Khaibar.

Baca Juga Kisah Sahabat Nabi :
Abdullah bin Amr bin Haram al Anshary RA
Dhamrah bin Ibnul Ishaq RA
Abdullah bin Atik RA
Muhammad bin Maslamah RA
Hafshah binti Umar bin Al Khattab RA

Ummu Ammar RA

(Sumayyah Binti Khayyath)

Sumayyah binti Khayyath adalah seorang budak milik Abu Hudzaifah bin Mughirah. Ia dikawinkan tuannya tersebut dengan seorang perantau dari Yaman yang kemudian menetap di Makkah, Yasir bin 'Amir. Abu Hudzaifah memang bersahabat dengan Yasir bin Amir. Dari perkawinannya ini, lahirlah Ammar bin Yasir, salah seorang sahabat yang mempunyai tempat khusus di hati Nabi SAW sehingga Beliau seringkali memujinya.

Sumayyah, atau lebih dikenal dengan nama Ummu Ammar, bersama suami dan anaknya termasuk dalam kelompok yang mula-mula memeluk Islam. Keadaannya sebagai orang miskin dan budak, membawanya kepada penyiksaan kaum kafir Quraisy karena pilihannya tersebut. Sumayyah ditimbun dengan pasir yang panas, kemudian dicambuk secara bengis dengan sepenuh kekuatan, tetapi yang keluar dari mulutnya hanya perkataan ‘Ahad, Ahad’, seperti halnya yang dilakukan oleh Bilal.

Penyiksaan yang dilakukan Abu Jahal di hadapan suami dan anaknya itu dimaksudkan agar mereka menjadi takut dan iba, sehingga melepaskan kembali keislamannya. Tetapi keteguhan iman dan kesabaran yang telah merasuk ke dalam jiwa, tidak menjadikan Sumayyah goyah, bahkan kata-kata tauhid itu terus keluar dari mulutnya. Dan terkadang ia melakukan cacian terhadap berhala-berhala orang Quraisy sesaat, kemudian kembali berucap, “Ahad-ahad!!”

Berhari-hari penyiksaan tersebut berlangsung, pernah suatu saat Abu Bakar RA melewatinya, dan bermaksud menebus atau membeli mereka, tetapi Abu Jahal menolaknya, dan bertekad menyiksa keluarga Yasir ini sampai mati jika tidak kembali kepada agama jahiliahnya. Ketika Rasulullah SAW melewati keluarga yang sedang disiksa olehAbu Jahal ini, Beliau bersabda, "Bersabarlah, wahai keluarga Yasir, janji Allah untuk kalian adalah surga….Ya Allah, ampunilah keluarga Yasir, karena mereka telah berbuat…"

Abu Jahal makin meningkatkan siksaannya, bahkan mengancamnya dengan kematian, tetapi Sumayyah justru berkata, "Mampuslah engkau wahai musuh Allah, karena Rasulullah (SAW) telah menjanjikan aku dengan surga, aku lebih memilih mati daripada melihat tampangmu…"

Makin mendidih saja kemarahan Abu Jahal oleh sikap perempuan budak tersebut, apalagi ia malah merendahkan harga dirinya dan tidak mau tunduk. Tanpa sadar tangannya meraih tombak yang dibawa budaknya, dan menghunjamkannya ke tubuh Sumayyah, hingga tembus dari selangkangannya hingga punggungnya. Senyum mengembang mengiring lepasnya nyawa dari jasad Sumayyah. Ia menjadi manusia pertama yang syahid di jalan Islam, syahid untuk mempertahankan keyakinannya yang teguh kepada Allah dan RasulNya yang tidak bisa dibeli dan diganti dengan seisi dunia sekalipun.

Sebagian riwayat menyebutkan, kedua tangannya diikat pada seekor kuda (atau dua ekor kuda), begitu juga dengan dua kakinya, diikatkan pada seekor kuda (atau dua ekor kuda). Kemudian Sumayyah dipaksa oleh Abu Jahal untuk kembali kepada agama jahiliahnya, atau diancam akan dibunuh dengan cara yang sangat mengerikan. Sumayyah hanya mengucapkan perkataan tauhid ‘Ahad, Ahad’, bahkan kemudian mencaci-maki Abu Jahal. Maka dua ekor kuda tersebut (atau empat ekor kuda), dipacu dengan keras dan berlari ke arah yang berlawanan. Tubuh Sumayyah terpotong tidak karuan sehingga ia tewas seketika. Namun demikian tampak sesungging senyum di bibirnya yang telah kaku.

Ummu Ammar Ra (Sumayyah Binti Khayyath)

Sumayyah binti Khayyath adalah seorang budak milik Abu Hudzaifah bin Mughirah. Ia dikawinkan tuannya tersebut dengan seorang perantau dari Yaman yang kemudian menetap di Makkah, Yasir bin 'Amir. Abu Hudzaifah memang bersahabat dengan Yasir bin Amir. Dari perkawinannya ini, lahirlah Ammar bin Yasir, salah seorang sahabat yang mempunyai tempat khusus di hati Nabi SAW sehingga Beliau seringkali memujinya.

