Wednesday, May 31, 2017

Asma binti Yazid al Anshari RA

Asma binti Yazid seorang sahabiyah Anshar dari Suku Aus, kabilah Bani Abdul Asyhal. Ia masih keponakan Muadz bin Jabal, putri dari saudara sepupunya, Yazid bin Sakan. Ketika berba’iat memeluk Islam, ia mengenakan dua gelang emas yang cukup besar. Nabi SAW bersabda kepadanya, “Wahai Asma, lemparkanlah kedua gelang itu! Tidakkah engkau takut jika Allah akan memakaikan dua gelang api neraka di tanganmu?” 

Asma segera melepaskan keduanya, dan diserahkan kepada Nabi SAW untuk digunakan di jalan Allah.

Asma binti Yazid al Anshari RA pernah menghadap Nabi SAW untuk membawa keluhan kaum muslimah berkaitan dengan amaliah mereka. Mereka berpendapat bahwa kesibukan mereka mengurus anak dan suami serta tugas-tugas rumah tangga lainnya, nilai pahalanya begitu kecil dibanding dengan amalan kaum lelaki seperti shalat berjamaah, shalat Jum'at, mengantar jenazah dan lain-lain, terutama dibandingkan dengan jihad fi sabilillah, berjuang menegakkan dan membela agama Allah.

Nabi SAW mendengarkan dengan seksama apa yang disampaikan oleh Asma, kemudian beliau berpaling kepada para sahabat, dan berkata, "Wahai sahabat-sahabatku, pernahkan engkau dengar suatu pertanyaan yang lebih baik daripada pertanyaan wanita ini?"

"Wahai Rasulullah," Kata para sahabat, "Kami tidak menyangka seorang wanita bisa bertanya seperti itu!"

Nabi SAW berpaling lagi pada Asma dan bersabda, "Katakanlah kepada wanita-wanita muslimah yang mengutusmu, bahwa jika mereka berbuat baik kepada suaminya dan selalu menaatinya, melayaninya dengan baik dan selalu berusaha membuat mereka gembira, maka itu sangatlah berharga, dan mereka memperoleh pahala sama besarnya dengan pahala kaum lelaki."

Mendengar penjelasan Nabi SAW, Asma begitu gembira dan ia segera kembali menemui mereka untuk mengabarkan hal yang menggembirakan para wanita tersebut.

Asma dan beberapa wanita muslimah lainnya seringkali ikut terjun ke medan pertempuran, tentunya mereka berada di garis belakang untuk memberikan minuman dan juga mengobati mereka yang terluka, termasuk juga mengobarkan semangat para mujahidin. Tetapi dalam perang Yarmuk di masa Khalifah Umar bin Khaththab, Asma tidak cukup sabar berada di garis belakang. Ia melihat gelombang pasukan Romawi begitu besarnya, sehingga ia terbawa arus untuk ikut menyerang mereka. Ia tidak memperoleh apa-apa sebagai senjata, maka ia mengambil salah satu tiang penyangga tendanya dan mulai menyerang musuh. Dengan senjatanya itu ia berhasil membunuh sembilan orang tentara Romawi, walau tak urung ia juga memperoleh luka-luka yang parah di sekujur tubuhnya. Tetapi akhirnya ia sembuh dari luka-lukanya tersebut.

Baca Juga Kisah Sahabat Nabi :
Shafiyyah Binti Abdul Muthalib RA
Khalid Bin Walid RA
Khadijah binti Khuwailid RA
Istri-Istri Rasulullah Saw
Saad bin Abi Waqqash RA

Ummu Walad RA

Hindun binti Amr bin Haram, atau lebih dikenal dengan nama Ummu Walad adalah istri dari Amr bin Jamuh, seorang sahabat dan pemuka dari bani Salimah yang kakinya pincang. Sahabiyah Rasulullah SAW ini ikut serta ke Perang Uhud bersama tiga orang yang disayanginya, suaminya, Amr bin Jamuh, anaknya Walad bin Amr dan saudaranya Abdullah. Suaminya itu sempat dilarang Nabi SAW ikut serta karena keadaan kakinya yang pincang. Beliau menyatakan ia diberikan rukhshah untuk tidak terjun dalam medan jihad.

Ketika kembali ke rumah, Ummu Walad berkata pada suaminya, "Aku tidak percaya mereka melarangmu mengikuti perjuangan ini. Wahai suamiku, tampaknya engkau takut menyertai pertempuran ini!!"

Mendengar penuturan Ummu Walad ini, Amr menghadap Nabi SAW dan memaksa untuk ikut, sehingga Nabi SAW akhirnya mengijinkan. Dan dalam perang Uhud tersebut, tiga orang kesayangannya itu gugur sebagai syuhada.

