Sunday, March 12, 2017

Abu Arzah al Aslami RA

Dalam suatu pertempuran, Abu Arzah al Aslami shalat sambil memegang kendali hewan kendaraannya (unta atau kudanya). Tiba-tiba saja hewan tunggangannya tersebut bergerak/berjalan lambat, mungkin sambil mencari makan, dan Abu Arzah mengikutinya dengan tetap mempertahankan shalatnya. Artinya ia tetap shalat dalam keadaan berjalan, seperti halnya shalatnya orang musafir di dalam kendaraan saat ini. Ia menjadi bahan pembicaraan dari orang-orang di sekitarnya karena shalatnya dengan berjalan/bergerak tersebut. 

Setelah Abu Arzah menyelesaikan shalatnya dan kembali di antara anggota pasukannya, ia menanggapi pembicaraan mereka dengan berkata, "Sesungguhnya saya telah berperang bersama Nabi SAW sebanyak enam, tujuh atau delapan kali, dan saya melihat beliau mempermudahnya (ketika terjadi peristiwa seperti itu). Dan saya lebih senang mengikuti kemana hewan tersebut bergerak, daripada saya membiarkannya kembali ke tempat yang disukainya, dan itu akan menyulitkan saya (mencarinya dalam pertempuran tersebut)."

Baca Juga Kisah Sahabat Nabi:
Imran bin Hushain Al Khauzi RA
Abdullah bin Amr bin Al-Ash RA
Si Badui yang Menghisab Allah SWT
Abu Sufyan bin Harits RA
Thariq al-Shalidalani dan Syihab RA

Abu Darda RA

Nama sebenarnya adalah Uwaimir bin Malik Al Khazraji. Namun,orang lebih mengenalnya sebagi Abu Darda, karena ia memilki anak perempuan yang bernama Darda. Istri Abu Darda dikenal dengan nama Ummu Darda.

Ketika Islam telah menyebar di Madinah, banyak penduduk Madinah yang memeluk agama Islam. Namun, Abu Darda tidak tertarik untuk menjadi pengikut Rasulullah saw. Abu Darda sangat meyakini berhala sebagai Tuhannya. Ia menyembah berhala dengan penuh ketaatan dan keyakinan.

Abu Darda bersahabat dengan Abdullah bin Rawahah sejak zaman jahiliyah. Abdullah bin Rawahah telah memeluk agama Islam pada awal ajaran Rasulullah saw, ini menyebar di Madinah. Sementara itu, hingga Perang Badar terjadi, Abu Darda belum memeluk agama Islam.

Suatu pagi, Abu Darda bangun dan langsung pergi ke ruangan berhala. Di sana, ia menyembah dan memohon kepada berhalanya. Abdullah berkeinginan kuat agar sahabatnya itu segera memeluk agama Islam.

Setelah itu, Abu Darda bersiap diri untuk pergi ke tokonya yang besar. Di tengah perjalanan. Abu Darda berpapasan dengan banyak orang. Orang-orang itu adalah tentara muslim yang baru saja kembali dari medan perang Badar.

Saat Abu Darda berada ditokonya, Abdullah bin Rawahah berkunjung ke rumah Abu Darda. Di sana, Abdullah menemui istri Abu Darda. Ia berpura-pura bertanya tentang keberadaan Abu Darda. Ummu Darda tidak curiga sedikit pun dan berkata, ”Abu Darda sedang berdagang. Tidak lama lagi dia akan pulang.” Abdullah meminta izin masuk ke rumah Abu Darda, Ummu Darda yang sama sekali tidak curiga mempersilakan Abdullah untuk masuk.

Kemudian, Ummu Darda sibuk mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan mengasuh anaknya. Hal itu dimanfaatkan Abdullah untuk masuk ke ruangan berhala. Ia mengeluarkan kapak yang telah dipersiapkannya, sambil mengutuk berhala itu Abdullah melayangkan kapaknya ke arah berhala Abu Darda. Berhala pun hancur berkeping-keping.

Ummu Darda mendengar suara yang mencurigakan dari ruangan berhala. Ia segera mendekatinya. Alangkah terkejutnya Ummu Darda melihat berhala telah hancur berkeping-keping. Sementara itu, Abdullah bin Rawahah segera meninggalkan rumah Abu Darda.