Sumayyah, atau lebih dikenal dengan nama Ummu Ammar, bersama suami dan anaknya termasuk dalam kelompok yang mula-mula memeluk Islam. Keadaannya sebagai orang miskin dan budak, membawanya kepada penyiksaan kaum kafir Quraisy karena pilihannya tersebut. Sumayyah ditimbun dengan pasir yang panas, kemudian dicambuk secara bengis dengan sepenuh kekuatan, tetapi yang keluar dari mulutnya hanya perkataan ‘Ahad, Ahad’, seperti halnya yang dilakukan oleh Bilal.

Penyiksaan yang dilakukan Abu Jahal di hadapan suami dan anaknya itu dimaksudkan agar mereka menjadi takut dan iba, sehingga melepaskan kembali keislamannya. Tetapi keteguhan iman dan kesabaran yang telah merasuk ke dalam jiwa, tidak menjadikan Sumayyah goyah, bahkan kata-kata tauhid itu terus keluar dari mulutnya. Dan terkadang ia melakukan cacian terhadap berhala-berhala orang Quraisy sesaat, kemudian kembali berucap, “Ahad-ahad!!”

Berhari-hari penyiksaan tersebut berlangsung, pernah suatu saat Abu Bakar RA melewatinya, dan bermaksud menebus atau membeli mereka, tetapi Abu Jahal menolaknya, dan bertekad menyiksa keluarga Yasir ini sampai mati jika tidak kembali kepada agama jahiliahnya. Ketika Rasulullah SAW melewati keluarga yang sedang disiksa olehAbu Jahal ini, Beliau bersabda, "Bersabarlah, wahai keluarga Yasir, janji Allah untuk kalian adalah surga….Ya Allah, ampunilah keluarga Yasir, karena mereka telah berbuat…"

Abu Jahal makin meningkatkan siksaannya, bahkan mengancamnya dengan kematian, tetapi Sumayyah justru berkata, "Mampuslah engkau wahai musuh Allah, karena Rasulullah (SAW) telah menjanjikan aku dengan surga, aku lebih memilih mati daripada melihat tampangmu…"

Makin mendidih saja kemarahan Abu Jahal oleh sikap perempuan budak tersebut, apalagi ia malah merendahkan harga dirinya dan tidak mau tunduk. Tanpa sadar tangannya meraih tombak yang dibawa budaknya, dan menghunjamkannya ke tubuh Sumayyah, hingga tembus dari selangkangannya hingga punggungnya. Senyum mengembang mengiring lepasnya nyawa dari jasad Sumayyah. Ia menjadi manusia pertama yang syahid di jalan Islam, syahid untuk mempertahankan keyakinannya yang teguh kepada Allah dan RasulNya yang tidak bisa dibeli dan diganti dengan seisi dunia sekalipun. Sebagian riwayat menyebutkan, kedua tangannya diikat pada seekor kuda (atau dua ekor kuda), begitu juga dengan dua kakinya, diikatkan pada seekor kuda (atau dua ekor kuda). Kemudian Sumayyah dipaksa oleh Abu Jahal untuk kembali kepada agama jahiliahnya, atau diancam akan dibunuh dengan cara yang sangat mengerikan. Sumayyah hanya mengucapkan perkataan tauhid ‘Ahad, Ahad’, bahkan kemudian mencaci-maki Abu Jahal. Maka dua ekor kuda tersebut (atau empat ekor kuda), dipacu dengan keras dan berlari ke arah yang berlawanan. Tubuh Sumayyah terpotong tidak karuan sehingga ia tewas seketika. Namun demikian tampak sesungging senyum di bibirnya yang telah kaku.

Baca Juga Kisah Sahabat Nabi :
Sa’ad bin Ubadah RA
Haram Bin Milhan RA
Malik Bin Sinan RA
Amir Bin Fuhairah RA
Jabir bin Abdullah RA

Sa’ad bin Mu’adz RA

Sa’ad bin Mu’adz berjuluk Abu Amr. Ia seorang pemuda Aus yang dikenal jago menunggang kuda, dan pemberani. Ayahnya adalah Mu’adz bin An-Nu’man dan ibunya bernama Kabsyah bintu Rafi’. Adapun istri Sa’ad adalah Hindun binti Sammak, bibi Usaid bin Hudhair. Sa’ad adalah pemimpin Bani Abdul Asyhal.

Pada saat duta Islam, Mush’ab bin Umair, berdakwah di Yatsrib (Madinah) dan berhasil mengajak beberapa orang untuk beriman kepada Rasulullah SAW, Sa’ad tercengang. Ia langsung memerintahkan sahabat karibnya, Usaid bin Hudhair, untuk menemui Mush’ab yang ketika itu bersama As’ad bin Zurarah (anak bibi Sa’ad bin Mu’adz) agar mau menghentikan aksinya.

Namun, sesampai ditempat Mush’ab dan setelah berdialog dengannya, Usaid malah menyatakan keislamannya. Ia pun segera pulang untuk menemui Sa’ad dengan harapan agar Sa’ad juga dapat mengikuti jejaknya.

Melihat keadaan Usaid yang raut wajahnya sudah tidak seperti ketika perginya, Sa’ad bertanya, “Apa yang terjadi pada dirimu?”

Usaid menjawab, “Aku sudah berbicara dengan dua orang tersebut. Demi Allah, aku tidak melihat keduanya tidak mempunyai kekuatan. Aku sudah melarang mereka berdua, lalu keduanya berkata, ‘Kami akan melakukan sesuatu yang engkau sukai. Aku sudah diberi tahu bahwa Bani Haritsah sudah menemui As’ad bin Zurarah untuk membunuhnya, karena mereka tahu bahwa anak bibimu telah menghinamu.”