Usai peperangan, Ummu Walad membawa tiga jenazah tersebut di atas untanya, dan mengarahkannya menuju Madinah, tetapi unta ini tidak mau bergerak. Segala cara diupayakan walau dipukul-pukul tetap saja tidak bergeming. Nabi SAW berkata, "Sesungguhnya unta ini diperintahkan berlaku demikian. Apakah Amr mengatakan sesuatu ketika meninggalkan rumah?" 

"Benar, ya Rasulullah," Kata Ummu Walad, "Sebelum meninggalkan rumah untuk menyertai pertempuran ini, ia menghadapkan wajah ke kiblat dan berdoa agar tidak dikembalikan kepada keluarganya." 

Mendengar penjelasan ini, akhirnya Rasullullah SAW memakamkan tiga syuhada ini di bukit Uhud. Usai pemakaman mereka, Nabi SAW berkata pada Ummu Walad, "Wahai Hindun, mereka kini tengah berkasih-kasihan di surga."

"Ya Rasullullah, doakan kepada Allah agar aku bersama mereka." Kata Ummu Walad.

Nabi SAW mendoakan seperti yang dimintanya, dan Ummu Walad pulang dengan sukacita, walaupun kehilangan tiga orang yang dicintainya.

Baca Juga Kisah Sahabat Nabi :
Seorang Raja Di Surga
Mu'adz bin Jabal RA
Khubaib bin Adi RA
Zaid bin Datsinah RA
Sa’adz bin Mu’adz RA

Abu Bashir RA

Abu Bashir RA adalah lelaki dari kalangan kaum Quraisy, ia memeluk Islam dan datang ke Madinah untuk tinggal bersama Nabi SAW sebagaimana umat Islam lainnya. Tetapi kehadirannya di Madinah ini setelah disetujuinya Perjanjian Hudaibiyah, maka tak lama berselang datang dua orang utusan dari Kaum Quraisy untuk membawa Abu Bashir kembali ke Makkah. Hal itu memang merupakan salah satu butir Perjanjian Hudaibiyah. Mereka berkata kepada Nabi SAW, "Penuhilah perjanjian yang telah engkau buat di antara kita!" 

Seperti halnya atas Abu Jandal, Rasulullah SAW terpaksa merelakannya dibawa kembali oleh dua utusan tersebut sesuai dengan perjnajian yang beliau sepakati. Abu Bashir pun dibawa keduanya keluar dari Madinah. Ketika sampai di Dzul Khulaifah, mereka berhenti untuk beristirahat dan memakan perbekalannya.

Abu Bashir sadar, apa yang akan dialaminya jika sampai tiba di Makkah dan berada di tangan pembesar-pembesar Quraisy, tentunya siksaan demi siksaan untuk membuatnya kembali ke agama jahiliahnya. Maka ketika ia melihat ada peluang untuk lepas dari dua orang ini, maka ia melakukan suatu muslihat. Abu Bashir berkata sambil memuji salah satu dari mereka, "Demi Allah, wahai Fulan, sungguh amat bagus pedangmu itu…!"

Sepertinya orang ini termakan oleh umpan Abu Bashir, ia mengeluarkan pedangnya tersebut dan menghunusnya dengan bangga seraya berkata, "Tentu saja, bahkan aku telah mencobanya dan terus mencobanya!" 

"Sungguh bagus!! Bolehkan aku melihatnya!" Kata Abu Bashir.

Tanpa sadar apa yang akan dihadapinya, lelaki ini menyerahkan pedangnya kepada Abu Bashir. Begitu pedang berada di tangannya, ia memukul lelaki tersebut dengan pedangnya sendiri hingga tewas. Melihat kiprah Abu Bashir itu, temannya segera berlari balik ke Madinah, ia menuju ke masjid dan meminta perlindungan kepada Nabi SAW, sedang Abu Bashir mengejar di belakangnya. Ketika Nabi SAW melihatnya, beliau bersabda, "Tampaknya lelaki ini telah melihat sesuatu yang amat menakutkannya…!"

Di hadapan Nabi SAW, lelaki Quraisy itu berkata, "Sesungguhnya sahabatku telah dibunuh oleh Abu Bashir dan akupun akan dibunuhnya pula…"

Tak lama berselang Abu Bashir tiba di Masjid, ia berkata kepada Nabi SAW, "Wahai Rasulullah, demi Allah, sesungguhnya Allah telah menyempurnakan perjanjianmu, engkau telah mengembalikan aku kepada mereka, tetapi Allah telah menyelamatkan aku dari mereka."

Tetapi Nabi SAW bersabda, "Celakalah ibu dari orang yang telah menyalakan api peperangan, kalau saja ada seseorang baginya…!" 

