Sunday, March 5, 2017

Saudah binti Zam'ah RA, Ummul Mukminin

Saudah binti Zam'ah bin Qais sebelumnya diperistri oleh Sakran bin Amar RA, salah seorang sahabat Nabi SAW lainnya. Mereka berdua telah memeluk Islam pada masa awal ketika di Makkah. Karena kerasnya siksaan dan halangan yang dilakukan oleh kaum Quraisy, mereka berdua hijrah ke Habasyah bersama beberapa sahabat lainnya. Suami Saudah meninggal pada tahun 10 kenabian, beberapa hari sebelum meninggalnya Khadijah RA, ketika masih berada di Habasyah. Sebagian riwayat menyebutkan Sakran telah kembali ke Makkah, kemudian meninggal.

Beberapa bulan setelah wafatnya Khadijah, Nabi SAW menikahinya, inilah pernikahan pertama beliau setelah Khadijah wafat. Tetapi sebagian riwayat menyebutkan, Nabi SAW terlebih dahulu menikah dengan Aisyah, walau saat itu belum berkumpul bersama Nabi SAW.

Ketika dinikahi Nabi SAW, Saudah sudah agak tua dan telah berkurang kecantikannya, badannya agak gemuk. Karena itu ia menjadi istri Nabi yang paling akrab dengan Aisyah, karena tidak ada sesuatu alasan yang bisa membuatnya dicemburui oleh Aisyah, bahkan seringkali Saudah memberikan gilirannya dikunjungi Nabi SAW kepada Aisyah. Keakraban mereka ini kadang terjadi ketika Nabi SAW berada di antara mereka.

Suatu ketika Nabi SAW datang ketika Aisyah sedang bersama Saudah, beliau duduk di antara mereka berdua. Aisyah bangkit untuk membuatkan kue khazirah, kue dari bahan tepung dan susu. Setelah siap, ia menghidangkannya untuk Rasulullah SAW. Aisyah tahu kalau Saudah tidak suka dengan kue khazirah, tetapi justru itu ia berkata setengah memaksa kepada Saudah, "Engkau harus memakan kue ini, kalau tidak, aku akan mengolesi wajahmu dengan khazirah!"

Saudah menolak mati-matian karena memang ia tidak suka. Aisyah terus merajuk dan akhirnya mengoleskan kue itu ke wajah Saudah. Melihat hal ini, Nabi SAW merendahkan kedua lutut dan memberi isyarat kepada Saudah untuk menuruti permintaan Aisyah. Tetapi belum sempat Saudah melakukannya, Aisyah mengambil sepotong kharijah dan mengoleskannya ke wajahnya sendiri. Nabi SAW tersenyum geli melihat wajah dua istrinya yang berlumuran tepung, Aisyah dan Saudah ikut tertawa karenanya.

Di waktu senggangnya, Nabi SAW menyibukkan diri dengan shalat sunnah. Saudah sangat senang ikut shalat di belakang beliau, walau tidak diperintah mengikutinya. Pernah terjadi, ketika beliau shalat dengan ruku yang sangat panjang, hidungnya mengeluarkan darah. Mungkin disebabkan oleh badannya yang terlalu gemuk.

Saudah wafat pada tahun 54 atau 55 hijriah, sebagian riwayat menyebutkan, ia wafat pada akhir kekhalifahan Umar bin Khaththab RA.

Baca Juga Kisah Sahabat Nabi :
Usaid bin Hudhair RA
Ummul Mukminin Zainab binti Jahsy RA
Sa'd bin Khaitsamah RA dan Khaitsamah bin Harits RA
Suraqah bin Malik bin Ju'syum RA
Sa'd bin Rabi' RA

Aisyah binti Abu Bakar RA, Ummul Mukminin

Aisyah binti Abu Bakar RA merupakan istri yang paling dicintai Nabi SAW setelah Khadijah RA, dan satu-satunya wanita yang dinikahi Nabi SAW dalam keadaan gadis. Ia mendapat panggilan kesayangan dari Nabi SAW, Khumaira, artinya, yang pipinya kemerah-merahan. Ia adalah seorang wanita yang cerdas, sehingga setelah Nabi SAW wafat, banyak sahabat yang bertanya kepada Aisyah tentang berbagai permasalahan.