Mendengar hal itu, Sa’ad bangkit dengan marah, mengambil tombaknya lalu menghampiri As’ad bin Zurarah dan Mush’ab. Namun, tatkala Sa’ad melihat keduanya yang duduk tenang-tenang saja, barulah ia menyadari bahwa Usaid bermaksud mengakalinya agar dia bisa mendengar apa yang disampaikan mereka berdua.

Dengan wajah cemberut Sa’ad berdiri di hadapan mereka berdua, lalu berkata kepada As’ad bin Zurarah, “Demi Allah wahai Abu Umamah, kalau bukan karena ada hubungan kekerabatan antara kita, aku tidak menginginkan hal ini terjadi. Engkau datang ke perkampungan kami dengan membawa sesuatu yang tidak kami sukai.”

Mush’ab berkata kepada Sa’ad, “Bagaimana jika engkau duduk dan mendengar apa yang aku sampaikan? Jika engkau suka terhadap sesuatu yang aku sampaikan, maka engkau bisa menerimanya. Dan jika engkau tidak menyukainya, maka kami akan menjauhkan darimu apa yang tidak kau sukai.”

“Engkau cukup adil” kata Sa’ad, sembari menancapkan tombaknya, dan duduk bersama keduanya.

Lalu Mush’ab menjelaskan Islam kepadanya dan membacakan Alquran dari permulaan surat Az-Zukhruf.

Kemudian Sa’ad bertanya, “Apa yang kalian lakukan tatkala dahulu kalian masuk Islam?”

“Hendaklah engkau mandi, bersuci dan mempersaksikan dengan kesaksian yang benar,” jawab Mush’ab.

Maka Sa’ad segera mandi dan bersyahadat, kemudian shalat dua rakaat. Ia memungut tombaknya, lalu kembali menuju balairung, yang di sana ada kaumnya. Setelah berdiri di hadapan mereka, ia berkata, “Wahai Bani Abdul Asyhal, apa pendapat kalian tentang diriku di tengah kalian?”

Mereka menjawab, “Engkau adalah pemimpin kami, orang yang paling kami ikuti pendapatnya di antara kami dan orang yang paling kami percaya.”

Sa’ad melanjutkan, “Tak seorang pun diantara kalian, baik laki-laki maupun wanita dilarang berbicara denganku sebelum kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Belum sampai petang hari, tak seorang pun, baik laki-laki maupun perempuan di Bani Abdul Asyhal melainkan sudah menjadi Muslim dan Muslimah.

Sesudah itu, jalan hidup Sa’ad berubah. Mengabdi dan berjuang untuk Islam adalah pilihannya. Dalam waktu yang singkat ia telah mengukir banyak momen-momen kepahlawanan yang luar biasa.

Saat Rasulullah SAW harus perang di Badar, Sa’ad yang mewakili orang-orang Anshar memberikan sikap dan dukungan yang tegas. Pada Perang Uhud yang bergejolak, Sa’ad menjadi tameng Rasulullah, tegak berdiri di sisi beliau. Di Khandaq, ia turut mempertahankan Madinah mati-matian. Ia terluka terkena panah Hibban bin Qais Al-Araqah. Kemudian Rasulullah memerintahkan untuk merawat Sa’ad di kemah Rufaidhah agar memudahkan beliau untuk menjenguknya.

Pada saat itu Madinah dikepung dan tiba-tiba orang-orang Yahudi dari kaum Bani Quraidzah berkhianat. Mereka turut bersekutu dengan Quraisy, padahal sebelumnya telah melakukan perjanjian dengan Rasulullah SAW. Setelah kemenangan di Perang Khandaq, Rasulullah langsung mengadakan pengepungan terhadap perkampungan Bani Quraidzah yang telah berkhianat.

Setelah 25 hari, akhirnya orang-orang Yahudi Bani Quraidzah menyerah. Mereka meminta dihakimi oleh orang dari kaumnya sendiri. Maka Sa’ad bin Mu’adz yang disepakati dan Rasulullah menyetujui. Di tengah rasa sakit karena luka yang terus memburuk, Sa’ad berdoa , “Ya Allah, janganlah Engkau cabut nyawaku, sampai aku menyelesaikan urusanku dengan Bani Quraidzah.”

Sa’ad bersikap tegas, ia memutuskan. “Hukumannya adalah para laki-laki dewasa dibunuh, para wanita dijadikan tahanan dan harta mereka dibagi rata!”

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya engkau telah menghukumi dengan apa yang ada di atas langit.”

Sesudah itu, hari-hari Sa’ad adalah penantian menuju keabadian. Ia memohon agar luka-luka itu mengantarkannya kepada kesyahidan. Ia kerap dijenguk oleh Rasulullah. Beliau berdoa untuk Sa’ad. “Ya Allah, sesungguhnya Sa’ad ini telah berjuang di jalan-Mu. Maka terimalah ruhnya dengan penerimaan yang sebaik-baiknya.”

Sa’ad ingin hari terakhir yang dilihatnya adalah wajah Rasulullah yang mulia. Ia pun mengucap salam. “Assalamu’alaika, ya Rasulullah. Ketahuilah bahwa saya mengakui bahwa Anda adalah Rasulullah.”

