Monday, October 9, 2017

Ummu Sulaim

Ummu Sulaim, nama aslinya Rumaisha binti Milhan telah memeluk Islam, ketika Abu Thalhah, salah seorang yang terpandang dari penduduk Madinah yang masih musyrik melamarnya. Ia adalah seorang janda dari pernikahannya di masa jahiliah dengan Malik bin Nadhar. Sedangkan anaknya, Anas bin Malik RA adalah salah satu sahabat Nabi yang banyak sekali meriwayatkan hadits beliau.

Atas lamaran Abu Thalhah itu, ia berkata, "Wahai Abu Thalhah, Demi Allah tidak ada wanita yang akan menolak lamaran orang yang sepertimu. Tetapi aku seorang wanita muslimah dan engkau seorang yang kafir, karenanya aku tidak dibenarkan menikah denganmu. Jika engkau mau, masuklah kamu ke dalam agama Islam, dan itulah mahar yang kuminta, dan tidak akan meminta mahar yang lainnya lagi!"

Karena memang terlanjur suka, Abu Thalhah menyetujui permintaan Ummu Sulaim untuk memeluk Islam. Mahar telah diberikan oleh Abu Thalhah, yakni keislamannya tersebut, maka Ummu Sulaim berkata kepada anaknya, "Hai Anas, nikahkanlah ibumu ini dengan Abu Thalhah."

Seorang sahabat bernama Tsabit berkata, "Aku tidak pernah mendengar seorang perempuan yang mahar pernikahannya lebih utama daripada maharnya Ummu Sulaim."

Dari pernikahannya dengan Abu Thalhah, Ummu Sulaim mempunyai anak yang bernama Abu Umair. Nabi SAW sering bercanda dengan Abu Umair ketika berkunjung ke rumah Abu Thalhah. Suatu ketika Abu Umair menderita sakit yang cukup parah. Pada saat yang sama, Abu Thalhah sedang ada keperluan keluar dalam waktu agak lama, dan ketika itu anaknya meninggal dunia. Karena suaminya tidak ada di rumah, Ummu Sulaim mengurus sendiri jenazah anaknya. Ia memandikan dan mengkafaninya serta membaringkannya di tempat tidur.

Hari itu Abu Thalhah sedang berpuasa sunnah, karena itu Ummu Sulaimpun menyiapkan makanan bagi suaminya untuk berbuka. Ia juga berhias dan memakai wangi-wangian untuk menyambut suaminya. Malam harinya Abu Thalhah pulang, ia berbuka dengan makanan yang disiapkan istrinya. Ia bertanya tentang keadaan anaknya yang sakit, dan Ummu Sulaim menjawab, "Alhamdulillah, dia dalam keadaan yang

baik-baik saja. Engkau tidak perlu memikirkan keadaannya lagi."

Tentu, maksudnya adalah menenangkan suaminya tanpa ia harus mendustainya. Karena sudah meninggal, jelas saja tidak perlu dipikirkan lagi. Tetapi Abu Thalhah menjadi tenang, ia meneruskan makannya. Malam itu ia juga menggauli istrinya, kemudian tertidur.

Ketika bangun pagi harinya, Ummu Sulaim yang sudah bangun terlebih dulu bertanya, "Wahai suamiku, seandainya seseorang diberi suatu amanah, kemudian pemiliknya mengambilnya kembali, haruskan ia mengembalikannya kembali?"

"Tentu," Kata Abu Thalhah, "Dia harus mengembalikannya, ia tidak punya hak untuk menyimpannya!"

Mulailah Ummu Sulaim menjelaskan keadaan anaknya, "Suamiku, Allah telah mengamanatkan Abu Umair kepada kita, namun kini Dia telah memanggilnya kembali kemarin."

Mendengar penuturan ini Abu Thalhah jadi sedih, bahkan sedikit marah. Ia menyesali kenapa Ummu Sulaim tidak memberitahukannya semalam. Ia menemui Nabi SAW dan mengadukan apa yang dilakukan istrinya. Ternyata Rasulullah SAW memuji kesabaran dan apa yang dilakukan Ummu Sulaim tersebut, beliau juga mendoakan, "Semoga Allah SWT memberkati hubunganmu tadi malam dengan istrimu."

Doa ini menjadi kenyataan. Dari hubungannya itu Ummu Sulaim melahirkan seorang anak yang diberi nama Abdullah bin Abu Thalhah. Dan lama berselang setelah Nabi SAW wafat, Abdullah mempunyai sembilan anak yang semuanya hafal Qur'an (al Hafizh)

Walaupun seorang wanita, Ummu Sulaim juga terlibat dalam beberapa pertempuran. Dalam perang Uhud, bersama Ummu Mukminin Aisyah RA, ia mengisi tempat-tempat air dan memberikan pada para mujahid yang memerlukannya. Ia juga merawat mereka yang sakit dan terluka dalam pertempuran itu.

Dalam Perang Hunain, ketika itu ia sedang mengandung anaknya, Abdullah bin Abu Thalhah, tidak menghalanginya untuk ikut berjuang. Ia berdiri di dekat kemah Nabi SAW sambil memegang tombak. Ketika Nabi SAW menanyakan tentang tombaknya, ia berkata, "Jika ada orang kafir yang akan mendekatimu, aku akan melemparkan tombak ini ke perutnya."

Baca Juga Kisah Sahabat Nabi :
Abdullah bin Mughaffal al Muzanni RA
Amr bin Uqaisy RA
Abu Ayyub al-Anshari RA
Abdul Rahman al Harits at Taimimi RA
Abu Umamah, Shudday bin Ajlan RA

Tags : Kisah Sahabat Nabi, Al Qur'an, Islam, Nabi, Abdullah bin Abu Thalhah, Ummu Mukminin Aisyah RA, Ummu Sulaim, Anas bin Malik RA, Rasulullah SAW, Perang Hunain, Rumaisha binti Milhan 

Seorang Lelaki Ahli Surga

Ketika sedang bersama beberapa sahabat, tiba-tiba Nabi SAW berkata, "Sebentar lagi akan lewat di depan kalian, seorang lelaki Ahli Surga" 

Tak lama kemudian lewat seorang lelaki Anshar yang jenggotnya masih basah oleh air wudlu sambil menenteng sandalnya. Esok harinya Rasullullah SAW mengatakan hal yang sama dan kemudian lewatlah lelaki tersebut. Begitupun pada hari ketiganya, kejadian yang sama berulang, Nabi menyabdakan, dan lelaki itu yang lewat. 

Setelah Nabi SAW beranjak pergi, Abdullah bin Umar RA mengikuti lelaki tsb. dan bersiasat untuk bisa mengetahui amalannya sehingga Nabi SAW menyebutnya Ahli Surga hingga tiga hari berturut-turut. Abdullah bin Umar bertamu pada lelaki tsb dan berkata, "Aku telah membuat ayahku marah, dan aku bersumpah untuk tidak menemuinya selama tiga hari. Jika engkau membolehkan, aku ingin tinggal bersamamu dalam tiga hari ini kemanapun engkau pergi, aku akan mengikutimu." 

Lelaki Anshar tersebut tidak keberatan dengan permintaannya, maka tinggallah Ibnu Umar di rumah lelaki tsb. selama tiga hari. Anehnya ia tidak melihat lelaki itu melakukan shalat malam, kecuali jika ia berpindah dari suatu tempat atau dari tempat tidurnya, ia selalu menyebut asma Allah, hingga bangun menjelang waktu shalat subuh. Memang tidak ada yang keluar dari mulutnya kecuali ucapan yang baik. 