Ketika Abu Darda pulang ke rumahnya, ia melihat istrinya menangis di depan pintu ruangan berhala. Abu Darda pun terkejut bukan main melihat berhalanya telah hancur. Ia menjadi marah dan berkata, “Siapakah yang berani melakukan hal itu ?” Abdullah sahabatmu yang telah menghancurkan berhala ini,” Jawab Ummu Darda. Mendengar jawaban Ummu Darda. Abu Darda hendak menemui Abdullah untuk membuat perhitungan. Namun, tiba-tiba Abu Darda terdiam. Ia berpikir, “Kalau memang berhala ini adalah Tuhan, mengapa ia tidak membela diri?”. Perlahan-lahan, kemarahannya mereda. Ia jadi mengerti bahwa berhala itu pastilah bukan Tuhan. “Melindungi dirinya sendiri saja ia tidak bisa, apalagi melindungi diriku dan keluargaku.” Pikir Abu Darda.

Abu Darda segera menemui Abdullah bin Rawahah. Kemudian, ia dan Abdullah pergi menemui Rasulullah. Di hadapan Rasulullah, Abu Darda menyatakan keislamannya. Abu Darda menjalankan ajaran agama Islam dengan penuh keikhlasan.
Abu Darda Berdakwah Ke Negeri Syam
Abu Darda menyesal karena terlambat meyakini ajaran agama Islam dibandingkan sahabat-sahabatnya. Ia merasa tertinggal dalam ilmu agama, seperti hafalan Al-Qur’an, pemahaman ibadah, dan amal saleh lainnya. Abu Darda bertekat mengejar ketertinggalannya dalam ilmu agama. Oleh karena itu, ia tekun menjalankan ibadah dan terus mempelajari Al-Qur’an. Ia juga sering menghadiri majelis-Majelis untuk menambah ilmunya. Untuk menghadiri majelis atau melakukan ibadah. Abu Darda, sering kali meninggalkan kegiatan dagangannya. Ia sama sekali tidak menyesal melakukan hal itu.

Sikap Abu Darda yang demikian membuat orang-orang keheranan. Ketika ditanyakan hal itu, ia menjawab, “Saya tidak mengatakan Allah swt, mengharamkan jual beli. Saya hanya ingin menjadi pedagang bila kegiatan dagang itu tidak mengganggu saya dalam berzikir.”

Pada suatu ketika, Khalifah Umar bin Khattab hendak mengangkat Abu Darda sebagai pejabat tinggi di negeri Syam. Namun, Abu Darda menolaknya. Penolakan itu membuat Khalifah Umar menjadi marah. ”Aku akan pergi ke Syam, tetapi hanya untuk mengajarkan Al-Qur’an dan sunnah nabi, serta mendirikan shalat bersama penduduknya.” Khalifah Umar menyetujuinya.

Abu Darda pergi ke Damsyik (ibu kota Syam). Saat sampai di Damsyik. Abu Darda sedih karena ia melihat masyarakat Damsyik yang terlena oleh kehidupan duniawi. Mereka begitu memuja kekayaan dan kemewahan. Mereka juga membangun bangunan-bangunan yang megah. Oleh karena itu, ia mengundang penduduk Damsyik ke masjid dan berdakwah di sana. Ia mengingatkan adanya kaum ‘Ad yang mengumpulkan harta kekayaan dan membangun bangunan yang megah. Namun semuanya hancur karena mereka mengingkari Allah Ta’ala. Banyak orang yang menangis karena tersentuh oleh dakwah Abu Darda.

Di Damsyik, Abu Darda terus berdakwah. Ia pergi ke majelis-majelis masyarakat atau ke pasar-pasar untuk mengingatkan mereka tentang ajaran Rasulullah yang benar. Ia menggunakan setiap kesempatan untuk mengajarkan ilmu agama.

Suatu ketika, seorang pemuda mendatanginya dan berkata, “wahai sahabat Rasulullah Ajarilah aku !”. Kemudian, Abu Darda berkata, “Wahai anakku. Ingatlah Allah saat engkau bahagia, pasti Allah akan mengingatmu ketika engkau sengsara. Jadilah orang yang mau belajar dan mau mendengar. Sesungguhnya, orang yang bodoh pasti celaka.”