Rasulullah memandang wajah Sa’ad lalu berkata, “Kebahagiaan bagimu, wahai Abu Amr!”

Dan Sa’ad pun pergi menuju keabadian, menghadap Ilahi. Orang-orang berduka cita dan berkabung. Rasulullah SAW bersabda, “Sungguh, kematian Sa’ad telah membuat Arys Allah terguncang.”

Salman Al Farisi RA

Dari Abdullah bin Abbas Radhiallaahu ‘anhu berkata, “Salman al-Farisi menceritakan biografinya kepadaku dari mulutnya sendiri. Dia berkata, ‘Aku seorang lelaki Persia dari Isfahan, warga suatu desa bernama Jai. Ayahku adalah seorang tokoh masyarakat yang mengerti pertanian. Aku sendiri yang paling disayangi ayahku dari semua makhluk Allah. Karena sangat sayangnya aku tidak diperbolehkan keluar rumahnya, aku diminta senantiasa berada di samping perapian, aku seperti seorang budak saja.

Aku dilahirkan dan membaktikan diri di lingkungan Majusi, sehingga aku sebagai penjaga api yang bertanggung jawab atas nyalanya api dan tidak membiarkannya padam.

Ayahku memiliki tanah perahan yang luas. Pada suatu hari beliau sibuk mengurus bangunan. Beliau berkata kepadaku, ‘Wahai anakku, hari ini aku sibuk di bangunan, aku tidak sempat mengurus tanah, cobalah engkau pergi ke sana!’ Beliau menyuruhku melakukan beberapa pekerjaan yang harus diselesaikan.

Aku keluar menuju tanah ayahku. Dalam perjalanan aku melewati salah satu gereja Nasrani. Aku mendengar suara mereka yang sedang sembahyang. Aku sendiri tidak mengerti mengapa ayahku mengharuskan aku tinggal di dalam rumah saja (melarang aku keluar rumah).

Tatkala aku melewati gereja mereka, dan aku mendengar suara mereka sedang shalat maka aku masuk ke dalam gereja itu untuk mengetahui apa yang sedang mereka lakukan?

Begitu aku melihat mereka, aku kagum dengan shalat mereka, dan aku ingin mengetahui peribadatan mereka. Aku berkata dalam hati, ‘Demi Allah, ini lebih baik dari agama yang kita anut selama ini.’

Demi Allah, aku tidak beranjak dari mereka sampai matahari terbenam. Aku tidak jadi pergi ke tanah milik ayahku. Aku bertanya kepada mereka, ‘Dari mana asal usul agama ini?’ Mereka menjawab, ‘Dari Syam (Syiria).’

Kemudian aku pulang ke rumah ayahku. Padahal ayahku telah mengutus seseorang untuk mencariku. Sementara aku tidak mengerjakan tugas dari ayahku sama sekali. Maka ketika aku telah bertemu ayahku, beliau bertanya, ‘Anakku, ke mana saja kamu pergi?

Bukankah aku telah berpesan kepadamu untuk mengerjakan apa yang aku perintahkan itu?’ Aku menjawab, ‘Ayah, aku lewat pada suatu kaum yang sedang sembahyang di dalam gereja, ketika aku melihat ajaran agama mereka aku kagum. Demi Allah, aku tidak beranjak dari tempat itu sampai matahari terbenam.’

Ayahku menjawab, ‘Wahai anakku, tidak ada kebaikan sedikitpun dalam agama itu. Agamamu dan agama ayahmu lebih bagus dari agama itu.’ Aku membantah, ‘Demi Allah, sekali-kali tidak! Agama itu lebih bagus dari agama kita.’ Kemudian ayahku khawatir dengan diriku, sehingga beliau merantai kakiku, dan aku dipenjara di dalam rumahnya.

Suatu hari ada serombongan orang dari agama Nasrani diutus menemuiku, maka aku sampaikan kepada mereka, ‘Jika ada rombongan dari Syiria terdiri dari para pedagang Nasrani, maka supaya aku diberitahu.’ Aku juga meminta agar apabila para pedagang itu telah selesai urusannya dan akan kembali ke negrinya, memberiku izin bisa menemui mereka.

Ketika para pedagang itu hendak kembali ke negrinya, mereka memberitahu kepadaku. Kemudian rantai besi yang mengikat kakiku aku lepas, lantas aku pergi bersama mereka sehingga aku tiba di Syiria.

Sesampainya aku di Syiria, aku bertanya, ‘Siapakah orang yang ahli agama di sini?’ Mereka menjawab, ‘Uskup (pendeta) yang tinggal di gereja.’ Kemudian aku menemuinya. Kemudian aku berkata kepada pendeta itu, ‘Aku sangat mencintai agama ini, dan aku ingin tinggal bersamamu, aku akan membantumu di gerejamu, agar aku dapat belajar denganmu dan sembahyang bersama-sama kamu.’ Pendeta itu menjawab, ‘Silahkan.’

Maka akupun tinggal bersamanya.

Ternyata pendeta itu seorang yang jahat, dia menyuruh dan menganjurkan umat untuk bersedekah, namun setelah sedekah itu terkumpul dan diserahkan kepadanya, ia menyimpan sedekah tersebut untuk dirinya sendiri, tidak diberikan kepada orang-orang miskin, sehingga terkumpullah 7 peti emas dan perak.