Sampai berakhirnya tiga hari, Abdullah bin Umar tidak melihat sesuatu yang istimewa yang diamalkannya, bahkan hampir saja ia meremehkannya. Kemudian Ibnu Umar berkata kepadanya, "Wahai Hamba Allah, sesungguhnya aku tidak punya masalah dengan ayahku, Umar, dan tidak pula ia mengusirku. Tetapi aku mendengar Rasullullah SAW bersabda dalam tiga hari 'Akan lewat di depan kalian seorang ahli surga' dan engkau yang muncul dalam tiga hari itu. Karenanya aku ingin melihat amalan apa yang engkau lakukan sehingga engkau mencapai derajat yang disabdakan Nabi SAW tsb. Hanya saja dalam tiga hari ini aku belum melihat amalanmu tersebut." 

Lelaki Anshar itu berkata, "Tidak ada yang istimewa, hanya saja aku tidak pernah memendam perasaan jelek pada saudara sesama Islam, dan tidak juga aku mendengki atas kurnia Allah yang diberikan kepadanya." 

"Rupanya, itulah kebaikan yang mengantarkanmu menjadi ahli surga." Kata Abdullah bin Umar.

Baca Juga Kisah Sahabat Nabi :
Seorang Peminta Burdah Rasulullah SAW
Umair bin Hammam al Anshari RA
Auf bin Abu Hayyah al Ahmasi RA
Hilal bin Umayyah al Waqifi RA
Ka'ab bin Malik al Anshari RA

Tags : Kisah Sahabat Nabi, Al Qur'an, Islam, Nabi, lelaki Ahli Surga, Abdullah bin Umar RA, Anshar

Mu'adz bin Amr bin Jamuh RA dan Mu'awidz bin Afra RA

Ketika perang Badar sedang berkecamuk dengan sengitnya, dua orang pemuda Anshar menghampiri Abdurrahman bin Auf RA yang berada di ujung tombak pasukan, salah satunya bertanya, "Wahai paman, tunjukkan padaku mana yang namanya Abu Jahal?" 

Ketika Abdurrahman bin Auf menanyakan keperluannya dengan Abu Jahal, pemuda tersebut, yang adalah Mu'adz bin Amr bin Jamuh RA, dengan semangat menjawab, "Kudengar ia suka mencaci maki Rasulullah SAW, demi Allah yang diriku di tanganNya, jika aku sudah melihatnya, takkan kubiarkan ia lolos hingga siapakah di antara kami berdua yang terlebih dahulu mati...!!"

Ibnu Auf melihat kepada pemuda satunya, pemuda ini, yang tak lain adalah Mu'awidz bin Afra (nama sebenarnya Muawwidz bin Harits bin Rifaah, Afra dinisbahkan kepada nama ibunya) juga menegaskan pernyataan yang sama. Abdurrahman bin Auf memandang berkeliling mencari keberadaan Abu Jahal.

Ketika ia telah menunjukkan sosok tokoh kafir Quraisy tersebut, dua pemuda ini langsung menghambur ke arah Abu Jahal. Saat itu Abu Jahal tengah naik kuda, Mu'awidz menyabet kaki kudanya hingga jatuh, dan Mu'adz menebas kaki Abu Jahal hingga putus. Tetapi kemudian Ikrimah bin Abu Jahal datang, ia menyerang Mu'adz dan mengenai pundaknya hingga hampir putus, sementara Mu'awidz sekali lagi menyerang Abu Jahal hingga sekarat. Mu'adz terus bertempur dengan satu lengan hampir putus, dan karena terganggu dengan keadaan lengannya itu, sekalian saja ia memotongnya. 

Setelah robohnya Abu Jahal, mereka berdua menemui Rasulullah SAW dan menceritakan apa yang mereka lakukan terhadap Abu Jahal. Masing-masing mengaku sebagai pembunuh Abu Jahal, karena itu beliau meminta mereka menunjukkan pedangnya. Setelah memeriksa pedang-pedang itu, beliau bersabda, "Kalian berdua telah membunuh Abu Jahal..!" 

Usai peperangan, Nabi SAW memerintahkan para sahabat mencari Abu Jahal. Akhirnya Abdullah bin Mas'ud menemukannya tengah sekarat, ia memotong kepalanya dan membawanya kepada Rasulullah SAW. 

Semua harta rampasan perang milik Abu Jahal diserahkan kepada Mu'adz bin Amr karena Mu'awidz ternyata syahid dalam perang Badar ini.

Baca Juga Kisah Sahabat Nabi :
Amr bin Ash RA
Khaulah binti Hakim RA
Abdullah bin Amr bin Al-Ash RA
Khansa binti Amr Ra
Si Badui yang Menghisab Allah SWT

Tags : Kisah Sahabat Nabi, Al Qur'an, Islam, Nabi, Abdurrahman bin Auf RA, Mu'adz bin Amr bin Jamuh RA, Mu'awidz bin Afra, Abu Jahal, Abdullah bin Mas'ud, perang Badar, Muawwidz bin Harits bin Rifaah,

Ulbah bin Zaid bin Haritsah RA

Ketika Nabi SAW menyeru kepada para sahabat untuk bersiap-siap berangkat ke Tabuk sekaligus memobilisasi sedekah/dana, Ulbah bin Zaid merasa amat bersedih karena ia tidak memiliki apapun, baik harta ataupun kekuatan untuk memenuhi panggilan Nabi SAW. 

Pada suatu malam, iapun keluar menuju tempat yang sepi. Ia shalat sunnah sebanyak yang ia mampu. Usai shalat, sambil menangis ia berdoa, "Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah memerintahkan jihad dan Engkau memberikan dorongan untuk itu, tetapi Engkau tidak memberikan bekal dan memberikan kekuatan padaku. Tidak juga Engkau berikan kendaraan pada RasulMu yang dapat aku tunggangi… Ya Allah, sesungguhnya aku sedekahkan kepada semua kaum muslimin, segala hal yang mereka ambil dariku tanpa hak, baik pada harta, jasad dan juga kehormatanku..!!" 

Pada pagi harinya, ketika ia tengah berkumpul dengan para sahabat lainnya, tiba-tiba Nabi SAW bersabda, "Dimanakah orang yang bersedekah tadi malam? Berdirilah!!" 

Beberapa saat tidak ada yang berdiri, begitupun Ulbah, karena memang ia tidak merasa menemui Nabi SAW dan bersedekah. Tetapi sekali lagi Nabi SAW mengulangi pertanyaannya dan tetap tidak ada yang berdiri. Akhirnya Ulbah memberanikan diri mendatangi Rasulullah SAW, dan menceritakan apa yang dilakukannya semalam. Beliau tersenyum dan bersabda, "Bergembiralah engkau! Demi Dia yang memegang jiwaku dalam tanganNya, sesungguhnya sedekahmu telah ditulis sebagai zakat yang diterima!!" 

Tentu saja Ulbah amat gembira dengan apa yang disampaikan Rasulullah SAW tersebut, walau tidak memiliki apapun, ia masih bisa menyumbangkan doa, yang ternyata sangat banyak berarti bagi dirinya.

Baca Juga Kisah Sahabat Nabi :
Utbah bin Ghazwan RA
Utsman bin Thalhah al Adawi RA
Wanita Tua dari Bani Adi bin Najjar
Jarir bin Abdullah al Bajali RA
Abu Lubabah RA

Abu Bakar ash Shiddiq RA

Apa yang Dikatakan Rasullullah SAW tentang Abu Bakar RA 

Abu Bakar RA adalah orang dewasa pertama yang masuk islam, tetapi bukan itu saja, Rasullullah SAW juga memujinya karena cara penerimaan ajakan Rasullullah SAW untuk memeluk islam. Tentang hal ini Beliau bersabda, "Tiada pernah aku mengajak seseorang masuk Islam, tanpa ada hambatan, tanpa mengemukakan pandangan dan alasan kecuali Abu Bakar. Ketika aku menyampaikan ajakan tersebut, dia langsung menerimanya tanpa ragu sedikitpun." 