Aisyah dinikahi Nabi SAW ketika ia masih berusia 6 tahun di Makkah, dan mulai berkumpul dengan beliau ketika berusia 9 tahun di Madinah. Riwayat lainnya menyebutkan, ia dinikahi Nabi SAW pada usia 9 tahun, dan berkumpul dengan beliau pada usia 11 tahun. Ketika Nabi SAW wafat, Aisyah baru berusia 18 tahun. Ia lahir pada tahun ke 4 kenabian, dan wafat pada usia 66 tahun, malam selasa tanggal 17 Ramadhan tahun 57 Hijriah.

Awal mula pernikahan ini, adalah ketika Khaulah binti Hakim menemui Nabi SAW beberapa waktu setelah meninggalnya Khadijah RA. Ia menanyakan kesediaan Nabi SAW untuk menikah lagi, dan ia memberikan pandangan, jika janda, adalah Saudah binti Zam'ah bin Qais, dan jika gadis, adalah Aisyah binti Abu Bakar. Nabi SAW menyerahkan urusan ini pada Khaulah. Ketika Khaulah menemui orang tua Aisyah, baik ibunya, Ummu Ruman atau bapaknya Abu Bakar sempat terkejut, karena Aisyah masih termasuk keponakan Nabi SAW sendiri.

Khaulah menemui Nabi SAW tentang status Aisyah yang masih keponakan beliau, tetapi beliau menyampaikan bahwa Aisyah tidak termasuk keponakan yang terlarang untuk dinikahinya. Abu Bakar dan Ummu Ruman dengan gembira menerima lamaran Nabi SAW lewat Khaulah ini. Nabi SAW datang ke rumah Abu Bakar, dan beliau dinikahkan sendiri oleh Abu Bakar dengan putrinya, Aisyah.

Beberapa bulan lamanya setelah tinggal di Madinah, Abu Bakar bertanya kepada Nabi SAW, tentang putrinya, "Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak mengajak Aisyah tinggal bersama engkau?"

"Saya tidak mempunyai peralatan rumah tangga..!" Kata Nabi SAW.

Mendengar jawaban beliau itu, Abu Bakar membeli peralatan rumah tangga yang diperlukan, dan membawanya ke rumah Rasulullah SAW. Setelah semuanya siap, Abu Bakar mengantarkan Aisyah ke rumah beliau, di bulan Syawal tahun 1 atau 2 hijriah di waktu dhuha.

Setelah ditinggal wafat Nabi SAW, Aisyah sering memperoleh hadiah uang dari para sahabat, seperti Muawiyah, Abdullah bin Umar, Zubair bin Awwam dll., sehingga sebenarnya ia tidak dalam keadaan kekurangan. Tetapi didikan Nabi SAW atas dirinya tidak sedikitpun berubah. Kemurahan dan kesederhanaan tetap menjadi pola hidupnya sebagaimana yang dijalaninya bersama Nabi SAW, sehingga hidupnya cenderung dalam kekurangan.

Suatu ketika Aisyah memperoleh hadiah dua karung uang yang masing-masing berisi 100.000 dirham. Ia membagi-bagikan uang tersebut kepada fakir miskin dari pagi hingga sore sehingga tidak tersisa sama sekali. Hari itu Aisyah sedang berpuasa, saat masuk waktu maghrib, pembantunya datang membawa makanan untuk berbuka berupa sepotong roti dan minyak zaitun. Ia berkata kepada Aisyah, "Seandainya engkau tadi menyisakan satu dirham, tentu aku bisa menyediakan sepotong daging untuk menu berbuka."

"Mengapa engkau baru mengatakannya sekarang," Kata Aisyah, "Andai tadi engkau mengatakannya, tentu kusisakan satu dirham untukmu."

Suatu ketika Aisyah dalam keadaan puasa, dan hanya memiliki sepotong roti untuk persiapan berbuka. Tiba-tiba datang datang seorang lelaki miskin meminta makanan kepadanya, Aisyahpun menyuruh pembantunya menyerahkan sepotong roti yang ada. Pembantunya berkata, "Jika kita memberikan roti ini, kita tidak memiliki makanan lagi untuk berbuka puasa…!"

“Biarlah, berikan saja roti itu kepadanya." Kata Aisyah.