Demikianlah Abu Darda mengajarkan Al-Qur’an dan hikmah yang ada di dalamnya. Ia member pengajaran dan peringatan kepada penduduk. Selain taat beribadah, Abu Darda ingin membentuk masyarakat yang benar-benar Islam.

Baca Juga Kisah Sahabat Nabi :
Ummu Umarah RA
Perjalanan Hidup Utbah bin Rabi’ah Hingga Ajalnya
Abu Ubaidah bin Jarrah RA
Thalhah bin Ubaidillah RA
Ammar bin Yasir RA

Abu Sa'id Al Khudri RA

Ketika terjadi perang Uhud, Abu Said al Khudri RA baru berusia 13 tahun, tetapi telah ia diajak ayahnya untuk ikut bergabung dengan pasukan yang siap berangkat membela panji-panji keimanan. Sayangnya keberadaannya ini diketahui oleh Rasululllah SAW, dan beliau melarangnya mengikuti pertempuran ini. Walaupun ayahnya berdalih bahwa anaknya ini kuat dan mempunyai semangat tinggi untuk berjihad, beliau tetap saja menolak.

Ternyata ayahnya menemui syahid di medanperang Uhud ini, dan ia tidak meninggalkan harta apapun untuk anaknya yang masih kecil. Karena itu Abu Said berniat meminta bantuan keuangan kepada Nabi SAW untuk menunjang kehidupannya. Tetapi ketika ia sampai di majelis Rasulullah SAW, ia mendengar beliau bersabda, "Barang siapa yang meminta kesabaran, maka ia akan memperoleh kesabaran. Barang siapa yang

meminta kesucian, maka ia akan memperoleh kesucian. Dan barang siapa yang menginginkan kekayaan, maka Allah akan memberikan kekayaan kepadanya…"

Walaupun ia belum menyampaikan maksudnya kepada Nabi SAW, ia merasa sabda beliau itu ditujukan kepadanya, dan ia memutuskan untuk membatalkan keinginannya meminta bantuan keuangan. Ia kembali pulang dengan diam-diam. Sepertinya beliau secara tidak langsung ‘memberikan’ pilihan kepada dirinya untuk memilih duniawiah, seperti keinginannya semula, atau pilihan akhirat, di mana ia harus bersabar dan menyucikan jiwanya. Dan Abu Sa’id sepertinya lebih condong untuk memilih kehidupan akhirat seperti dicontohkan Nabi SAW dan umumnya para sahabat lainnya. Di kemudian hari, ternyata Abu Sa'id al Khudri merupakan salah satu sahabat yang banyak sekali meriwayatkan hadits Nabi SAW.

Baca Juga Kisah Sahabat Nabi :
Istri-Istri Rasulullah Saw
Khadijah binti Khuwailid RA, Ummul Mukminin
Khubaib bin Adi RA
Seorang Penyapu Masjid
Khalid Bin Walid RA

Imran bin Hushain Al Khauzi RA

Pada waktu Perang Khaibar, ia datang kepada Rasulullah SAW untuk berbai’at. Dan semenjak ia menaruh tangan kanannya di tangan kanan Rasul, maka tangan kanannya itu memperoleh penghormatan besar. Ia pun bersumpah pada dirinya, tidak akan menggunakannya kecuali untuk perbuatan utama dan mulia.

Pertanda ini merupakan suatu bukti jelas bahwa pemiliknya mempunyai perasaan yang amat halus. Imran bin Hushain merupakan gambaran yang tepat bagi kejujuran, sifat zuhud dan kesalehan serta mati-matian dalam mencintai Allah dan menaati-Nya.

Walaupun memperoleh taufik dan petunjuk Allah yang tiada terkira, namun ia sering menangis mencucurkan air mata. "Kenapa aku tidak menjadi debu yang diterbangkan angin saja," ia kerap meratap.