Mendengar sabda Nabi SAW ini, tahulah Abu Bashir bahwa tidak bisa tidak, beliau masih akan mengembalikannya kepada orang Quraisy sesuai perjanjian yang berlaku. Tetapi di sisi lain, ia merasa Rasulullah SAW tidak menyalahkannya, justru mengkhawatirkan dirinya karena ia hanya sendirian. Maka ia memutuskan untuk menyembunyikan diri di daerah pesisir pantai. Setelah mengucap salam dan pamit kepada Nabi SAW, ia segera pergi meninggalkan Madinah.

Tak lama berselang Abu Jandal bin Suhail bin Amr pun lepas dari kekangan ayah dan keluarganya. Belajar dari pengalaman Abu Bashir yang ceritanya telah menyebar di Makkah, ia tidak lari ke Madinah, tetapi bergabung dengan Abu Bashir di pesisir pantai. Maka setiap ada orang muslim yang lolos dari Makkah, mereka tidak lagi ke Madinah tetapi bergabung bersama Abu Bashir dan Abu Jandal di pesisir pantai. Jumlah mereka terus bertambah hingga mencapai satu 'isbahah (antara 10 - 40 orang).

Dengan kekuatan kelompok yang dimilikinya dan semangat untuk membela panji-panji keimanan dan keislaman, Abu Bashir dan sahabat-sahabatnya selalu menghadang kafilah dagang Quraisy yang berjalan menuju Syam, karena tempat tersebut memang terletak antara Makkah dan Syam. Dengan keadaan ini, kafilah dagang kaum Quraisy berkali-kali mengalami kegagalan, bahkan merugi karena dirampas oleh kelompok Abu Bashir.

Untuk mengatasi masalah tersebut, orang-orang Quraisy mengirim utusan kepada Nabi SAW di Madinah, meminta beliau, atas nama Allah dan kekerabatan mereka, agar melarang kelompok Abu Bashir mengganggu kafilah dagang mereka, dan memanggilnya kembali ke Madinah. Ini artinya, mereka membatalkan sendiri perjanjian Hudaibiyah. Maka kelompok Abu Bashirpun bergabung bersama Nabi SAW dan orang-orang muslim lainnya di Madinah.

Sebagian riwayat menyebutkan, setelah menerima surat Rasulullah SAW agar kelompoknya itu kembali ke Madinah, Abu Bashir sakit dan akhirnya meninggal sebelum sempat bertemu lagi dengan beliau.

Baca Juga Kisah Sahabat Nabi :
Khubaib bin Adi RA
Zaid bin Datsinah RA
Sa’adz bin Mu’adz RA
Ghitrif & Ghatafan bin Sahl, Urwah bin Abdullah R.Hum
Ibnu Nathur, Uskup Kota Iliya, Romawi

Abu Dujanah RA

Sebelum perang Uhud dimulai, Nabi Muhammad SAW bermaksud menggelorakan semangat pasukannya. Beliau mengangkat pedang tinggi-tinggi, serasa berkata, "Siapakah di antara kalian yang ingin memegang pedang ini, dan memberikan sesuatu yang pantas baginya?"

Selesai Rasulullah SAW bersabda, kontan satu dua orang di antara pasukan segera ke depan. Salah satu di antaranya bernama Abu Dujanah, seorang lelaki pemberani sekaligus taat kepada Allah. Dia bertanya, "Wahai Rasul, apa yang patut bagi pedang ini, dan bagaimana kami dapat memberikannya?"

Nabi Muhammad SAW menjawab, "Anda memanfaatkan untuk bertempur sampai pedang ini melengkung." Mendengar jawaban itu, Abu Dujanah dengan sigap menyambut mantap, "Saya bersedia membayarkan yang patut baginya." Dujanah pun lantas mengikatkan kain "sapu tangan kematian" di kepala. Ia berjalan seperti harimau, bukan karena sombong dan arogan, tapi akibat gembira diberi kehormatan menggenggam pedang "kepercayaan" yang diulurkan Rasulullah SAW.

Dengan berbekal tekad untuk berjuang sampai titik darah penghabisan dan dengan ba'iat untuk bertempur sampai titik akhir kehidupan, selama pertempuran Abu Dujanah akhirnya menempatkan diri tak jauh dari Rasulullah SAW. Pedang berkelebat kiri kanan memangsa nyawa manusia. Dengan gigih ia menjadikan tubuhnya sebagai perisai hidup bagi Rasulullah SAW. Banyak anak panah menancap di punggung. Namun, seolah tiada dirasa atau barangkali tidak terasa, kalah oleh rasa cintanya kepada Rasulullah SAW dan kerinduannya kepada Syahadah.