Keadaan seperti itu seringkali terjadi, sehingga menyulut rasa kasihan dari keponakannya, Abdullah bin Zubair, karena hidupnya yang dalam keadaan miskin dan serba kekurangan. Sebenarnya bukannya tidak ada harta dan uang yang datang, tetapi karena gemarnya bersedekah, sehingga tidak ada yang ‘sempat’ menginap walau hanya semalam, sebagaimana seringkali dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Abdullah bin Zubair adalah anak dari saudaranya, Asma binti Abubakar, dan sejak kecil Aisyah ikut mengasuhnya hingga ia amat sayang pada bibinya tersebut. Atas sikap kedermawanan bibinya ini, ia pernah berkata pada salah seorang sahabat, "Saya harus menghentikan kebiasaan bibi yang selalu banyak bersedekah ini…"

Ucapannya itu ternyata sampai kepada Aisyah, dan ia merasa sangat marah kepada keponakannya, ia berkata, "Mengapa engkau melarang aku bersedekah?"

Sambil berkata seperti itu, ia bersumpah tidak akan berbicara lagi dengan Abdullah bin Zubair. Bagaimanapun juga sikap dermawannya itu adalah didikan dan juga dukungan penuh Rasulullah SAW selama ia hidup bersama beliau, sehingga tak mungkin ia meninggalkan atau merubahnya.

Ibnu Zubair menyadari kesalahannya, ia berusaha untuk meminta maaf dan meminta bibinya membatalkan sumpahnya tersebut, tetapi Aisyah tetap teguh dengan sumpahnya. Beberapa sahabat datang untuk membujuknya membatalkan sumpahnya tetapi tidak berhasil juga. Akhirnya ia meminta bantuan Hasan dan Husain, dua cucu kesayangan Rasulullah SAW. Dengan suatu siasat Ibnu Zubair berhasil menemui Aisyah, Hasan dan Husain mengingatkanmya berulang-ulang akan larangan Nabi SAW memutuskan silaturahmi, sehingga akhirnya Aisyah luluh juga. Ia membebaskan dua orang budaknya sebagai kafarat membatalkan sumpahnya.

Aisyah seringkali menangis jika mengingat masalah ini. Pertama karena ketergesaannya dalam bersumpah, sehingga membawa dampak yang luas bagi orang-orang di sekitarnya, dan kedua karena ia harus melanggar dan membatalkan sumpah yang diucapkannya sendiri. Begitu menyesalnya, sehingga air matanya mengalir deras membasahi kain yang dipakainya.

Aisyah adalah seorang yang sangat cerdas, masa kanak-kanak dan remajanya bisa dikatakan dihabiskan bersama Rasulullah SAW. Namun demikian ia mampu menghafal begitu banyak Hadits dan juga ayat Al Qur'an, padahal saat itu belum populer alat tulis dan buku catatan sebagai sarana penyimpan informasi. Tak kurang dari 2.210 hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah. Tidak hanya itu, ia juga mampu memberikan solusi berbagai permasalahan agama yang mucul kemudian, berdasarkan apa yang dialaminya bersama Rasulullah SAW. Apa yang disabdakan dan dilakukan beliau, menjadi dasar acuannya dalam memberikan solusi. Tak jarang beberapa sahabat terkemuka mendatangi Aisyah untuk meminta pertimbangan.

Baca Juga Kisah Sahabat Nabi :
Suwaid bin Shamit RA
Tsa'labah Bin Abdurrahman RA
Seorang Penanya Hisab Amal
Ja’far bin Abu Thalib RA
Saad bin Abi Waqqash RA

Muawiyah bin Haidah RA

Muawiyah bin Haidah telah bersumpah berkali-kali bahwa ia tidak akan mendatangi Rasulullah SAW dan tidak akan memeluk Islam. Tetapi memang kehendak Allah berbicara lain, percik-percik hidayah menyentuh kalbunya, yang kemudian memaksa langkahnya untuk menemui Nabi SAW. Ia berkata, "Wahai Rasullullah, aku tidak datang kepadamu sampai aku bersumpah dengan sumpah yang lebih banyak daripada jumlah jari tangan, bahwa aku tidak akan mendatangimu dan agamamu. Tetapi kini aku datang juga kepadamu sebagai seseorang yang tidak faham apapun, kecuali apa yang diajarkan Allah kepadaku. Maka aku bertanya kepadamu demi wajah Allah Yang Maha Besar, dengan apakah Tuhan mengutusmu kepada kami?"

Nabi SAW bersabda, “Benar!!”