Abu Bakar RA juga sahabat Rasullullah SAW jauh sebelum Beliau mendakwahkan Islam. Selisih usianya yang hanya bertaut dua tahun lebih muda, dan kemuliaan budi pekerti Abu Bakar dibandingkan orang-orang Makkah saat itu, membuatnya dekat dan akrab dengan Rasullullah SAW. Bahkan Abu Bakar menjadikan sosok Nabi SAW sebagai cerminan dan teladan untuk meningkatkan kualitas dirinya. Tak heran begitu memeluk Islam, keimanan dan keteguhannya dalam menjaga agamanya tak diragukan lagi, bahkan Rasulullah SAW sendiripun memujinya. Beliau bersabda tentang dirinya "Jika ditimbang keimanan Abu Bakar dengan keimanan seluruh umat, akan lebih berat keimanan Abu Bakar." (HR Iman Baihaqi, dalam Asy Syib) 

Masih banyak lagi pujian Nabi SAW terhadap Abu Bakar, misalnya : Pemimpin jamaah di surga, Semua pintu surga akan memanggilnya untuk memasukinya, Orang pertama yang masuk surga dari umat Nabi SAW, dll. 

Kegigihan Abu Bakar RA dalam Menjalankan dan Mendakwahkan Agamanya

Abu Bakar adalah salah seorang yang sangat dihormati dikalangan orang-orang Makkah, selain karena kemuliaan budi pekertinya, kejujuran, kecerdasan, kecakapan, berkemauan keras, pemberani dan dermawan, dia juga berasal dari keturunan yang mulia dari Bangsa Quraisy. Nasab kedua orang tuanya bertemu dengan nasab Rasullullah SAW pada Murrah Bin Ka'ab, kakeknya. Namun demikian, pilihannya untuk masuk agama Islam membuat orang-orang Makkah mengabaikan kedudukan dan kemuliaannya tersebut. 

Tidak mudah bagi Abu Bakar untuk menjalankan ibadah sebagaimana sahabat-sahabat yang mula-mula memeluk Islam, gangguan dan siksaan juga dialaminya. Ketika penganiayaan dan tekanan semakin dahsyat, dia meminta ijin kepada Rasullullah SAW untuk berhijrah ke Habsyi, dan Rasullullah SAW pun mengijinkannya. Ketika perjalanannya sampai pada tempat bernama "Barkulimat", Abu Bakar RA bertemu dengan Ibnu Addaghnah, pemimpin suku setempat . Ketika ditanya tentang perjalanannya tersebut, Abu Bakar RA menjawab, "Aku dipaksa keluar (dari Makkah) oleh kaumku, dan aku ingin merantau di muka bumi sehingga aku dapat beribadah kepada Rabbku."

Mendengar jawaban itu, Ibnu Addaghnah berkata, "Orang seperti engkau hai Abu Bakar, tidak boleh keluar atau dikeluarkan. Engkau selalu menolong orang yang miskin, suka bersilaturahmi, membantu orang yang sengsara dan lemah, dan menghormati tamu. Aku bersedia menjadi pelindungmu. Kembalilah ke Makkah, dan sembahlah Tuhanmu di negerimu." 

Budaya "Pelindung/Melindungi” adalah budaya yang sangat dihormati di kalangan suku-suku Arab. Begitu seorang yang punya pengaruh menyatakan diri sebagai "Pelindung" bagi seseorang, maka maka harta, darah dan kehormatan orang tersebut aman dari gangguan dan siksaan orang-orang sekitarnya. Budaya ini pula yang membantu Nabi SAW mendakwahkan Islam di tengah penolakan dan permusuhan kaum kafir Quraisy Makkah karena Abu Thalib menyatakan diri sebagai "Pelindung" Rasullullah SAW. Begitu Abu Thalib meninggal, Rasullullah SAW mengalami siksaan dan penghinaan yang tak kalah hebatnya dengan sahabat-sahabat beliau yang lain. 

Abu Bakar kembali ke Makkah dan Ibnu Addaghnah mengumumkan "Perlindungan" yang diberikannya pada Abu Bakar, dia melarang siapapun untuk mengganggu Abu Bakar. Orang-orang kafir Quraisy tak berkutik, tetapi mereka mengajukan syarat agar Abu Bakar tidak bersuara keras dalam beribadah, karena khawatir kaum wanita dan anak-anak mereka akan terganggu. Ibnu Addaghnah dan Abu Bakar menerima persyaratan itu. 

Abu Bakar mendirikan mushalla di depan rumahnya, dia shalat dan membaca Qur'an di sana. Setiap kali selesai membaca Qur'an, dia selalu menangis, hal ini membuat wanita dan anak-anak orang kafir Quraisy jadi tertarik dan mulai terpengaruh dengan apa yang dilakukan Abu Bakar. Kaum kafir Quraisy pun jadi khawatir dan mengadukan ini pada Ibnu Addaghnah. Ibnu Addaghnahpun mendatangi Abu Bakar dan berkata, "Engkau telah mengetahui perjanjian dengan orang-orang Quraisy, hendaklah engkau menepati perjanjian itu, atau engkau kembalikan perlindunganku?" 

Dengan jawaban yang menunjukkan keteguhan imannya, Abu Bakar RA pun menjawab, "Aku kembalikan janji perlindunganmu, dan aku ridha dengan perlindungan Allah SWT." 

Mulailah Abu Bakar mengalami tekanan dan siksaan dalam beribadah kepada Allah SWT sebagaimana sebelumnya. 

Setelah memeluk Islam, Abu Bakar RA mengurangi aktivitas perdagangan yang sebenarnya cukup sukses, dan mengabdikan waktu, tenaga dan hartanya untuk agama yang diyakini kebenarannya itu. Tercatat beberapa sahabat utama menjadi muslim karena ajakan Abu Bakar, seperti Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Sa'ad bin Abi Waqqash, Thalhah bin Ubaidillah, Abu Ubaidah bin Jarrah, dan Abdurrahman bin Auf. Mereka ini adalah sebagian dari sepuluh orang sahabat yang dijamin akan masuk surga sebagaimana diberitakan Nabi SAW pada Aisyah RA. Selain itu, Utsman bin Mazh'un, Abu Salamah bin Abdul Asad, Al Arqam bin Abil Arqam juga mengikuti ajakan Abu Bakar untuk masuk islam pada periode awal. 

Abu Bakar juga mengorbankan hartanya untuk menebus dan membebaskan budak-budak yang disiksa oleh tuannya karena memeluk agama Islam, diantaranya adalah Bilal bin Rabbah dan Ibunya, 'Amr bin Farikhah, ibu dari Jubaish, Budak wanita dari Bani Muamil dan Hammamah, Zanirah, budak Umar bin Khaththab, dan lain-lain. 