Suatu kali, akibat pasukan panah melanggar perintah Nabi Muhammad SAW, kekuatan Islam terbalik menjadi tersudutkan. Sebagian malah ada yang mundur, melarikan diri. Sedangkan, Rasulullah SAW bersama Ali telah dikepung rapat oleh pasukan Quraisy. Abu Dujanah juga kewalahan menghadapi musuh yang merangsek kesetanan. Saat itulah, mata Rasulullah SAW jatuh pada Abu Dujanah, yang setengah mati berusaha melindungi Rasulullah SAW. Darah mengucur hampir menutup setiap senti tubuhnya. Melihat kondisi Abu Dujanah yang tampak payah, Rasulullah SAW bicara keras, "Wahai Abu Dujanah! Saya membebaskan anda dari ba'iat. Biarkan Ali saja yang tinggal bersama saya. Sebab Ali adalah dari saya, dan saya dari Ali."

Mendengar pernyataan Rasulullah SAW, Abu Dujanah bukan gembira lega akibat lepas dari belenggu ba'iatnya. Dia malah menangis sedih seraya berkata, "Wahai Rasul, kemana saya harus pergi? Haruskah saya pergi ke rumah yang pada akhirnya pasti akan runtuh? Mestikah saya pergi kepada istri, yang pada akhirnya nanti pasti akan mati? Perlukah saya lari kepada harta dan kekayaan yang pada gilirannya juga akan musnah? Haruskah saya lari dari maut yang suatu saat pasti akan datang?" Ketika melihat air mata bercucuran membasahi pipi Dujanah, Rasulullah SAW mengijinkan bertempur bersamanya. Abu Dujanah dan Ali akhirnya tetap bersama melindungi Rasulullah SAW dari serangan dahsyat pasukan Quraisy.

Hikmah dari Kisah Abu Dujanah
Nabi Muhammad SAW memang seorang panglima yang canggih dalam mengatur strategi, cerdas dalam membangkitkan "emosi", dan lihai dalam membangun militansi. Beliau memang cerdas, sesuai dengan sifat wajib yang ada padanya: fathonah alias pintar. Proses membangun militansi Abu Dujanah hanya melalui simbolitas pedang adalah contoh yang sangat apik (baik), satu dari sekian cara yang pernah diperlihatkan Rasulullah.

Dengan kepercayaan "simbolitas" menerima pedang dari Rasulullah, militansi Abu Dujanah meluao persis bak banteng ketaton (terluka) tak takut mati. Ia telah mendapat kepercayaan apalagi dari utusan Ilahi. Siapapun orangnya yang memperoleh kepercayaan, berarti ia telah diperhitungkan. Siapapun yang diperhitungkan, berarti ia mendapatkan kehormatan. Dan, siapa pun yang mendapat kehormatan, ia akan menjaga kredibilitas dan kualitas sesuai dengan kehormatan yang diberikan.

Penberian kehormatan merupakan stimulus terkuat dalam membangun sebuah sikap dan image apapun alasannya. Penghormatan bernuansa Ilahi, menstimulasi semangat juang yang juga bernuansa Ilahi. Hal inilah yang menyebabkan seseorang menjadi tak takut mati. Itulah yang dialami Abu Dujanah.

Baca Juga Kisah Sahabat nabi :
Ja’far bin Abu Thalib RA
Zaid bin Haritsah RA
Abu Ubaidah bin Jarrah RA
Ubadah bin Shamit RA
Ammar bin Yasir RA

Dhimad al Azdy RA

Dhimad adalah lelaki dari Azd Syanu'ah, salah satu suku dari Yaman, yang mempunyai keahlian mengobati penyakit gila atau gangguan jin. Ketika ia sedang umrah di Makkah, ia sempat duduk di dalam majelis dimana di dalamnya ada Abu Jahal, Utbah bin Rabiah dan Umayyah bin Khallaf. Abu Jahal menyebut nama Muhammad yang dianggapnya sebagai pemecah belah persatuan, menganggap bodoh akal orang-orang kafir Quraisy, menuduh sesat orang-orang terdahulu yang meninggal dan memaki berhala-berhala sembahan mereka. Umayyah menimpali kalau Muhammad telah terkena penyakit gila.

Sebagai orang yang memiliki keahlian mengobati penyakit gila dan gangguan jin, Dhimad merasa terpanggil mendengar informasi tersebut, ia-pun berusaha menemui Rasullullah SAW. Tetapi baru keesokan harinya ia menemukan Nabi SAW duduk di belakang maqam Ibrahim sedang shalat. Seusai shalat, iapun mengemukakan apa yang didengarnya dari orang-orang Quraisy tersebut dan maksudnya untuk mengobati. Dhimad berkata, "Tidak ada seorangpun yang berbuat demikian, kecuali orang yang terkena gangguan jin!"