Kaum Muslimin takut kepada Allah bukanlah karena banyak melakukan dosa, tidak! Setelah menganut Islam, boleh dikata sedikit sekali dosa mereka. Mereka takut dan cemas karena menilai keagungan dan kebesaran-Nya, bagaimanapun mereka beribadah, rukuk dan sujud, tetapi ibadah dan syukurnya itu belumlah memadai nikmat yang telah mereka terima.

Pernah suatu saat beberapa orang sahabat bertanya pada Rasulullah SAW, "Wahai Rasulullah, kenapa kami ini... Bila kami sedang berada di sisimu, hati kami menjadi lunak hingga tidak menginginkan dunia lagi dan seolah-olah akhirat itu kami lihat dengan mata kepala. Tetapi bila kami meninggalkanmu dan berada di lingkungan keluarga, anak-anak dan dunia kami, maka kami pun telah lupa diri?"

Rasulullah SAW bersabda, "Demi Allah, yang nyawaku berada dalam genggaman-Nya, seandainya kalian selalu berada dalam suasana seperti di sisiku, tentulah malaikat akan menampakkan dirinya menyalami kamu. Tetapi, yang demikian itu hanya sewaktu-waktu."

Pembicaraan itu kedengaran oleh Imran bin Hushain, maka timbullah keinginannya, dan seolah-olah ia bersumpah pada dirinya tidak akan berhenti dan tinggal diam, sebelum mencapai tujuan mulia tersebut. Bahkan walau terpaksa menebusnya dengan nyawanya sekalipun. Dan seolah-olah ia tidak puas dengan kehidupan sewaktu-waktu itu. Ia menginginkan suatu kehidupan yang utuh dan padu, terus-menerus dan tiada henti-hentinya, memusatkan perhatian dan berhubungan selalu dengan Allah Azza Wa Jalla.

Pada masa pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin Khatthab, Imran dikirim oleh khalifah ke Bashrah untuk mengajari penduduk dan membimbing mereka mendalami agama. Demikianlah, di Bashrah ia melabuhkan tirainya, maka ketika dikenal oleh penduduk, mereka pun berdatanganlah mengambil berkah dan meniru teladan ketakwaannya.

Hasan Basri dan Ibnu Sirin berujar, "Tidak seorang pun di antara sahabat-sahabat Rasulullah SAW yang datang ke Bashrah, lebih utama dari Imran bin Hushain!"

Dalam beribadah dan berhubungan dengan Allah, Imran tak sudi diganggu oleh apa pun. Ia menghabiskan waktu dan seolah-olah tenggelam dalam ibadah, hingga seakan-akan dirinya bukan lagi penduduk bumi. Seolah-olah ia adalah malaikat, yang hidup di lingkungan malaikat, bergaul dan berbicara dengannya, bertemu muka dan bersalaman dengannya.

Dan tatkala terjadi pertentangan tajam di antara kaum Muslimin, yaitu antara golongan Ali dan Muawiyah, Imran bersikap tidak memihak. Bahkan ia juga meneriakkan kepada umat agar tidak campur tangan dalam perang tersebut, dan agar membela serta mempertahankan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya. "Aku lebih suka menjadi penggembala rusa di puncak bukit sampai aku meninggal, daripada melepas anak panah ke salah satu pihak, biar meleset atau tidak," katanya.

Dan kepada orang-orang Islam yang ditemuinya, ia kerap berpesan, "Tetaplah tinggal di masjidmu. Dan jika ada yang memasuki masjidmu, tinggallah di rumahmu. Dan jika ada lagi yang masuk hendak merampas harta atau nyawamu, maka bunuhlah dia!"

Keimanan Imran bin Hushain membuktikan hasil gemilang. Ketika ia mengidap suatu penyakit yang selalu menggangu selama 30 tahun, tak pernah ia merasa kecewa atau mengeluh. Bahkan tak henti-hentinya ia beribadah kepada-Nya, baik di waktu berdiri, di waktu duduk dan berbaring.

Dan ketika para sahabatnya dan orang-orang yang menjenguknya datang dan menghibur hatinya terhadap penyakitnya itu, ia tersenyum sambil berkata, "Sesungguhnya barang yang paling kusukai ialah apa yang paling disukai Allah."

Dan sewaktu hendak meninggal, ia berwasiat kepada kaum kerabatnya dan para sahabatnya, "Jika kalian telah kembali dari pemakamanku, maka sembelihlah hewan dan adakanlah jamuan!"