Sikap Abu Bakar atas Perjanjian Hudaibiyah

Dikukuhkannya Perjanjian Hudaibiyah antara Nabi SAW dan orang-orang Quraisy, meninggalkan banyak kegelisahan pada umat Islam, bahkan pada sahabat selevel Umar bin Khaththab, karena secara sepintas perjanjian Hudaibiyah itu cenderung menguntungkan orang-orang Quraisy dan merugikan umat Islam. Hanya Abu Bakar yang yakin 100% atas keputusan Rasulullah SAW, bahkan ia memberikan jawaban yang sama persis dengan Nabi SAW, ketika Umar yang kritis sempat mempertanyakan keputusan Rasulullah SAW menerima perjanjian ini. Abu Bakar memberikan nasehat pada Umar bin Khaththab karena sikapnya tersebut, "Patuhlah engkau pada perintah dan larangan Rasulullah sampai engkau meninggal dunia, Demi Allah, beliau berada di atas kebenaran." 
Sikap Abu Bakar ini sama persis dengan sikapnya, ketika Rasulullah SAW memberitakan peristiwa Isra dan Mi'raj yang menggemparkan itu kepada masyarakat Quraisy, sikap yakin sepenuhnya atas benarnya perkataan dan sikap serta keputusan Nabi SAW, tanpa setitikpun ada kesangsian. Karena sikapnya pada peristiwa Isra' Mi'raj ini Abu Bakar digelari Nabi SAW "ash Shiddiq" 

Ketika sebagian besar sahabat merasakan “kekalahan” dengan adanya perjanjian Hudaibiyah ini, Abu Bakar justru berpendapat lain, ia berkata, "Tidak ada kemenangan yang lebih besar daripada kemenangan pada perjanjian Hudaibiyah, akan tetapi kebanyakan orang berfikir pendek mengenai apa yang terjadi antara Nabi SAW dengan Rabbnya, sedang para hamba saat itu tergesa-gesa. Demi Allah, beliau tidak tergesa-gesa seperti ketergesaan hamba, sampai beliau menyampaikan semua urusan sebagaimana beliau kehendaki." 

Bersama Rasullullah SAW, tetapi Rasullullah tidak Terlihat

Kedekatan dan kecintaan Abu Bakar terhadap Nabi SAW tidak diragukan lagi, bahkan telah terjalin sebelum Nabi SAW diangkat menjadi Nabi dan mengemban Risalah Islam. Maka tak heran ketika Nabi SAW mengalami tekanan dan siksaan, Abu Bakar pun ikut merasakan kesedihan dan luka, bahkan lebih dalam dirasakan dibanding bila ia sendiri yang mengalaminya. 

Setelah turunnya surat Al Lahab, Ummu Jamil, istri Abu Lahab yang dikatakan sebagai Pembawa Kayu Bakar dalam Surah tsb, begitu marah kepada Rasullullah SAW. Dengan membawa batu besar ia datang menghampiri Nabi SAW yang saat itu sedang duduk bersama Abu Bakar, Abu Bakar menangis melihat niat Ummu Jamil tsb. Tetapi Rasullullah menenangkannya dengan mengatakan, "Biarkan saja, ia tidak melihatku." 

Benar saja, setelah dekat Ummu Jamil berkata kepada Abu Bakar RA, "Hai Abu Bakar, dimana kawanmu Si Muhammad itu, aku dengar ia menyindirku dengan mengatakan : ..dan istrinya, si pembawa kayu bakar, di lehernya ada tali dari sabut…Demi Allah, jika aku menjumpainya, pasti akan aku pukul dengan batu ini." 

Itulah Abu Bakar, Rasulullah SAW yang ingin disakiti, itupun telah membuatnya sedih. 

Dalam Perjalanan Hijrah Bersama Rasulullah SAW

Setelah berlangsungnya Baiatul Aqabah kedua, atau juga dikenal dengan Baiatul Aqabah Kubra, Rasulullah SAW menghimbau kaum muslimin untuk berhijrah ke Madinah. Sebagian besar berangkat dengan sembunyi-sembunyi tetapi ada juga yang terang-terangan seperti Umar bin Khaththab. Sebagian sahabat yang telah berhijrah ke Habasyah ada yang langsung berangkat ke Madinah.

Dua bulan lebih setelah Baiatul Aqabah Kubra tersebut, hampir semua kaum muslimin telah meninggalkan Makkah menuju Madinah, kecuali beberapa orang yang diberikan keringanan (rukhsah) untuk tidak berhijrah. Ketika Abu Bakar meminta ijin Rasulullah SAW untuk berhijrah, beliau bersabda, “Tundalah keberangkatanmu, sesungguhnya aku masih menunggu izin bagiku untuk berhijrah (dan kita akan berangkat bersama-sama)..!!”

“Demi bapakku menjadi taruhannya,” Kata Abu Bakar, “Dalam keadaan seperti ini engkau masih menunggu ijin??”

Nabi SAW mengiyakan. Memang benar firman Allah, Rasulullah tidaklah mengatakan atau melakukan sesuatu karena hawa nafsunya, tetapi semua itu adalah atas wahyu dan petunjuk dari Allah (Wa maa yantiqu ‘anil hawaa, in huwa illa wahyuy yuukha). Dan Abu Bakar masih harus menunggu lagi selama empat bulan, sampai suatu pagi salah seorang pembantunya memberitahukan kepadanya, “Ini ada Rasulullah mengenakan kain penutup wajah, tidak biasanya beliau menemui kita pada saat-saat seperti ini…!”

Abu Bakar berkata, “Demi ayah dan ibuku sebagai jaminannya, beliau tidak akan menemui aku di saat seperti ini kecuali ada urusan yang sangat penting…!!”

Nabi SAW sampai di pintu rumah Abu Bakar dan meminta ijin untuk masuk. Setelah diijinkan, beliau segera masuk dan berkata,

“Aku sudah diijinkan untuk pergi (berhijrah)..!!”

“Demi ayah dan ibuku sebagai jaminannya, ya Rasulullah, apakah aku harus menyertai engkau (dalam perintah/ijin berhijrah tersebut)?”

“Benar” Kata Rasulullah SAW.

Hati Abu Bakar menjadi gembira. Sungguh suatu kehormatan dan kemuliaan menyertai Nabi SAW dalam hijrah ke Madinah. Beliau merancang beberapa langkah yang akan ditempuh dalam hijrah kali ini, demi mengantisipasi berbagai kemungkinan, setelah itu beliau pulang.

Pada awal malam di hari itu, beberapa orang tokoh kaum Quraisy mengepung rumah Nabi SAW dengan niat bulat untuk membunuh beliau. Menjelang tengah malam, beliau berkata kepada Ali bin Abi Thalib, “Tidurlah engkau di atas tempat tidurku, berselimutlah dengan mantelku warna hijau yang berasal dari Hadramaut ini. Tidurlah dengan berselimut mantel ini. Sungguh engkau akan tetap aman dari gangguan mereka yang engkau khawatirkan itu!!”

Ali melaksanakan perintah Rasulullah tersebut, dan beliau keluar melewati kepungan para tokoh Quraisy tersebut, bahkan beliau sempat menaburkan pasir di atas kepala mereka yang dalam keadaan tertidur. Riwayat lain menyebutkan mereka tidak tertidur, tetapi tidak bisa melihat Nabi SAW yang melewati mereka dan tidak merasakan pasir yang ditaburkan di atas kepala mereka.

Nabi SAW bergegas menuju rumah Abu Bakar yang telah siap menunggu dengan gelisah. Kemudian mereka berdua berjalan ke arah selatan, arah menuju Yaman, bukan ke arah utara yang menuju ke Madinah. Setelah menempuh sekitar delapan kilometer, mereka sampai di Gunung Tsur dan mendakinya. Abu Bakar memapah Nabi SAW yang tampak sangat kelelahan, apalagi beliau tidak mengenakan alas kaki.

Di puncak gunung, mereka menemukan Gua Tsur dan bermaksud bersembunyi di dalamnya. Abu Bakar berkata kepada Nabi SAW, “Demi Allah, janganlah engkau masuk ke dalamnya sebelum aku memasukinya. Jika ada sesuatu yang tidak beres di dalamnya, biarlah aku yang terkena, asalkan tidak mengenai engkau!!”