Aku sangat benci perbuatan pendeta itu. Kemudian dia meninggal. Orang-orang Nasrani pun berkumpul untuk mengebumikannya. Ketika itu aku sampaikan kepada khalayak, ‘Sebenarnya, pendeta ini adalah seorang yang berperangai buruk, menyuruh dan menganjurkan kalian untuk bersedekah. Tetapi jika sedekah itu telah terkumpul, dia menyimpannya untuk dirinya sendiri, tidak memberikannya kepada orang-orang miskin barang sedikitpun.’

Mereka pun mempertanyakan apa yang aku sampaikan, ‘Apa buktinya bahwa kamu mengetahui akan hal itu?’ Aku menjawab, ‘Marilah aku tunjukkan kepada kalian simpanannya itu.’ Mereka berkata, Baik, tunjukkan simpanan tersebut kepada kami.’

Lalu Aku memperlihatkan tempat penyimpanan sedekah itu. Kemudian mereka mengeluarkan sebanyak 7 peti yang penuh berisi emas dan perak. Setelah mereka menyaksikan betapa banyaknya simpanan pendeta itu, mereka berkata, ‘Demi Allah, selamanya kami tidak akan menguburnya.’ Kemudian mereka menyalib pendeta itu pada tiang dan melempari jasadnya dengan batu.

Kemudian mereka mengangkat orang lain sebagai penggantinya. Aku tidak pernah melihat seseorang yang tidak mengerjakan shalat lima waktu (bukan seorang muslim) yang lebih bagus dari dia, dia sangat zuhud, sangat mencintai akhirat, dan selalu beribadah siang malam. Maka aku pun sangat mencintainya dengan cinta yang tidak pernah aku berikan kepada selainnya. Aku tinggal bersamanya beberapa waktu.

Kemudian ketika kematiannya menjelang, aku berkata kepadanya, ‘Wahai Fulan, selama ini aku hidup bersamamu, dan aku sangat mencintaimu, belum pernah ada seorangpun yang aku cintai seperti cintaku kepadamu, padahal sebagaimana kamu lihat, telah menghampirimu saat berlakunya taqdir Allah, kepada siapakah aku ini engkau wasiatkan, apa yang engkau perintahkan kepadaku?’

Orang itu berkata, ‘Wahai anakku, demi Allah, sekarang ini aku sudah tidak tahu lagi siapa yang mempunyai keyakinan seperti aku.

Orang-orang yang aku kenal telah mati, dan masyarakatpun mengganti ajaran yang benar dan meninggalkannya sebagiannya, kecuali seorang yang tinggal di Mosul (kota di Irak), yakni Fulan, dia memegang keyakinan seperti aku ini, temuilah ia di sana!’

Lalu tatkala ia telah wafat, aku berangkat untuk menemui seseorang di Mosul. Aku berkata, ‘Wahai Fulan, sesungguhnya si Fulan telah mewasiatkan kepadaku menjelang kematiannya agar aku menemuimu, dia memberitahuku bahwa engkau memiliki keyakinan sebagaimana dia.’

Kemudian orang yang kutemui itu berkata, ‘Silahkan tinggal bersamaku. Aku pun hidup bersamanya.’ Aku dapati ia sangat baik sebagaimana yang diterangkan Si Fulan kepadaku. Namun ia pun dihampiri kematian. Dan ketika kematian menjelang, aku bertanya kepadanya, ‘Wahai Fulan, ketika itu si Fulan mewasiatkan aku kepadamu dan agar aku menemuimu, kini taqdir Allah akan berlaku atasmu sebagaimana engkau maklumi, oleh karena itu kepada siapakah aku ini hendak engkau wasiatkan? Dan apa yang engkau perintahkan kepadaku?’

Orang itu berkata, ‘Wahai anakku, Demi Allah, tak ada seorangpun sepengetahuanku yang seperti aku kecuali seorang di Nashibin (kota di Aljazair), yakni Fulan. Temuilah ia!’

Maka setelah beliau wafat, aku menemui seseorang yang di Nashibin itu. Setelah aku bertemu dengannya, aku menceritakan keadaanku dan apa yang di perintahkan si Fulan kepadaku.

Orang itu berkata, ‘Silahkan tinggal bersamaku.’ Sekarang aku mulai hidup bersamanya. Aku dapati ia benar-benar seperti si Fulan yang aku pernah hidup bersamanya. Aku tinggal bersama seseorang yang sangat baik.

Namun, kematian hampir datang menjemputnya. Dan di ambang kematiannya aku berkata, ‘Wahai Fulan, Ketika itu si Fulan mewasiatkan aku kepada Fulan, dan kemarin Fulan mewasiatkan aku kepadamu? Sepeninggalmu nanti, kepada siapakah aku akan engkau wasiatkan? Dan apa yang akan engkau perintahkan kepadaku?’

Orang itu berkata, ‘Wahai anakku, Demi Allah, tidak ada seorangpun yang aku kenal sehingga aku perintahkan kamu untuk mendatanginya kecuali seseorang yang tinggal di Amuria (kota di Romawi). Orang itu menganut keyakinan sebagaimana yang kita anut, jika kamu berkenan, silahkan mendatanginya. Dia pun menganut sebagaimana yang selama ini kami pegang.’