Memang, sepatutnyalah mereka menyembelih hewan dan mengadakan jamuan. Karena kematian seorang Mukmin seperti Imran bin Hushain bukanlah merupakan kematian yang sesungguhnya. Itu tidak lain dari pesta besar dan mulia, di mana satu ruh yang tinggi dan diridhai dibawa menghadap-Nya.

Baca Juga Kisah Sahabat Nabi :
Seorang Raja Di Surga
Dua Tawanan Musailamah al Kadzdzab
Abu Sufyan bin Harb RA
Syurahbil bin Hasanah RA
Utsman bin Affan RA






Hamzah bin Abdul Muthalib RA

Pada suatu hari Hamzah bin Abdul Muthalib keluar dari rumahnya sambil membawa busur dan anak panah untuk berburu. Sejak muda, paman Rasulullah ini memang hobi dan gemar berburu binatang.

Setelah hampir seharian menghabiskan waktunya di tempat perburuan tanpa mendapatkan hasil, ia pun beranjak pulang. Sebelum kembali ke rumahnya, ia lebih dulu mampir di Ka'bah untuk melakukan thawaf.

Sebelum sampai di Ka'bah, seorang budak perempuan milik Abdullah bin Jud'an At-Taimi menghampirinya seraya berkata,"Hai Abu Umarah, andai saja tadi pagi kau melihat apa yang dialami oleh keponakanmu, Muhammad bin Abdullah, niscaya kamu tidak akan membiarkannya. Ketahuilah, bahwa Abu Jahal bin Hisyam telah memaki dan menyakiti keponakanmu itu, hingga akhirnya ia mengalami luka-luka di sekujur tubuhnya."

Usai mendengarkan panjang lebar peristiwa yang dialami oleh keponakannya, Hamzah terdiam sambil menundukkan kepalanya sejenak. Ia kemudian membawa busur dan anak panahnya, kemudian bergegas menuju Ka'bah dan berharap dapat bertemu Abu Jahal di sana.

Sampai di Ka'bah ia melihat Abu Jahal dan beberapa pembesar Quraisy sedang berbincang-bincang. Dengan tenang Hamzah mendekati Abu Jahal. Lalu dengan gerakan yang cepat ia lepaskan busur panahnya dan dihantamkan ke kepala Abu Jahal berkali-kali hingga jatuh tersungkur. Darah segar mengucur deras dari dahinya.

"Mengapa kamu memaki dan mencederai Muhammad, padahal aku telah menganut agamanya dan meyakini apa yang dikatakannya? Sekarang, coba ulangi kembali makian dan cercaanmu itu kepadaku jika kamu berani!" bentak Hamzah kepada Abu Jahal.

Dalam beberapa saat, orang-orang yang berada di sekitar Ka'bah lupa akan penghinaan yang baru saja menimpa pemimpin mereka. Mereka begitu terpesona oleh kata-kata yang keluar dari mulut Hamzah yang menyatakan bahwa ia telah menganut dan menjadi pengikut Muhammad.

Tiba-tiba beberapa orang dari Bani Makhzum bangkit untuk melawan Hamzah dan menolong Abu Jahal. Tetapi Abu Jahal melarang dan mencegahnya seraya berkata,"Biarkanlah Abu Umarah melampiaskan amarahnya kepadaku. Karena tadi pagi, aku telah memaki dan mencerca keponakannya dengan kata-kata yang tidak pantas."

Hamzah bin Abdul Muthalib adalah seorang yang mempunyai otak yang cerdas dan pendirian yang kuat. Ia adalah paman Nabi dan saudara sepersusuannya. Dia memeluk Islam pada tahun kedua kenabian. Ia juga hijrah bersama Rasulullah SAW dan ikut dalam perang Badar. Pada Perang Uhud syahid dan Rasulullah menjulukinya dengan "Asadullah" (Singa Allah) dan menyebutnya "Sayidus Syuhada" (Penghulu atau Pemimpin Para Syuhada).


Ketika sampai di rumah, ia duduk terbaring sambil menghilangkan rasa lelahnya dan membawanya berpikir serta merenungkan peristiwa yang baru saja dialaminya.