Abu Bakar memasuki gua dan membersihkan ruangannya. Ia melihat sebuah lubang, karena khawatir akan keluar binatang berbisa dari dalamnya, ia merobek sebagian matelnya untuk menutup lubang tersebut, baru kemudian mempersilahkan Nabi SAW memasukinya. Abu Bakar menutupi lubang tadi dengan kakinya, dan Nabi SAW berbaring dengan berbantalkan paha Abu Bakar dan beliau langsung tertidur. Tiba-tiba Abu Bakar merasakan sengatan di kakinya yang menutupi lubang tadi, mungkin ular atau kalajengking, dan ia merasa sangat kesakitan. Tetapi ia tidak mau menggerakkan kakinya karena takut akan membangunkan Rasulullah. Ia berusaha keras menahan rasa sakit, hingga air matanya menetes mengenai pipi Rasulullah, dan beliau terbangun.

“Apa yang terjadi denganmu, wahai Abu Bakar?” Tanya Rasulullah SAW.

“Demi ayah dan ibuku sebagai jaminannya, ya Rasulullah, aku digigit binatang berbisa!!”

Nabi SAW bangkit dari tidurnya dan memeriksa kaki Abu Bakar. Beliau meludahi kaki yang terluka tersebut, dan seketika sakit yang dirasakan Abu Bakar menghilang.

Mereka berdua bersembunyi di dalam Gua Tsur selama tiga hari. Setiap malam Abdullah bin Abu Bakar datang ke gua tersebut untuk menemani dan menceritakan keadaan di Makkah, layaknya seorang mata-mata melaporkan tugasnya. Amir bin Fuhairah, salah seorang pelayan Abu Bakar, menggembalakan domba-dombanya di kaki gunung tersebut, dan mengantarkan susu ke gua untuk minuman mereka. Menjelang fajar, Abdullah segera kembali ke Makkah, dan Amir bin Fuhairah menggiring domba-dombanya di belakangnya sehingga menghilangkan jejak kaki yang dibuat Abdullah.

Sebenarnya ada beberapa orang Quraisy yang sempat mendaki gunung dan menemukan Gua Tsur. Abu Bakar berbisik kepada Nabi SAW, “Wahai Nabi Allah, andaikata mereka mendongakkan pandangannya, tentulah mereka akan melihat kita!!”

“Diamlah, wahai Abu Bakar,” Kata Nabi SAW dengan berbisik juga,” Dua orang, dan yang ketiga adalah Allah!!”

Sebagian riwayat menyebutkan, di atas pintu goa tersebut terdapat sarang burung merpati, dan pintu goa tertutup dengan sarang laba-laba, yang walaupun laba-laba tersebut baru saja membuatnya, tetapi keadaannya seperti sarang yang telah lama berada di situ. Karena itu akal mereka “tertipu”, logika mereka membantah kalau ada orang di dalam gua. Semua itu adalah cara Allah untuk melindungi hamba-hamba yang dikasihi-Nya.

Setelah tiga hari berlalu, mereka melanjutkan perjalanan ke Madinah disertai oleh Amir bin Fuhairah, dengan penunjuk jalan Abdullah bin Uraiqith, yang ketika itu masih beragama jahiliah, tetapi merupakan orang yang dapat dipercaya, sehingga Abu Bakar memilihnya. Abu Bakar mempunyai kebiasaan duduk membonceng di belakang Nabi SAW, dan ia seseorang yang cukup dikenal di kawasan Jazirah Arabia. Ketika bertemu beberapa orang yang mengenalnya dalam perjalanan hijrah itu, mereka bertanya, “Siapakah orang yang di depanmu itu?”

Abu Bakar selalu menjawab, “Dia orang yang menunjukkan jalan kepadaku..!!”

Tentunya Abu Bakar tidak berbohong dengan jawabannya itu, walaupun orang yang menanyakannya mempunyai persepsi yang berbeda atas jawabannya tersebut.

Beberapa peristiwa terjadi dalam perjalanan ini, seperti pengejaran oleh Suraqah bin Malik bin Ju’syum, beristirahat di tenda Ummu Ma’bad, (lihat kisahnya di bagian lain Percik Kisah Sahabat Nabi SAW ini), dan lain-lainnya yang tidak perlu dijabarkan secara mendetail dalam kisah Abu Bakar ini. Yang jelas, Abu Bakar selalu mendampingi dan melindungi Nabi SAW dari berbagai kemungkinan yang bisa menyakiti atau mencelakakan beliau, hingga akhirnya tiba di Quba, Madinah.

Kekhawatiran Abu Bakar
Walaupun menjadi sahabat utama dan pilihan Rasulullah SAW, bahkan jelas-jelas beliau menyampaikan bahwa ia dijamin masuk surga, bahkan delapan pintu surga memanggilnya untuk memasukinya, tetapi semua itu tidak menjadikannya sombong dan merasa telah suci. Bahkan ia sendiri seingkali merasakan kekhawatiran. Inilah beberapa di antaranya. 

"Alangkah baiknya jika aku…."

Walaupun kemuliaan dan pujian langsung diberikan oleh Rasulullah SAW, tetapi Abu Bakar tidak secara otomatis merasa selamat di akhirat kelak, bahkan ia selalu merasa khawatir dengan nasibnya di hadapan Allah. Sering sekali ia melontarkan ungkapan yang menunjukkan kegundahan hatinya. Misalnya 

"Alangkah baiknya jika aku ini sebatang pohon, yang kemudian ditebang dan dijadikan kayu bakar." 

"Alangkah baiknya jika aku ini sebatang rumput, yang akan habis begitu saja dimakan ternak." 

Ketika sedang berada di suatu kebun dan melihat seekor burung yang sedang berkicau, dia berkata,

"Wahai burung, sungguh beruntungnya engkau, engkau makan, minum dan terbang di antara pepohonan penuh kebebasan tanpa perasaan takut akan hari kiamat, andai Abu Bakar menjadi seperti engkau, wahai burung." 

"..telah aku anggap benar padahal sebenarnya tidak…"

Suatu saat Ummul Mukminin Aisyah RA melihat keadaan ayahnya, Abu Bakar yang saat itu menjabat sebagai khalifah, dalam keadaan sangat gelisah, seperti ada beban amat berat yang ditanggungnya, karena itu ia bertanya, "Wahai ayahku, apakah engkau tengah menghadapi suatu kesusahan?" 

Abu Bakar hanya memandang putrinya tanpa memberikan jawaban. Keesokan harinya, ia memanggil putrinya itu dan berkata, "Wahai Aisyah, bawalah padaku buku catatan tentang sikap, perbuatan, dan ucapan Nabi SAW (Hadits) yang telah kuberikan kepadamu dulu!" 

Abu Bakar memang telah menghimpun tentang sikap, perbuatan dan ucapan Nabi SAW (yang di kemudian hari disebut al Hadits), baik dari yang dilihat dan dialaminya sendiri bersama Nabi SAW, atau dari sahabat-sahabat lainnya, dan menuliskannya dalam suatu buku catatan, sejumlah limaratus riwayat. Buku catatan tersebut diberikan kepada putrinya untuk disimpan.

Aisyah datang dengan membawa buku catatan tersebut. Setelah buku itu diserahkan, Abu Bakar segera membakarnya, dan berkata, "Wahai Aisyah, buku yang kubakar tersebut mengandung banyak riwayat tentang Nabi SAW, yang kukumpulkan dan kuperoleh dari orang-orang yang berbeda. Aku khawatir, jika aku telah meninggal kelak, aku meninggalkan sebuah riwayat yang kuanggap benar, padahal sebenarnya tidak, dan aku harus menanggung akibatnya."