Setelah seseorang yang baik itu meninggal dunia, aku pergi menuju Amuria. Aku menceritakan perihal keadaanku kepadanya. Dia berkata, ‘Silahkan tinggal bersamaku.’

Akupun hidup bersama seseorang yang ditunjuk oleh kawannya yang sekeyakinan.

Di tempat orang itu, aku bekerja, sehingga aku memiliki beberapa ekor sapi dan kambing. Kemudian taqdir Allah pun berlaku untuknya. Ketika itu aku berkata, ‘Wahai Fulan, selama ini aku hidup bersama si Fulan, kemudian dia mewasiatkan aku untuk menemui Si Fulan, kemudian Si Fulan juga mewasiatkan aku agar menemui Fulan, kemudian Fulan mewasiatkan aku untuk menemuimu, sekarang kepada siapakah aku ini akan engkau wasiatkan?dan apa yang akan engkau perintahkan kepadaku?’

Orang itu berkata, ‘Wahai anakku, demi Allah, aku tidak mengetahui seorangpun yang akan aku perintahkan kamu untuk mendatanginya. Akan tetapi telah hampir tiba waktu munculnya seorang nabi, dia diutus dengan membawa ajaran nabi Ibrahim. Nabi itu akan keluar diusir dari suatu tempat di Arab kemudian berhijrah menuju daerah antara dua perbukitan. Di antara dua bukit itu tumbuh pohon-pohon kurma. Pada diri nabi itu terdapat tanda-tanda yang tidak dapat disembunyikan, dia mau makan hadiah tetapi tidak mau menerima sedekah, di antara kedua bahunya terdapat tanda cincin kenabian. Jika engkau bisa menuju daerah itu, berangkatlah ke sana!’

Kemudian orang inipun meninggal dunia. Dan sepeninggalnya, aku masih tinggal di Amuria sesuai dengan yang dikehendaki Allah.

Pada suatu hari, lewat di hadapanku serombongan orang dari Kalb, mereka adalah pedagang. Aku berkata kepada para pedagang itu, ‘Bisakah kalian membawaku menuju tanah Arab dengan imbalan sapi dan kambing-kambingku?’ Mereka menjawab, ‘Ya.’ Lalu aku memberikan ternakku kepada mereka.

Mereka membawaku, namun ketika tiba di Wadil Qura, mereka menzha-limiku, dengan menjualku sebagai budak ke tangan seorang Yahudi.

Kini aku tinggal di tempat seorang Yahudi. Aku melihat pohon-pohon kurma, aku berharap, mudah-mudahan ini daerah sebagaimana yang disebutkan si Fulan kepadaku. Aku tidak biasa hidup bebas.

Ketika aku berada di samping orang Yahudi itu, keponakannya datang dari Madinah dari Bani Quraidzah. Ia membeliku darinya. Kemudian membawaku ke Madinah. Begitu aku tiba di Madinah aku segera tahu berdasarkan apa yang disebutkan si Fulan kepadaku. Sekarang aku tinggal di Madinah.

Allah mengutus seorang RasulNya, dia telah tinggal di Makkah beberapa lama, yang aku sendiri tidak pernah mendengar ceritanya karena kesibukanku sebagai seorang budak. Kemudian Rasul itu berhijrah ke Madinah. Demi Allah, ketika aku berada di puncak pohon kurma majikanku karena aku bekerja di perkebunan, sementara majikanku duduk, tiba-tiba salah seorang keponakannya datang menghampiri, kemudian berkata, ‘Fulan,

Celakalah Bani Qailah (suku Aus dan Khazraj). Mereka kini sedang berkumpul di Quba’ menyambut seseorang yang datang dari Makkah pada hari ini. Mereka percaya bahwa orang itu Nabi.’

Tatkala aku mendengar pembicaraannya, aku gemetar sehingga aku khawatir jatuh menimpa majikanku. Kemudian aku turun dari pohon, dan bertanya kepada keponakan majikanku, ‘Apa tadi yang engkau katakan? Apa tadi yang engkau katakan?’ Majikanku sangat marah, dia memukulku dengan pukulan keras. Kemudian berkata, ‘Apa urusanmu menanyakan hal ini, Lanjutkan pekerjaanmu.’

Aku menjawab, ‘Tidak ada maksud apa-apa, aku hanya ingin mencari kejelasan terhadap apa yang dikatakan. Padahal sebenarnya saya telah memiliki beberapa informasi mengenai akan diutusnya seorang nabi itu.’

Pada sore hari, aku mengambil sejumlah bekal kemudian aku menuju Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam, ketika itu beliau sedang berada di Quba, lalu aku menemui beliau. Aku berkata, ‘Telah sampai kepadaku kabar bahwasanya engkau adalah seorang yang shalih, engkau memiliki beberapa orang sahabat yang dianggap asing dan miskin. Aku membawa sedikit sedekah, dan menurutku kalian lebih berhak menerima sedekahku ini daripada orang lain.’

Aku pun menyerahkan sedekah tersebut kepada beliau, kemudian Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam bersabda kepada para sahabat, ‘Silahkan kalian makan, sementara beliau tidak menyentuh sedekah itu dan tidak memakannya. Aku berkata, ‘Ini satu tanda kenabiannya.’