Kemudian beliau menjelaskan dengan gamblang tentang Islam, kewajiban-kewajibannya, keimanan akan alam akhirat, dan lain-lainnya sehingga akhirnya Muawiyah memeluk Islam pada saat itu juga.

Mundzir bin Uqbah bin Amr RA

Mundzir bin Uqbah bin Amr termasuk dari tujuhpuluh sahabat huffadz Qur’an yang dikirimkan Rasulullah SAW untuk mendakwahkan Islam kepada Penduduk Najd dan sekitarnya. Ketika pimpinan rombongan, Mundzir bin Amr menetapkan untuk berhenti di Bi’r Ma’unah, ia ditugaskan menggembalakan unta-unta bersama Amr bin Umayyah adh Dhamry, hingga mereka berdua sebenarnya lolos dari pembantaian yang dilakukan oleh Amir bin Thufail terhadap sahabat-sahabat yang hafal Al Qur'an tersebut.

Dari tempat penggembalaannya, mereka berdua melihat burung pemakan bangkai melayang di udara di atas perkemahannya, salah seorang berkata, "Sesuatu yang buruk telah terjadi, mari kita kembali ke perkemahan menemui teman-teman kita…"

Mereka bergegas kembali, dan dari kejauhan tampak para sahabat telah terkapar tak bernyawa dikelilingi para pembunuh yang pedangnya masih meneteskan darah. Langkah mereka terhenti, Amr mengajak kembali ke Madinah untuk mengabarkan peristiwa tersebut, tetapi Mundzir tidak setuju, ia berkata, "Cepat atau lambat, berita ini akan sampai juga kepada Nabi SAW, aku tidak rela meninggalkan sahabat kita terbaring nyenyak dalam keadaan ‘nyaman’, tanpa kita berjuang dan syahid bersama mereka, ayolah Amr! Kita maju dan berjuang menyusul mereka yang telah syahid.."

Amr menyambut ajakan Mundzir, mereka berdua menyerang para pembunuh kejam tersebut sehingga terjadi pertempuran hebat yang tidak berimbang. Mundzir akhirnya gugur sebagai syahid, sedangkan Amr ditawan.

Baca Juga Kisah Sahabat Nabi :
Wanita Tua dari Bani Adi bin Najjar
Utsman bin Mazh'un RA
Asma binti Yazid al Anshari RA
Ummul Mukminin, Zainab binti Khuzaimah RA
Abu Aqil al Unaifi RA

Muhayyishah & Huwayyishah R.Huma

Muhayyishah dan Huwayyishah dua orang sahabat yang masih bersaudara, Keduanya adalah putra Mas'ud bin Zaid. Muhayyishah memeluk Islam terlebih dahulu daripada saudaranya yang lebih tua itu.. Suatu ketika ia mendengar Nabi SAW bersabda, "Siapa saja orang Yahudi yang dapat kalian kalahkan, maka bunuhlah dia!"

Suatu ketika Muhayyishah bertemu dengan Ibnu Syaibah, seorang pedagang Yahudi yang bergaul dan berjual beli dengan keluarganya. Teringat akan sabda Nabi SAW, iapun menyerang Ibnu Syaibah dan berhasil membunuhnya. Huwayyishah yang saat itu belum memeluk Islam, langsung memukul saudaranya dan berkata, "Wahai musuh Allah, engkau telah membunuhnya! Ketahuilah, demi Allah, lemak yang ada dalam perutmu bisa jadi berasal dari hartanya."

Mendengar penuturan saudaranya ini, Muhayyishah dengan tegas berkata, "Demi Allah! Jika Muhammad (SAW) menyuruhku untuk membunuhmu, pasti aku akan memancung kepalamu dengan pedangku ini!"

Sungguh suatu kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya yang tidak perlu diragukan lagi. Tetapi sebaliknya merupakan suatu sikap yang sangat tidak diduga oleh Huwayyishah, ia bertanya dengan bimbang, "Engkau akan membunuhku, jika saja Muhammad menyuruhmu melakukan itu?"

"Tentu saja! Demi Allah, aku akan melakukannya!!" Kata Muhayyishah tanpa ragu-ragu.

Ketegasan sikapnya ini ternyata menjadi jalan hidayah bagi Huwayyishah, ia berkata, "Demi Allah! Agama yang bisa membuat umatnya mencapai taraf seperti itu adalah agama yang mengagumkan!"
Dan iapun memeluk Islam mengikuti jejak saudaranya.