Sementara itu, Abu Jahal yang telah mengetahui bahwa Hamzah telah berdiri dalam barisan kaum Muslimin berpendapat, perang antara kaum kafir Quraisy dengan kaum Muslimin sudah tidak dapat dielakkan lagi.

Oleh sebab itu, ia mulai menghasut dan memprovokasi orang-orang Quraisy untuk melakukan tindak kekerasan terhadap Rasulullah dan pengikutnya. Bagaimanapun Hamzah tidak dapat membendung kekerasan yang dilakukan kaum Quraisy terhadap para sahabat yang lemah. Akan tetapi harus diakui, bahwa keislamannya telah menjadi perisai dan benteng pelindung bagi kaum Muslimin lainnya.

Lebih dari itu menjadi daya tarik tersendiri bagi kabilah-kabilah Arab yang ada di sekitar Jazirah Arab untuk lebih mengetahui agama Islam lebih mendalam. Sejak memeluk islam, Hamzah telah berniat untuk membaktikan segala keperwiraan, keperkasaan, dan juga jiwa raganya untuk kepentingan dakwah Islam.

Pada Perang Badar, Rasulullah menunjuk Hamzah sebagai salah seorang komandan perang. Ia dan Ali bin Abi Thalib menunjukkan keberanian dan keperkasaannya yang luar biasa dalam mempertahankan kemuliaan agama Islam. Akhirnya, kaum Muslimin berhasil memenangkan perang tersebut secara gilang gemilang.

Kaum kafir Quraisy tidak mau menelan kekalahan begitu saja, maka mereka mulai mempersiapkan diri dan menghimpun segala kekuatan untuk menuntut balas. Akhirnya, tibalah saatnya Perang Uhud di mana kaum kafir Quraisy disertai beberapa kafilah Arab lainnya bersekutu untuk menghancurkan kaum Muslimin. Sasaran utama perang itu adalah Rasulullah dan Hamzah bin Abdul Muthalib.

Seorang budak bernama Washyi bin Harb diperintahkan oleh Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan bin Harb, untuk membunuh Hamzah. Wahsyi dijanjikan akan dimerdekakan dan mendapat imbalan yang besar pula jika berhasil menunaikan tugasnya.

Akhirnya, setelah terus-menerus mengintai Hamzah, Wahsyi melempar tombaknya dari belakang yang akhirnya mengenai pinggang bagian bawah Hamzah hingga tembus ke bagian muka di antara dua pahanya. Tak lama kemudian, Hamzah wafat sebai syahid.

Usai sudah peperangan, Rasulullah dan para sahabatnya bersama-sama memeriksa jasad dan tubuh para syuhada yang gugur. Sejenak beliau berhenti, menyaksikan dan membisu seraya air mata menetes di kedua belah pipinya. Tidak sedikitpun terlintas di benak beliau bahwa moral bangsa arab telah merosot sedemikian rupa, hingga dengan teganya berbuat keji dan kejam terhadap jasad Hamzah. Dengan keji mereka telah merusak jasad dan merobek dada Hamzah dan mengambil hatinya.

Kemudian Rasulullah mendekati jasad Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib, Singa Allah, Seraya berkata,"Tak pernah aku menderita sebagaimana yang kurasakan saat ini. Dan tidak ada suasana apa pun yang lebih menyakitkan diriku daripada suasana sekarang ini."

Setelah itu, Rasulullah dan kaum Muslimin menyalatkan jenazah Hamzah dan para syuhada lainnya satu per satu.

Ibnu Atsir dalam kitab Usud Al-Ghabah, mengatakan dalam Perang Uhud, Hamzah berhasil membunuh 31 orang kafir Quraisy. Sampai pada suatu saat ia tergelincir sehingga terjatuh kebelakang dan tersingkaplah baju besinya, dan pada saat itu ia langsung ditombak dan dirobek perutnya. Lalu hatinya dikeluarkan oleh Hindun kemudian dikunyahnya. Namun Hindun memuntahkannya kembali karena bisa menelannya.