Aku pulang meninggalkan beliau untuk mengumpulkan sesuatu. Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam pun berpindah ke Madinah. Kemudian pada suatu hari, aku mendatangi beliau sambil berkata, ‘Aku memperhatikanmu tidak memakan pemberian berupa sedekah, sedangkan ini merupakan hadiah sebagai penghormatanku kepada engkau.’

Kemudian Rasulullah makan sebagian dari hadiah pemberianku dan memerintahkan para sahabat untuk memakannya, mereka pun makan hadiahku itu. Aku berkata dalam hati, ‘Inilah tanda kenabian yang kedua.’

Selanjutnya aku menemui beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam saat beliau berada di kuburan Baqi’ al-Gharqad, beliau sedang mengantarkan jenazah salah seorang sahabat, beliau mengenakan dua lembar kain, ketika itu beliau sedang duduk di antara para sahabat, aku mengucapkan salam kepada beliau. Kemudian aku berputar memperhatikan punggung beliau, adakah aku akan melihat cincin yang disebutkan Si Fulan kepadaku.

Pada saat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatku sedang memperhatikan beliau, beliau mengetahui bahwa aku sedang mencari kejelasan tentang sesuatu ciri kenabian yang disebutkan salah seorang kawanku. Kemudian beliau melepas kain selendang beliau dari punggung, aku berhasil melihat tanda cincin kenabian dan aku yakin bahwa beliau adalah seorang Nabi. Maka aku telungkup di hadapan beliau dan memeluknya seraya menangis.

Rasulullah bersabda kepadaku, ‘Geserlah kemari,’ maka akupun bergeser dan menceritakan perihal keadaanku sebagaimana yang aku ceritakan kepadamu ini wahai Ibnu Abbas. Kemudian para sahabat takjub kepada Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam ketika mendengar cerita perjalanan hidupku itu.”

Salman sibuk bekerja sebagai budak. Dan perbudakan inilah yang menyebabkan Salman terhalang mengikuti perang Badar dan Uhud. “Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam suatu hari bersabda kepadaku, ‘Mintalah kepada majikanmu untuk bebas, wahai Salman!’ Maka majikanku membebaskan aku dengan tebusan 300 pohon kurma yang harus aku tanam untuknya dan 40 uqiyah.

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam mengumpulkan para sahabat dan bersabda, ‘Berilah bantuan kepada saudara kalian ini.’ Mereka pun membantuku dengan memberi pohon (tunas) kurma. Seorang sahabat ada yang memberiku 30 pohon, atau 20 pohon, ada yang 15 pohon, dan ada yang 10 pohon, masing-masing sahabat memberiku pohon kurma sesuai dengan kadar kemampuan mereka, sehingga terkumpul benar-benar 300 pohon.

Setelah terkumpul Rasulullah bersabda kepadaku, ‘Berangkatlah wahai Salman dan tanamlah pohon kurma itu untuk majikanmu, jika telah selesai datanglah kemari aku akan meletakkannya di tanganku.’ Aku pun menanamnya dengan dibantu para sahabat. Setelah selesai aku menghadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam dan memberitahukan perihalku. Kemudian Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam keluar bersamaku menuju kebun yang aku tanami itu. Kami dekatkan pohon (tunas) kurma itu kepada beliau dan Rasulullah pun meletakkannya di tangan beliau. Maka, demi jiwa Salman yang berada di TanganNya, tidak ada sebatang pohon pun yang mati.

Untuk tebusan pohon kurma sudah terpenuhi, aku masih mempunyai tanggungan uang sebesar 40 uqiyah. Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam membawa emas sebesar telur ayam hasil dari rampasan perang. Lantas beliau bersabda, ‘Apa yang telah dilakukan Salman al-Farisi?’ Kemudian aku dipanggil beliau, lalu beliau bersabda, ‘Ambillah emas ini, gunakan untuk melengkapi tebusanmu wahai Salman!’

Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salllam, bagaimana status emas ini bagiku? Rasulullah menjawab, ‘Ambil saja! Insya Allah, Allah Subhanahu wa Ta’ala akan memberi kebaikan kepadanya.’ Kemudian aku menimbang emas itu. Demi jiwa Salman yang berada di TanganNya, berat ukuran emas itu 40 uqiyah. Kemudian aku penuhi tebusan yang harus aku serahkan kepada majikanku, dan aku dimerdekakan.

Setelah itu aku turut serta bersama Rasulullah shallallohu ‘alaihi wasallam dalam perang Khandaq, dan sejak itu tidak ada satu peperangan yang tidak aku ikuti.” [1]

PELAJARAN YANG DAPAT DIPETIK:
-Di antara hasil/buah mentaati kedua orang tua adalah dicintai orang.
-Masuk penjara, cekal, rantai adalah cara musuh Islam menghalangi kaum muslimin dalam menegakkan agama Allah.
-Jika gigih memperjuangkan keimanan maka urusan dunia terasa ringan.
-Berpegang pada keimanan lebih kokoh dari seluruh rayuan.
-Hendaknya seorang mukmin senantiasa siap mental menghadapi segala kemungkinan.
-Terkadang orang-orang jahat mengenakan pakaian/menampakkan diri sebagai orang baik-baik.
-Jalan mencapai ilmu tidak bisa ditempuh melainkan dengan senantiasa dekat dengan orang yang berilmu.
-Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Allah memberikan jalan keluar dari problematika hidupnya.
-Takaran keimanan seseorang adalah mencintai dan membenci karena Allah.
-Di antara akhlak terpuji para nabi adalah mau mendengarkan seseorang yang sedang berbicara dengan baik.
-Seorang pemimpin hendaknya senantiasa memantau kondisi bawahannya.
-Diperbolehkan membeli budak dari tawanan perang, menghadiahkan dan memerdekakannya.
-Saling tolong menolong adalah gambaran dari wujud hidup bermasyarakat.