Mendengar ucapan yang bersifat menuduh tersebut, Rasullullah SAW bersabda, "Segala pujian hanya milik Allah SWT, aku memuji-Nya dan memohon pertolongan-Nya, beriman kepada-Nya dan bertawakkal kepada-Nya. Barang siapa yang diberi petunjuk Allah, maka tidak ada yang bisa menyesatkannya. Barang siapa yang disesatkan-Nya, maka tidak ada yang bisa memberinya petunjuk. Dan aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya."

Dhimad terpesona mendengar perkataan Rasullullah SAW. Sebagai seorang yang terpelajar, ia mengetahui bahwa perkataan seperti bukanlah perkataan yang biasanya dilontarkan para penyair. Ia meminta beliau mengulangi perkataan itu beberapa kali dan Nabi SAW memenuhi permintaannya dengan sabar. Kemudian ia bertanya, "Kepada apakah engkau menyeru? Dan apa yang kuperoleh bila aku melakukannya?"

Nabi SAW menjawab, “Aku mengajakmu untuk beriman kepada Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagiNya, kamu tinggalkan berhala-berhala dari tengkukmu, dan engkau bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah. Dan ganjaran untukmu adalah surga."

Serta merta Dhimad-pun menyambut seruan itu dan masuk Islam. Ia tinggal selama beberapa hari bersama Rasullullah SAW hingga mengetahui cukup banyak surah dari Qur'an, dan kemudian kembali kepada kaumnya.

Beberapa waktu berselang setelah Rasullullah SAW sudah di Madinah, beliau mengirim sepasukan jamaah jihad di daerah Yaman. Di suatu daerah, pasukan tersebut memperoleh ghanimah 20 ekor unta, Ali bin Abi Thalib yang memimpin pasukan, kemudian mengetahui kalau daerah itu adalah daerahnya Dhimad al Azdy, maka ia menyuruh pasukannya untuk mengembalikan ghanimah tersebut, walau tidak bertemu secara langsung dengan Dhimad.

Baca Juga Kisah Sahabat Nabi :
Muawiyah bin Abu Sufyan RA
Seorang Penanya Hari Kiamat
Hudzaifah Ibnul Yaman RA
Najasyi, Raja Habasyah
Abdullah bin Mas'ud RA

Utsman bin Mazh'un RA

Tokoh yang satu ini termasuk kelompok yang pertama masuk Islam, yakni pada urutan yang keempatbelas. Baliau termasuk orang yang pertama juga dari kaum Muhajirin yang hijrah ke Madinah dan sekaligus menjadi orang pertama yang wafat di Medinah, karenanya menjadi yang pertama pula dari ummat Islam yang dikuburkan di Baqi.

Beliau dikenal sebagai orang yang suci dan punya kepribadian dan hati yang suci dalam beribadah kepada Allah SWT. Beliau suci bukan karena mengucilkan diri ('Uzlah) jauh dari kehidupan yang bisa mengantarkan orang kepada kesesatan, tapi suci di tengah-tengah kehidupan masyarakat yang jahil. Corak kehidupannya sangat berbeda dengan konsep hidup kaum sufi pada umumnya yang sebagian mereka berpendapat atau memiliki prinsip "Uzlah" untuk mengambil sikap mengasingkan diri dari kelompok masyarakatnya yang tidak sejalan dengan prinsip hidup seorang mu'min.

Paling tidak, ada "dua" pola pendekatan yang berbeda yang dilakukan oleh umumnya orang Islam dan kelompok Sufi. Keduanya tentu saja sama-sama hidup di jalan Allah, namun dengan "Manhaj"(Metoda) yang agak berbeda dalam mengartikan "Uzlah". Di mana yang satu mengartikannya dengan mengasingkan diri, atau hijrah dari sebuah kondisi masyarakat yang tidak kondusif untuk berkembangnya keimanan dan kesholehan seseorang. Namun, sementara yang lain tidak sependapat dengan pemaknaan "Uzlah" seperti itu.

Yang paling menonjol dari diri Utsman bin Mazh'un adalah "Mujahadah"nya, yakni upaya yang sungguh-sungguh untuk hidup di jalan Allah dengan melakukan semua yang dicintai Allah dan meninggalkan segala yang dibenci-Nya dan untuk itu beliau tidak pernah mengasingkan diri dari masyarakat, sebaliknya beliau senantiasa siap menghadapi segala resiko yang terjadi termasuk siap menghadapi siksaan yang sudah biasa dihadapi oleh orang-orang yang baru masuk Islam. Kala itu beliau hadapi segala macam siksaan dengan kesabaran dan tidak pernah berniat sedikit pun untuk lari dari kondisi yang dialaminya.