Ketika Rasulullah melihat keadaan tubuh pamannya Hamzah bin Abdul Muthalib, Beliau sangat marah dan Allah menurunkan firmannya: "Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar." (QS An-Nahl: 126)

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq Sirah-nya, bahwa Ummayyah bin Khalaf bertanya pada
Abdurahman bin Auf, "Siapakah salah seorang pasukan kalian yang dadanya dihias dengan bulu bulu itu?"

"Dia adalah Hamzah bin Abdul Muthalib," jawab Abdurrahman bin Auf.

"Dialah yang membuat kekalahan kepada kami," ujar Khalaf.

Abdurahman bin Auf menyebutkan bahwa ketika perang Badar, Hamzah berperang disamping Rasulullah dengan memegang dua bilah pedang.

Diriwayatkan dari Jabir bahwa ketika Rasulullah SAW melihat Hamzah terbunuh, maka beliau menagis.

Baca Juga Kisah Sahabat Nabi :
Ibnu Nathur, Uskup Kota Iliya, Romawi
Najasyi, Raja Habasyah
Hudzaifah Ibnul Yaman RA
Seorang Penanya Hari Kiamat
Muawiyah bin Abu Sufyan RA

Sunday, March 5, 2017

Farwah bin Musaik al Ghuthaifi RA

Farwah bin Musaik al Ghuthaifi RA seorang sahabat yang berasal dan tinggal di Saba, termasuk wilayah Yaman. Negeri itu di masa lalu dikuasai oleh Ratu Balqis yang menyembah matahari, tetapi akhirnya memeluk Islam mengikuti dakwah Nabi Sulaiman AS. Kisahnya diabadikan di dalam Al Qur’an. Sebagian penduduk Saba telah memeluk Islam, tetapi sebagian dari mereka ini kembali ke agama lamanya atau murtad. Farwah menemui Nabi SAW dan berkata, "Ya Rasulullah, bolehkah aku memerangi orang yang berpaling dari Islam di antara kaumku, bersama orang-orang yang masih memeluk Islam?"

Nabi SAW mengijinkan niat Farwah ini, karena secara syariah hal itu memang dibolehkan. Tetapi karena ada pertimbangan lain, Farwah bertanya lagi, "Ya Rasulullah, rasanya aku tidak akan mampu memerangi mereka, karena mereka akan bergabung dengan penduduk Saba lainnya yang masih memeluk agama lamanya. Dan mereka adalah kaum yang lebih kuat daripada kami."

Tetapi Nabi SAW memerintahkan Farwah untuk melaksanakan niatnya yang pertama, yakni memerangi orang-orang yang murtad tersebut. Tidak masalah ia menang atau kalah, yang jelas ia telah melaksanakan kewajibannya. Kalaupun ia dan pasukannya gugur semua, surga telah menunggunya karena mereka gugur dalam keadaan syahid.

Farwah kembali ke perkemahannya, dimana kabilahnya berkumpul. Tetapi tidak berapa lama ada utusan Rasulullah SAW yang menjemputnya untuk menemui beliau lagi. Farwah kembali bergabung dengan Nabi SAW dan sahabat lainnya. Beliau memberitahukan tentang turunnya ayat tentang kaum Saba dan beliau melarang untuk memerangi kaumnya tersebut. Beliau berkata, "Serulah kaum itu kepada Islam terlebih dahulu, siapa yang bersedia, maka terimalah mereka. Jika mereka menolak, janganlah kamu tergesa memerangi sampai engkau melaporkannya kepadaku."

Farwah menanyakan tentang nama 'Saba', apakah nama sebuah tempat atau nama wanita? Nabi SAW menjelaskan, "Saba bukanlah nama suatu tempat atau nama seorang wanita, tetapi ia nama seorang lelaki yang menurunkan sepuluh kabilah Arab, enam di Yaman, yaitu : Azdi, Kindah, Himyar, al Asy'ariyyun, Ammar dan Madzhij. Sedang empat kabilah di Syam, yaitu : Lahm, Judzdzam, Ghassan dan Amilah."