[1] HR. Ahmad, 5/441; ath-Thabrani dalam al-Kabir (6/222); Ibnu Sa’ad dalam ath-Thabaqat, 4/75; al-Baihaqi dalam al-Kubra, 10/323.

Sumber: kisahmuslim.com 

Baca Juga :
Seorang Penanya Hisab Amal
Ashim bin Tsabit al Anshari RA
Khalid bin Sa'id bin Ash RA
Abdurrahman Bin Auf RA
Rafi’ bin Khadij RA

Umair bin Abi Waqqash RA

Umair bin Abi Waqqash RA telah memeluk Islam pada masa permulaan, sebagaimana kakaknya Sa'ad bin Waqqash RA, hanya saja ia masih anak-anak. Ketika pasukan siap diberangkatkan ke Badar, ia berlarian kesana kemari di antara anggota pasukan lainnya. Sa'ad yang melihat kelakuan adiknya ini, menanyakan sebabnya ia berbuat seperti itu, Umair menjawab, "Saya khawatir, jika Rasulullah SAW mengetahui keberadaan saya di sini, beliau akan melarang saya ikut dalam pertempuran ini, karena saya masih kecil. Padahal saya sangat berharap bisa menyertainya, dan saya juga berharap akan memperoleh syahid…!"

Kekhawatirannya menjadi kenyataan, Rasulullah SAW mengetahui keberadaannya, dan melarangnya ikut karena masih kecil. Umair pun menangis pilu, padahal semangatnya telah memuncak untuk bisa bertempur membela panji-panji keislaman dan keimanan. Dengan tangis kesedihan yang tidak bisa ditahan, ia memohon kepada Nabi SAW untuk mengijinkannya ikut. Melihat semangat dan tangis kesedihannya, akhirnya beliaupun mengijinkannya menyertai pasukan perang Badar ini. Dan Allahpun mengabulkan harapannya yang ke dua, ia memperoleh syahid dalam peperangan ini.

Baca Juga Kisah Sahabat Nabi :
Abbas bin Abdul Muthalib RA
Abu Lubabah RA
Amr bin Jamuh RA
Utusan Bani Harits Bin Ka'ab
Abdullah Bin Rawahah RA

Wahab bin Qabus RA

Wahab bin Qabus RA telah memeluk Islam pada masa-masa awal ketika di Makkah, tetapi Nabi SAW memerintahkannya untuk kembali ke kaumnya sampai keadaan cukup aman bagi pemeluk Islam. Ia tinggal di perkampungan di tengah padang pasir dan bekerja menggembala kambing. Suatu hari ia memutuskan untuk menemui Nabi SAW di Madinah. Ia berangkat bersama anak saudaranya dan membawa serta sekumpulan kambing peliharaannya.

Tiba di Madinah ia tidak menemukan Nabi SAW, orang-orang memberitahukan kalau beliau dan sahabat-sahabatnya sedang berada di Uhud menghadapi pertempuran melawan orang kafir Quraisy. Mendengar kabar ini, ia meninggalkan kambing-kambingnya di Madinah dan berangkat menuju Uhud dengan persenjataan lengkap. Wahab tiba di medan pertempuran Uhud ketika kaum muslimin dalam keadaan terdesak. Ia melihat Nabi sedang dikepung sekumpulan musuh yang siap menyerang. Ia mendengar beliau berseru, "Sesungguhnya siapa saja yang bisa mencerai-beraikan musuh ini, ia akan menjadi temanku di surga."

Mendengar seruan Nabi SAW itu, Wahab langsung menghambur menerjang musuh tanpa sedikitpun rasa takut. Sekelompok orang kafir yang mencoba menghadangnya dapat dikalahkan. Datang sekelompok yang lain, ia menyerbu tanpa gentar menyabetkan pedangnya sehingga pengepungan terhadap Nabi SAW menjadi longgar. Datang sekelompok lagi menghadang serangannya, dan Wahab tetap melakukan perlawanan dengan sengit. Tetapi keadaan yang tidak berimbang akhirnya membuat patah perlawanannya dan ia gugur karena pukulan dan sabetan pedang yang bertubi-tubi menghantam tubunya.

Usai peperangan, Rasulullah SAW berdiri di dekat jasad Wahab yang penuh luka, sambil bersabda, "Wahai Wahab, sesungguhnya kamu telah menyenangkan hatiku, semoga Allah ridha kepadamu, karena sesungguhnya aku ridha kepadamu."

Nabi SAW memakamkan sendiri jenazah Wahab, walaupun beliau mengalami luka-luka yang cukup parah dalam pertempuran tersebut.

Baca Juga Kisah Sahabat Nabi :
Usaid bin Hudhair RA
Nu'man bin Muqarrin RA
Shuhaib bin Sinan RA
Hathib bin Abi Balta'ah RA
Anas bin Abu Martsad al Ghanawi RA

Said Bin Zaid RA