Beliau baru mau berhijrah ke Habsy setelah Rasulullah Saw memerintahkan Utsman dan para sahabat yang lain meninggalkan Mekah yang sangat tidak kondusif bagi orang-orang mu'min saat itu. Mereka pun berhijrah lalu menemukan lingkungan di Habsyi yang membuat mereka merasa aman dan nyaman serta bisa meninggalkan lingkungan para penyembah berhala yang telah membuat mereka "muak" melihatnya. Di Habsyi mereka hidup di lingkungan orang-orang Nasrani. Kedatangan mereka dimanfaatkan oleh orang-orang Nasrani untuk mendakwahi dengan maksud agar orang-orang muslim masuk dalam keyakinan mereka. Para sahabat yang hijrah ke Habsyi di bawah pimpinan Utsman bin Mazh'un, tidak mungkin mengikuti ajakan mereka lari dari satu kekufuran lalu masuk ke dalam kekufuran yang lain, keluar dari kesesatan yang satu lalu masuk ke dalam kesesatan yang lain. Karena mereka yakin, "Hanya Islamlah satu-satunya agama yang benar" (QS. Ali Imran, 3:19;85)

Ketika mereka sedang menikmati kehidupan yang tenang dan nyaman dalam beribadah dan mempelajari Al Qur'an, tiba-tiba muncul berita bahwa di Mekah, orang orang Quraisy dan para tokohnya telah masuk Islam. Berita yang cukup menggembirakan ini menjadikan mereka ingin sekali segera kembali ke Mekah dan mereka pun segera bersiap-siap. Namun, pada saat akan memasuki Mekah, arulah mereka menyadari, bahwa berita tersebut hanya fitnah dan tipu daya belaka sehingga membuat Utsman dan para sahabat betul-betul merasa terpukul atas kecerobohan mereka yang tidak menyelidiki dulu kebenaran berita tersebut. Padahal, mereka saat itu sudah berada di pintu masuk kota Mekah. Sementara itu orang-orang musyirikin yang mendengar akan kehadiran mereka yang dianggap "buronan" menyambut berita tersebut dengan suka cita. Bagi orang-orang musyirikin, Utsman dan para sahabat yang mau menegakkan kebenaran dianggap "buronan".

Di masyarakat Arab Jahilliyyah saat itu berlaku sistim perlindungan, di mana setiap orang bisa mencari pelindung yang tentu saja dari tokoh Quraisy yang disegani. Menyikapi situasi dan kondisi tersebut, Utsman dan para sahabat berupaya mencari perlindungan. Namun tidak semuanya berhasil. Salah satu yang berhasil adalah Utsman bin Mazh'un yang mendapat perlindungan dari Walid bin Mughirah, seorang tokoh musyirikin Quraisy yang disegani. Karena mendapat perlindungan dari Walid, maka Utsman bin Mazh'un bebas masuk ke Mekah dengan tenang, tidak ada yang berani mengganggu karena Walid sudah mengumumkan di depan masjid bahwa Utsman ada dalam perlindungannya.

Mendapat perlindungan dari Walid sebenarnya hati Utsman kemudian menjadi sangat tidak tenang, pada saat beliau melihat saudara-saudaranya yang miskin dan lemah tidak menemukan orang untuk melindungi mereka, sehingga mereka harus menerima siksaan yang tidak tertahankan. Melihat saudara-saudaranya hidup dalam penderitaan, batin Utsman bin Mazh'un tidak rela. Akhirnya beliau memutuskan menemui Walid bin Muqhirah untuk menyatakan keinginannya melepaskan diri. Kisahnya dapat diikuti sebagaimana diriwayatkan oleh seorang sahabat: "Ketika Utsman bin Mazh'un melihat beberapa sahabat Rasul mengalami penderitaan yang sangat luar biasa, sementara ia aman dalam perlindungan Walid bin Mughirah, lalu ia berkata dalam hatinya, Demi Allah, sesungguhnya saat ini aku sedang berlindung kepada musuh Allah, sementara sahabat-sahabatku merasakan berbagai azab dan siksaan, maka ia pun segera menemui Walid bin Mughirah dan berkata: "Wahai Abu Abdi Syams (Walid), bebaskan aku dari perlindunganmu! Berkata Walid: Kenapa wahai anak pamanku? Sementara orang lain susah mencari pelindung kau malah minta dibebaskan dari perlindunganku, jika kulepaskan maka boleh jadi kau akan disiksa oleh kaumku. Jawab Utsman: "Tidak, aku lebih suka ada di dalam perlindungan Allah. Pergilah kau ke depan masjid umumkanlah bahwa kau sudah tidak lagi melindungi aku sebagaimana kau dulu mengumumkan perlindungan terhadapku. Lalumereka berdua pun pergi ke halaman masjid. Walid berkata, ini adalah Utsman, dia datang menemuiku untuk membebaskan dirinya dari perlindunganku. Utsman menanggapi pernyataan Walid dengan menyatakan: "Benar yang diucapkan Walid. Dia betul orang yang selama ini bertanggung jawab melindungiku, tetapi aku lebih suka untuk dilindungi oleh Allah dan aku tidak pernah sudi lagi untuk dilindungi oleh orang-orang yang dibenci oleh Allah SWT.