Mungkin suatu kehati-hatian yang berlebihan, karena Abu Bakar adalah sahabat Nabi SAW yang paling dekat, bahkan sejak beliau belum diangkat menjadi Rasul, tentunya ia sangat tahu tentang beliau. Apalagi sewaktu Nabi SAW masih hidup ia diberi tugas untuk berfatwa atau menjawab atas masalah umat, seperti halnya Umar, Utsman, Ali, Abdurrahman bin Auf, Ubay bin Ka'ab, Abdullah bin Mas'ud, Muadz bin Jabal, Abu Musa al Asy'ari dan Abu Darda'. Tetapi justru inilah salah satu wujud tingginya nilai keimanan Abu Bakar yang dipuji oleh Nabi SAW. 

Gaji Abu Bakar sebagai Khalifah Rasulullah

Abu Bakar bekerja sebagai pedagang kain di pasar untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Sesaat setelah diba'iat sebagai khalifah, Abu Bakar mengambil dagangannya dan berangkat ke pasar sebagaimana biasanya. Melihat keadaan ini, Umar bin Khaththab berkata, "Apabila engkau sibuk dengan perdaganganmu, bagaimana dengan urusan kekhalifahan?" 

"Kalau tidak berdagang kain, bagaimana aku akan menafkahi anak istriku?" Jawab Abu Bakar. 

"Marilah kita menemui Abu Ubaidah yang diberi gelar Nabi SAW 'Aminul Ummah' (orang kepercayaan umat)" Kata Umar, "Dia akan menetapkan gaji bagimu dari Baitul Mal." 

Mereka berdua pergi menemui Abu Ubaidah yang memang dipercaya Nabi SAW memegang Baitul Mal. Setelah mendengar penjelasan Umar, Abu Ubaidah menetapkan tunjangan bagi Abu Bakar sebagai khalifah, sebagaimana tunjangan seorang muhajir yang tidak mempunyai penghasilan tetap.
Suatu ketika istri Abu Bakar ingin sekali makan manisan, tetapi Abu Bakar berkata kalau ia tidak mempunyai uang lagi. Maka istrinya berkata, "Kalau engkau mengijinkan, aku akan menyisihkan uang dari belanja setiap harinya, sehingga dalam beberapa hari akan terkumpul cukup uang untuk membeli manisan..!" 

Abu Bakar menyetujui usul istrinya ini. Setelah beberapa hari, istrinya menyerahkan kepadanya, uang yang terkumpul untuk membeli bahan-bahan manisan. Setelah menerima uang tsb. Abu Bakar justru ragu untuk membelanjakannya, ia berkata, "Dari pengalaman ini, aku jadi tahu kalau kita memperoleh tunjangan yang berlebihan dari Baitul Mal." 

Karena itu uang tersebut tidak jadi dibelikan bahan manisan, tetapi disetorkan kembali ke Baitul Mal. Dan ia berpesan kepada Abu Ubaidah agar tunjangannya dikurangi sebanyak yang dikumpulkan istrinya setiap harinya.

Sebelum meninggal, Abu Bakar berpesan kepada putrinya, yang adalah istri Rasulullah SAW, Aisyah RA, agar setelah kematiannya, barang yang diperolehnya dari Baitul Mal sebagai khalifah, diserahkan kepada khalifah penggantinya.

Ia juga berkata pada Aisyah, "Sebenarnya aku tidak ingin mengambil apapun dari Baitul Mal, tetapi Umar telah mendesakku untuk mengambil tunjangan agar aku tidak disibukkan dengan perdaganganku, dan mengurus keadaan kaum muslimin. Aku tidak punya pilihan lain sehingga terpaksa aku menerima dari Baitul Mal. Karena itu, kuserahkan kebunku kepada Baitul Mal sebagai pengganti uang tunjangan yang telah kuterima selama ini."

Ketika wasiyat ini ditunaikan dan Umar bin Khaththab menerimanya, ia berkata, "Semoga Allah merahmati Abu Bakar, sungguh dia telah menunjukkan jalan yang sulit untuk diikuti pengganti-penggantinya. Satu riwayat mengatakan, peninggalan Abu Bakar adalah seekor unta betina, sebuah mangkuk dan seorang hamba sahaya, tanpa dinar dan dirham sebuahpun. Riwayat lain mengatakan hanya sebuah selimut dan riwayat lainnya lagi hanya sebuah permadani. Wallahu A’lam.

Baca Juga Kisah Sahabat Nabi :
Khansa binti Amr RA
Thariq al-Shalidalani dan Syihab RA
Amir bin Akwa RA
Kultsum Bin Hikam RA
Si Badui yang Menghisab Allah SWT

Zaid bin Su'nah al Israili RA

Zaid bin Su'nah al Israili adalah seorang pendeta Yahudi. Ia telah menyaksikan tanda-tanda kenabian yang diramalkan dalam kitab Taurat ada pada diri Nabi SAW, kecuali dua hal, yaitu kesabaran beliau dalam mengatasi suatu perbuatan bodoh, dan suatu perbuatan bodoh yang menimpa beliau, tidaklah membuat beliau bertambah kecuali kesabarannya. Ia menunggu kesempatan agar bisa menyaksikan sifat-sifat tersebut sehingga lengkaplah tanda-tanda itu sebagaimana dimuat dalam Taurat.

Suatu saat ia melihat Nabi SAW keluar dari rumah istrinya diikuti oleh Ali bin Abi Thalib. Seorang badui mendatangi beliau, masih tetap di atas tunggangannya, sang badui ini berkata, "Wahai Rasulullah, aku mempunyai beberapa teman di Bani Fulan, aku pernah berkata kepada mereka bahwa jika mereka memeluk Islam, rezekinya akan melimpah, maka merekapun memeluk Islam. Sekarang ini mereka sedang mengalami musibah kemarau, kepayahan dan hujan yang tidak turun. Aku khawatir jika mereka terus dalam penderitaan ini, mereka akan meninggalkan Islam sebagaimana dulu mereka bersemangat masuk Islam. Jika engkau ingin mengirimkan bantuan untuk mengurangi penderitaan mereka, sebaiknya segera engkau lakukan." 

Nabi SAW menoleh kepada Ali bin Abi Thalib yang berada di sampingnya, Ali mengerti isyarat itu, dan berkata, "Wahai Rasulullah, tidak ada sesuatupun yang tersisa!"

Melihat kondisi tsb. muncullah suatu rencana di benak Zaid. Ia mendatangi Rasulullah SAW dan berkata, Wahai Muhammad, maukah engkau berhutang uang senilai kurma seberat sekian padaku, dengan syarat ngkau akan memberikan hasil kurma dari kebun Bani Fulan seberat sekian, sampai masa tertentu?"

Rasulullah SAW ternyata menyetujuinya, tetapi tanpa persyaratan kebun Bani Fulan. Zaid mengeluarkan kantong uangnya dan memberikan delapanpuluh keping uang emas kepada Nabi SAW. Kemudian beliau memberikan uang emas tersebut kepada lelaki badui, dan bersabda “Berbuat adillah kamu kepada mereka, dan bantulah kesulitan mereka!"