Baca Juga Kisah Sahabat Nabi :
Amr bin Anbasah RA
Ayyasy bin Abu Rabiah RA
Auf bin Abu Hayyah al Ahmasi RA
Abdul Rahman al Harits at Taimimi RA
Amr bin Uqaisy RA

Mu'az Al Qary RA

Mu'az al Qary adalah seorang sahabat Anshar dari Kabilah Bani an Najjar, bahkan nama al Qary (pembaca Al Qur'an) adalah pemberian langsung dari Nabi SAW. Pada masa khalifah Umar, bersama beberapa orang sahabat, ia mundur dari arena pertempuran, yakni perang Jisr Abu Ubaid. Ketika kembali ke Madinah dan bertemu Umar, ia menangis menyesali sikapnya tersebut, begitu juga beberapa sahabat lainnya. Tetapi Umar menenangkan mereka.

Suatu ketika Mu'az membaca Al Qur'an dan sampai pada surah al Anfal 16, yang berisi tentang ancaman bagi mereka yang berpaling (mundur) dari peperangan tanpa alasan yang benar. Ia teringat akan sikapnya dan kembali menangis. Umar, yang saat itu ada di dekatnya berkata, "Janganlah menangis, ya Mu'az. Aku adalah golongan kamu dan kamu bergabung denganku…"

Saat itu kaum muslimin sedang berperang melawan tentara Romawi di Syam, yakni Perang Qadisiah. Umar mendapat kabar (laporan) bahwa keadaan kaum muslimin sedang terdesak, maka ia bermaksud mengirimkan pasukan tambahan untuk membantu mereka. Umar berkata kepada Mu'az, "Maukah kamu berangkat ke Syam, karena kaum muslimin sedang lumpuh dan pihak musuh menyerang mereka. Kamu bisa bergabung dengan mereka dalam memerangi musuh, semoga hal itu dapat mencuci dosamu."

Mu'az menyambut dengan gembira tawaran Umar, ia berkata, "Aku tidak akan mundur lagi sama sekali. Aku akan pergi ke tempat yang darinya aku pernah melarikan diri, dan bertemu dengan musuh yang menyebabkan aku seperti ini (yakni, penyesalan yang berlarut-larut). Dan aku melakukan hal seperti yang mereka lakukan kepadaku (yakni, membuat mereka melarikan diri dari peperangan tersebut)."

Setelah itu ia berangkat dengan pasukan yang dikirim Umar untuk memperkuat pasukan muslim di Syam, ia berperang dengan semangat tinggi hingga syahid di perang Qadisiah tersebut.

Baca Juga Kisah Sahabat Nabi :
Zainab ats Tsaqafiyah Ra
Abdullah Bin Ummi Maktum RA
Abu Jandal bin Suhail RA
Asy-Syifa binti Abdullah RA
Seorang Wajib Zakat

Ka'ab bin Umair Al Anshari RA

Ka'ab bin Umair adalah seorang sahabat Anshar. Suatu ketika, dengan sekitar 50 orang sahabat lainnya ia dikirim Nabi SAW mendatangi perkampungan Bani Qudha'ah, karena adanya kabar kabilah ini menghimpun kekuatan untuk menyerang kaum muslimin. Pasukan yang dikenal dengan Dzatu Athlah dikirim pada bulan Rabi'ul Awwal tahun 8 hijriah, beberapa bulan setelah kepulangan dari umrah qadha'.

Setelah sampai di Athlah, di sebuah daerah di Syam, terlebih dahulu Ka'ab menyeru mereka untuk masuk Islam, sebagaimana dipesankan Nabi SAW. Tetapi mereka menolak seruan ini, bahkan menyerang dengan menghujani pasukan muslimin dengan anak panah. Para sahabat melakukan perlawanan dengan sengitnya, tetapi dengan kekuatan yang tidak berimbang, akhirnya hampir semua sahabat itu syahid di medan pertempuran, termasuk Ka'ab. Hanya satu orang yang sempat meloloskan diri dalam keadaan terluka parah. Dengan susah payah ia kembali ke Madinah dan melaporkan kejadian ini kepada Nabi SAW.

Baca Juga Kisah Sahabat Nabi : 
Khansa binti Amr Ra
Umair bin Hammam al Anshari RA
Tsumamah bin Utsal RA
Hilal bin Umayyah al Waqifi RA
Abu Huzaifah bin Utbah RA

Said Bin Zaid RA