Dapat kitaambil pelajaran bahwa Utsman sempat mengambil langkah yang kurang tepat, karena sesungguhnya yang tepat sebagai pelindung hanyalah Allah SWT. Karenanya ketika turun ayat 255 surah Al Baqarah, Rasul Saw segera memerintahkan kepada para sahabat yang selama ini menjadi pengawal Rasul: "Wahai saudara-saudaraku, pergilah kalian sekarang jangan lagi kalian mengawalku karena sudah ada yang mengawalku, Allah SWT".

Usai proses pelepasan perlindungan dari Walid, beliau menghadiri sebuah majelis orang-orang Quraisy yang sedang dipimpin oleh Lubaid bin Rabi'ah. Di dalam majelis tersebut, Lubaid bin Rabi'ah berkata: "Bukankah segala sesuatu selain Allah itu adalah hampa tidak ada nilainya sama sekali di sisi Allah?". Kata Utsman:"Benar, apa yang kau katakan wahai Lubaid. Kata Lubaid pula: "Bukankah setiap kenikmatan suatu saat akan sirna". Utsman menimpali pernyataan Lubaid:"Bohong, nikmat syurga tidak akan pernah sirna selama-lamanya, semua kenikmatandunia benar akan sirna tapi ada kenikmatan syurga yang tidak kalian yakini, tidak akan sirna selama-lamanya. Lubaid merasa terpotong dan terhina dengan ungkapan tersebut, padahal ia seorang tokoh Quraisy yang disegani. Lalu ia mengatakan: "Wahai kaum Quraisy, demi tuhan pernahkah kalian meliha seseorang menghinaku dalam majelis seperti ini?". Salah seorang yang hadir di dalam majelis mengatkan:"Orang yang baru bicara ini adalah orang tolol yng baru saja meninggalkan agama nenek moyang kita, maka jangan digubris ucapannya".

Sejarah berulang, setiap orang yang akan kembali menegakkan ajaran Allah disebut tolol, bodoh atau idiot oleh orang-orangsesat. Padahal, yang bodoh menurut Allah adalah mereka yang tersirat dan tersurat dalam ayat 179 surah Al A'raaf, yang diantaranya adalah mereka yang memiliki akal namun tidak dipergunakan untuk berfikir di jalan Allah SWT. Utsman bin Mamh'un, menanggapi pernyataan orang tersebut sehingga terjadilah perang mulut di antara mereka, yang bersangkutan lalu berdiri dan memukul salah satu mata Utsman. Melihat kejadian tersebut, Walid bin Mughirah berkata :"demi tuhan wahai keponakanku, jika matamu itu kebal, kau pantas untuk melepaskan tanggungan dariku, tapi kau sudah melepaskan tanggungan itu maka aku tidak akan membelamu. Utsman berkata: "Demi Allah, sesungguhnya mataku yang satu lagi sangat membutuhkan apa yang dialami oleh mataku yang sebelah karena dianiaya di jalan Allah. Walid berkata: "Jika kau mau, aku masih siap untuk menjadi pelindungmu. Jawab Utsman: "Tidak, tidak untuk selama-lamanya!".

Pergilah Utsman dengan sebelah matanya yang sakit, tetapi ia begitu luar biasa terbebas jiwanya karena ia sekarang sedang berlindung kepada Allah SWT. Suatu ketika, Rasul memerintahkan para sahabat untuk hijrah ke Medinah dan termasuklah diataranya Utsman. Di Medinah mereka bisa merasakan kekhusyuan beribadah dan kembali kesucian pribadi Utsman nampak kembali tergambar dalam hidup kesehariannya. Ia menjadi "Rahib" (orang suci) yang menghabiskan malamnya untuk beribadah dan siangnya bekerja keras, lalu terkadang malam dan siang dipakai untuk beribadah atau malam dan siang untuk berjuang termasuk berperang menghadapi orang-orang musyirikin.

utsman punya keistimewaan tersendiri dalam ber-"Zuhud", hidupnya benar-benar-benar jauh dari kenikmatan dunia, beliau lebih suka memakai pakaian yang kasar dan tidak mengganti pakaian dan beliau tidak makan, kecuali makanan yang sangat sederhana. Pada suatu saat beliau masuk ke dalam masjid yang saat itu Rasul dan para sahabat sedang duduk-duduk, beliau masuk dengan memakai pakaian yang sangat tidak layak dipakai, melihat kondisi beliau, Rasul pun tersentuh hatinya, sementara para sahabat yang menyaksikan malah mengalirkan air mata. Beliau beribadah ternyata bukan hanya dengan meninggalkan kenikmatan dunia dalam arti makan, minum dan berpakaian, tapi pernah juga berniat untuk menjauhi istrinya. Ketika berita ini sampai kepada Rasul, maka Rasul mun menegur beliau dengan mengatakan: "Istrimu punya hak darimu".