Lelaki badui menerimanya dan mengucap terima kasih kepada beliau, kemudian berlalu pergi.
Dua atau tiga hari sebelum waktu yang telah ditentukan, Zaid melihat Rasuilullah SAW keluar bersama Abu Bakar, Umar, Utsman dan beberapa sahabat lainnya. Setelah menyalati seorang jenazah, Beliau bersandar pada suatu dinding. Sesuai dengan yang direncanakannya, Zaid mendekati Rasulullah SAW, dan menarik tempat bertemunya baju dan selendang di pundak Nabi SAW. Dengan wajah yang dibuat bengis, ia berkata, “Hai Muhammad, apakah engkau tidak mau menunaikan hakku (pembayaran utang)? Demi Allah, aku tidak mengetahui mengenai Bani Abdul Muthalib melainkan mereka adalah orang-orang yang suka menangguhkan pembayaran utangnya. Sekarang aku telah mempunyai pengetahuan bagaimana mempergauli mereka."

Zaid memandang kepada Umar RA, kedua mata Umar berputar-putar bagaikan bintang karena marah. Ia melemparkan pandangannya kepada Zaid seraya berkata, “Kamu berani mengatakan kepada Rasulullah SAW apa yang barusan kudengar? Kamu berani memperbuat kepada Beliau apa yang baru saja kusaksikan? Demi Dzat Yang memegang nyawaku, kalau bukan karena sesuatu hal yang aku khawatirkan akan hilang, sudah pasti aku akan memenggal lehermu!"

Rasulullah memandang Zaid dengan tenang dan sabar, lalu berkata,"Hai Umar, kami lebih membutuhkan selain kemarahanmu itu. Sebaiknya kamu menyarankan kepadaku untuk menunaikan/membayar utangnya dengan baik, dan kamu menyarankan kepadanya untuk menagih dengan cara yang baik. Pergilah bersamanya Umar, lalu berikan haknya dan lebihkan pembayaran utangnya dengan duapuluh sha' kurma sebagai ganti tindakanmu yang membuatnya takut.”

Umar pergi ke tempat seperti diperintahkan Nabi SAW, dan Zaid pergi mengikuti Umar. Setelah utang dibayar dengan jumlah kurma yang dijanjikan, Umar menambahkannya duapuluh sha' lagi. Zaid bertanya, "Apakah maksud tambahan ini, hai Umar?" 

"Rasulullah memerintahkan aku menambah duapuluh sha' ini sebagai ganti tindakanku yang telah membuat dirimu takut." Umar menjelaskan. 

"Apakah engkau tidak mengenaliku, wahai Umar." Tanya Zaid,

Umar menggeleng tidak tahu, Zaid berkata lagi, "Aku adalah Zaid bin Su'nah." 

Umar tersentak kaget, "Pendeta Yahudi itu?"

Zaid mengiyakan, Umar bertanya lagi, "Mengapa engkau melakukan ini terhadap Rasulullah SAW?"

Zaid pun menjelaskan apa yang melatarbelakangi tindakannya. Dan akhirnya ia berkata pada Umar, "Sekarang ini aku telah tahu dua hal yang selama ini belum kusaksikan dalam diri Rasulullah, maka aku persaksikan kepadamu hai Umar, aku ridha Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai agamaku, dan Muhammad adalah Nabi dan RasulNya. Dan aku persaksikan juga padamu, Umar, bahwa separuh hartaku-karena aku orang Madinah yang paling banyak hartanya- aku serahkan untuk sedekah kepada ummat Muhammad."

Umar berkata, "Atau untuk sebagian dari mereka saja, karena sesungguhnya engkau tidak bisa memberi sedekah pada mereka semua." 

Kata Zaid, "Atau untuk sebagian dari mereka."

Zaid dan Umar kembali menghadap Rasulullah SAW, Zaid bersyahadat dan menyatakan keislaman di hadapan beliau. Ia terus menyertai Rasulullah dalam berbagai pertempuran, dan akhirnya menemui syahid di Perang Tabuk.

Baca Juga Kisah Sahabat Nabi :
Si Badui yang Menghisab Allah SWT
Ghassan Bin Malik Al Amiri RA
Qabishah Bin Mukhariq RA
Farwah bin Amr al Judzamy RA
Tsa'labah Bin Abdurrahman RA

Umar bin Khaththab RA

Apa yang Dikatakan Rasullullah SAW tentang Umar bin Khaththab

Hampir dipastikan semua umat islam akan mengenal sosok Umar bin Khaththab RA, keberanian, keadilan, kecerdasan, sikap kritis, keras dan ketegasannya, sekaligus kelembutan, kesedihan dan mudah tersentuh, adalah dua kondisi berlawanan yang menyatu dalam pribadi Umar. Terutama keberaniannya, telah terkenal sejak dia belum memeluk islam, jagoan dan ahli berkelahi yang selalu memenangkan pertandingan adu kekuatan di Pasar Ukazh. Namun keberanian dan kekuatan ini pulalah yang akhirnya mengantarkan pada Hidayah Allah SWT, ketika membentur keberanian dan kekuatan iman yang dimiliki adiknya, Fathimah binti Khaththab. 

Kisah keislamannya ini berawal ketika tokoh-tokoh kafir Qureisy seperti Abu Jahal bin Hisyam, Uqbah bin Nafik dll.nya gagal membunuh Nabi SAW, sementara dakwah islam semakin meluas, dan beberapa orang sahabat berhasil hijrah ke Habsyi, dan beribadah dengan tenang di bawah lindungan Raja Najasyi. Sebagai jagoan terkuat di Makkah, Umar merasa harus ia sendiri yang membunuh Muhammad, yang dianggapnya telah murtad dan memecah belah kaum Qureisy serta memaki dan menghina agama nenek moyangnya.

Umar pergi ke rumah Al Arqam, tempat Rasulullah SAW mengajarkan islam kepada sahabat-sahabat beliau. Di tengah perjalanan ia bertemu Nu'aim bin Abdullah, yang menanyakan kepergiannya dengan pedang terhunus. Begitu mengetahui niatnya untuk membunuh Rasullullah SAW, Nu'aim justru mencela Umar, "Hendaknya engkau meluruskan urusan keluargamu dulu sebelum urusan Bani Manaf. Sesungguhnya adikmu sendiri Fathimah binti Khaththab dan suaminya yang juga anak pamanmu, Sa'id bin Zaid telah mengikuti ajaran Muhammad, merekalah yang harus engkau selesaikan urusannya." 

Betapa geramnya Umar mendengar penjelasan Nu'aim bin Abdullah, dibelokkanlah langkahnya menuju rumah Sa'id bin Zaid dengan kemarahan yang memuncak. Saat itu, di rumah Sa'id juga ada Khabbab ibnu Aratt yang sedang mengajarkan ayat-ayat Al Qur'an pada mereka. Mendengar kedatangan Umar, Khabbab langsung bersembunyi, Sa'id membukakan pintu dan Fathimah menyembunyikan lembaran mushaf Al Qur'an.

Begitu melihat Sa'id, kemarahan Umar tidak bisa dibendung lagi, seolah kemarahannya kepada Nabi SAW ditumpahkan semua kepada adik iparnya tersebut. Dibentaknya Sa''id sebagai murtad dan memukulnya hingga terjatuh. Fathimah mendekat untuk membela suaminya, tapi dipukul oleh Umar pada wajahnya. Sungguh keadaan yang mengenaskan dan membahayakan bagi kedua suami istri tsb. Umar sudah menduduki dada Sa’id, satu pukulan telak dari jagoan Ukazh itu bisa jadi akan membunuhnya.

Namun tiba-tiba terdengar pekikan keras dari Fathimah, "Hai musuh Allah, kamu berani memukul saya karena saya beriman kepada Allah…! Hai Umar, perbuatlah apa yang engkau suka, karena saya akan tetap bersaksi bahwa tiada Tuhan melainkan Allah, dan bahwa Muhammad adalah Rasullullah…!" 