Setelah itu Farwah kembali kepada kabilah dan segera pulang ke Saba untuk melaksanakan dakwah seperti yang diperintahkan Rasulullah SAW

Baca Juga :
Ali bin Abi Thalib RA
Badzan, Abanauah dan Jadd Jamira
Ali bin Abi Thalib RA
Said bin Amir RA
Abdullah bin Mas'ud RA

Hushain bin Ubaid al Khuzai RA

Hushain bin Ubaid al Khuzai, ayah dari seorang sahabat yang cukup banyak meriwayatkan hadits Nabi SAW, Imran bin Hushain. Ia adalah seorang tua yang punya pengaruh cukup besar di masa jahiliah sekaligus salah satu pemuka Bani Khuza’ah, sekutu dari kaum Quraisy. Ia juga terkenal sebagai seorang yang pintar berdebat dan berdiplomasi. Tetapi ia didahului (tertinggal) oleh anaknya dalam memeluk Islam.

Suatu ketika Hushain bin Ubaid diminta kaum Quraisy untuk menasehati Nabi SAW yang dianggap telah menghina dan mencaci maki berhala-berhala sesembahan mereka. Berangkatlah Hushain diiringi orang Quraisy lainnya menuju majelis dimana Nabi SAW dan sahabat-sahabat beliau sedang berkumpul, termasuk putranya Imran. Setibanya disana, Imran langsung berpaling melihat kehadiran ayahnya, tetapi Nabi SAW bersabda, “Berilah jalan kepada orang tua ini!!”

Setelah berhadapan dengan Nabi SAW, Hushain berkata, “Benarkah yang kami dengar tentang dirimu, bahwa engkau mencaci maki dan menjelek-jelekkan tuhan-tuhan kami, padahal kakekmu (Abdul Muthalib) dahulu adalah orang baik-baik!!”

Nabi SAW bersabda, "Hai Hushain, berapakah Tuhan yang kamu sembah?”

Hushain menjawab, "Tuhan yang kusembah itu tujuh di bumi dan satu di langit.”

Beliau bertanya lagi, “Jika kamu ditimpa musibah, kepada siapakah kamu berdoa?”

Hushain menjawab, “Kepada Tuhan yang di langit.”

Nabi SAW bersabda lagi, "Jika Tuhan yang Satu di langit itu mengabulkan doamu, sedang kalian mempersekutukanNya dengan tujuh tuhan di bumi, apakah benar engkau telah membuat ridha Tuhan yang mengabulkan doamu itu? Apakah itu cara syukurmu atau engkau takut Dia akan mengalahkanmu?"

Hushain tak berkutik dengan pernyataan beliau itu yang susah dibantah dengan logika berfikirnya, dan ia hanya tercenung merenunginya. Dalam keadaan seperti itu, Nabi SAW menjelaskan risalah Islam dan mengajaknya untuk memeluknya mengikuti jalan kebenaran, sehingga Hushain tidak beranjak dari majelis itu kecuali ia telah memeluk Islam.

Imran bin Hushain langsung berdiri dan menghampiri ayahnya, kemudian mencium kepala, kedua tangan dan kedua kaki Hushain yang telah memeluk Islam, sebagai penghormatan seorang anak kepada orang tuanya. Rasulullah SAW sampai menangis melihat peristiwa itu. Seorang sahabat bertanya, "Mengapa engkau menangis, ya Rasulullah?"

Beliau bersabda, "Aku menangis melihat perbuatan Imran, ketika ayahnya masuk menemuiku, ia tidak bangun mendekati ayahnya bahkan tidak menoleh ke arahnya sedikitpun. Tetapi ketika Hushain memeluk Islam, ia telah menunaikan kewajibannya sebagai anak dan hak ayahnya. Dan itu membuat hatiku terharu dan berkesan."

Ketika Hushain beranjak pulang, Nabi SAW menyuruh sahabat-sahabatnya berdiri dan mengucapkan ucapan salam dan selamat, sebagian lagi mengantarnya pulang. Orang-orang Quraisy yang tadi mengikutinya jadi tahu kalau Hushain telah memeluk Islam.

Baca Juga Kisah Sahabat Nabi:
Hudzaifah Ibnul Yaman RA
Sa’adz bin Mu’adz RA
Ghitrif & Ghatafan bin Sahl, Urwah bin Abdullah R.Hum
Ibnu Nathur, Uskup Kota Iliya, Romawi
Zaid Bin Arqam RA

Said Bin Zaid RA