Keinginan beliau senantiasa ber-"Mujahadah" inilah yang membuat Rasul sangat mencintai beliau. Karena ketika ruhnya yang suci hendak meninggalkan jasad menuju ke hadirat Allah SWT, Rasul pun berada disampingnya mendampingi sampai akhir hayatnya. Dan ketika utsman bin Mazh'un akhirnya meninggalkan alam dunia ini, Rasul menundukkan kepalanya dan mencium kening memenuhi wajah Utsman dengan air mata. Dengan iringan doa beliau; "Semoga Allah merahmatimu, wahai Utsman, kau tinggalkan alam dunia ini tidak pernah kau ambil sedikitpun keuntungan darinya, dan dunia pun tidak pernah dirugikan oleh sebab kehadiranmu".

Rasul tidak pernah melupakan orang yang sangat dicintainya, sepeninggal Utsman beliau selalu ingat dan memujinya di depan para sahabt, sehingga diriwayatkan saat putri Rasul, Rukayah akan meninggal dunia, Rasul berkata kepada putrinya:"Temuilah segera di alam barzah (Utsman bin Mazh'un) orang yang sangat baik dan mulia di sisi Allah SWT".

Syuja' bin Wahb RA

Syuja' bin Wahb al Asadi diperintahkan Rasullullah SAW untuk menyampaikan surat kepada Kisra, Raja Persia, yang berisi ajakan untuk masuk agama Islam. Ketika sampai di Persia, Kisra 

mengumpulkan para pembesarnya di aula istana yang telah dihias untuk menyambut utusan Nabi SAW. Syuja' diijinkan masuk aula istana Kisra, dan seseorang diminta untuk mengambil surat Nabi SAW tersebut dari tangan Syuja', tetapi Syuja menolaknya, ia berkata tegas, "Aku diperintahkan Rasulullah SAW untuk menyerahkan surat ini langsung ke tanganmu!"

Setelah diijinkan, ia mendekati Kisra dan menyerahkan surat tersebut. Kisra memerintahkan juru tulisnya yang berasal dari kota Hiirah, yang mengerti bahasa Arab untuk membaca surat tersebut, sekaligus menerjemahkannya. Ketika awal surat yang berbunyi, "Dari Muhammad, hamba Allah dan Rasul-Nya, kepada Kisra, Raja Persia…!"

Kisra langsung berteriak marah. Ia tersinggung karena nama Nabi SAW disebutkan terlebih dahulu daripada namanya sebagai Raja Persia. Diambilnya surattersebut dari tangan jurutulisnya dan ia merobek-robeknya. Dengan marah pula ia mengusir Syuja' dari aula istana Kisra.

Melihat situasi yang memanas tersebut, Syuja'-pun bergegas keluar dan menaiki kendaraannya, kemudian memacunya agar secepat-cepatnya pergi dari tempat itu. Ia berkata, "Demi Allah aku tidak perduli akan berada dimana dari dua jalan ini, karena aku telah menyampaikan surat Rasulullah SAW kepada Kisra."

Setelah sampai di hadapan Rasulullah SAW, Syuja' menceritakan apa yang terjadi, dan beliau bersabda, "Sebenarnya Kisra telah mengoyak-koyak kerajaannya sendiri, sebagaimana ia merobek-robek suratku."

Beberapa waktu setelah itu, sebenarnya Kisra memerintahkan orang-orangnya untuk memanggil Syuja' untuk menghadapnya lagi, tetapi Syuja' tidak tersusul. Kisra memerintahkan wakilnya di Yaman, Badzan untuk mengirimkan dua orang menemui Nabi SAW, dan memerintahkan Beliau untuk menghadap Kisra. Ketika dua orang utusan yang bernama Abanauah dan Jadd Jamirah ini sampai di Madinah dan menghadap Nabi SAW, beliau menyuruh mereka beristirahat dahulu dan menemui beliau lagi esok harinya. Dalam pertemuan keesokan harinya itu, Nabi SAW mengabarkan bahwa Allah telah membinasakan Kisra, dan membuat putranya yang bernama Syiruyah mengalahkan dan membunuhnya.

Baca Juga Kisah Sahabat Nabi :
Suwaid bin Shamit RA
Anas bin Abu Martsad al Ghanawi RA
Abdullah bin Atik RA
Dhamrah bin Ibnul Ishaq RA
Amr Bin Tsabit Al Waqsy (Al Ushairim) RA

Said Bin Zaid RA