Umar tersentak bagai disengat listrik, pekikan itu seakan menembus ulu hatinya…terkejut dan heran. Umar bin Khaththab adalah seorang lelaki yang sering dilukiskan sebagai : "Jika ia berbicara, maka orang akan terpaksa mendengarkannya, jika berjalan, langkahnya cepat bagai dikejar orang, jika berkelahi maka pukulannya adalah pukulan maut yang mematikan." 

Tetapi ternyata ada orang yang berani menentangnya, seorang wanita lagi, dan adiknya pula, kekuatan apa yang bisa membuatnya berani menentang kalau tidak kekuatan yang maha hebat, kekuatan iman…mulailah percik hidayah menghampirinya. Kemarahannya mereda, dimintanya lembar-lembar Al Qur'an yang dipegang Fathimah, tetapi sekali lagi jagoan duel di Pasar Ukazh ini seakan tak berkutik ketika adiknya tsb. Berkata dengan tegas, "Tidak mungkin, ia tidak boleh disentuh kecuali oleh orang-orang yang suci! Pergilah, mandilahlah dan bersuci..!!”

Bagai anak kecil yang penurut, Umarpun berlalu, sesaat kemudian kembali dengan jenggot yang mengucurkan air. Diberikanlah lembaran mushaf yang berisi Surah Thaha ayat 1 - 6. Makin kuatlah hidayah Allah membuka mata hatinya. Setelah ayat-ayat tersebut dibacanya, meluncurlah kata-kata dari mulutnya, "Tidak pantas bagi Allah yang ayat-ayatnya sebegini indahnya, sebegini mulianya mempunyai sekutu yang harus disembah, tunjukkanlah padaku dimana Muhammad?"

Sebuah pernyataan yang menunjukkan perubahan sikap dan keyakinannya selama ini terhadap Nabi SAW. Khabbab bin Aratt pun keluar dari persembunyiannya dan berkata, "Bergembiralah Umar, sesungguhnya Nabi telah bersabda tentang dirimu, Beliau berdoa : Ya Allah, kuatkanlah Islam dengan salah satu dari dua Umar, Umar bin Hisyam (Abu Jahal) atau Umar bin Khaththab, dan engkau dipilih Allah untuk memperkuat Islam." 

Khabbab mengantarkan Umar ke rumah Al Arqam di dekat Shafa. Di sana ia ditemui Nabi SAW, Beliau memegang ujung baju Umar dan berkata, "Masuklah kamu ke dalam Islam wahai Ibnu Al Khaththab. Ya Allah, berilah hidayah kepadanya!"

Umar pun bersyahadat, maka bertakbirlah para sahabat yang hadir, dengan takbir yang bisa didengar hingga sepanjang jalan di kota Mekkah, bahkan juga sampai ke Ka.bah. Benarlah doa Nabi SAW, keislaman Umar mengguncangkan kaum musyrik dan menorehkan kehinaan bagi mereka, tetapi sebaliknya memberikan kehormatan, kekuatan dan kegembiraan bagi orang muslim.

Tidak seperti muallaf sebelumnya yang umumnya menyembunyikan keislamannya, Umar sebaliknya. Diingatnya siapa yang paling memusuhi Nabi SAW, siapa lagi kalau bukan Abu Jahal. Umar mendatangi rumahnya dan menggebrak pintunya. Begitu Abu Jahal keluar, Umar memberitahukan keislamannya, Abu Jahal menutup pintu dan masuk kembali ke rumahnya. Begitupun ketika diberitahukan kepada pamannya, Al Ash bin Hasyim, dia justru masuk ke rumah. Biasanya mereka berdua ini kalau bertemu dengan orang yang masuk Islam, mereka menangkap dan menyiksanya. 

Ketika kembali kepada Nabi SAW, Umar menginginkan orang-orang Islam untuk tidak sembunyi-sembunyi lagi karena menurut pendapatnya, mereka ini dalam kebenaran, hidup ataupun mati. Pendapatnya ini dibenarkan oleh Nabi SAW dan beliau menyetujui keinginan Umar.

Beliau mengeluarkan orang-orang muslim dalam dua kelompok, kelompok pertama dipimpin Hamzah, yang telah memeluk Islam tiga hari mendahului Umar, dan kelompok kedua dipimpin Umar sendiri.

Orang-orang musyrik hanya terpana tidak berani berbuat apa-apa seperti sebelumnya, tampak jelas kesedihan di mata mereka. Karena itulah Rasulullah menggelari Umar dengan Al Faruq, pemisah antara yang haq dan yang bathil. Sejak saat itu orang orang Islam bisa beribadah dan membuat majelis di dekat Ka'bah, thawaf dan berdakwah, serta melakukan pencegahan terhadap siksaan-siksaan. 

Sikap Umar atas Perjanjian Hudaibiyah

Ketika perjanjian Hudaibiyah disetujui antara pihak Quraisy dan Nabi SAW, sebagian besar orang-orang Islam merasa kecewa, Umar sempat berkata, "Sesungguhnya Rasulullah telah berdamai dan mengadakan perjanjian dengan penduduk Makkah, dalam perjanjian itu, Nabi SAW telah memberikan syarat yang kelihatannya lebih memihak pada kaum Quraisy. Seandainya Nabi mengangkat seorang amir yang berkuasa atasku, dan ia membuat perjanjian yang seperti itu, aku tidak akan mendengarkannya dan tidak akan taat kepadanya." 

Secara umum, sikap Umar dan sebagian besar orang-orang Islam dapat dipahami, selain karena gagalnya niat untuk umrah, padahal sudah sangat dekat dengan Makkah, sementara golongan lain tidak dihalangi, terlebih adalah klausul ke empat dari perjanjian tsb., yaitu : Jika ada orang-orang Quraisy yang datang kepada Nabi SAW tanpa seijin walinya, walaupun ia telah memeluk Islam, Nabi SAW harus mengembalikannya kepada mereka. Tetapi jika ada orang Islam yang meninggalkan Nabi SAW dan bergabung dengan orang-orang Quraisy, maka dia tidak boleh diminta untuk dikembalikan kepada Nabi SAW.

Klausul ini tampak nyata "kerugiannya" ketika datang salah seorang Quraisy yang telah masuk Islam, Abu Jandal bin Suhail bin Amr dalam keadaan terbelenggu datang kepada Nabi SAW untuk meminta perlindungan. Ketika itu pihak kaum Quraisy, Suhail bin Amr, langsung meminta agar Abu Jandal, yang tidak lain anaknya sendiri, dikembalikan lagi kepadanya.

Walaupun dengan berbagai argumen, ternyata Rasulullah tidak bisa mempertahankan Abu Jandal untuk bersama umat Islam lainnya. Saat itu, Umar mendekati Abu Jandal menasehatinya tetap bersabar, tetapi juga mendekatkan gagang pedangnya kepada Abu Jandal. Sebenarnya ia berharap Abu Jandal akan mengambil pedang tsb. dan membabatkan ke tubuh ayahnya, tetapi itu tidak dilakukan oleh Abu Jandal. 

Sikapnya yang temperamental dan tegas dengan kebenaran, memaksanya untuk menemui Rasulullah SAW setelah perjanjian ini dikukuhkan. Ia berkata kepada Rasulullah SAW, "Ya Rasulullah, bukankah kita berada di atas kebenaran dan mereka di atas kebathilan?"

Nabi membenarkan.

"Bukankah korban meninggal di antara kita berada di surga,dan korban mati di antara mereka di neraka." Kata Umar lagi.

Nabi SAW membenarkan lagi. Umar berkata lagi, "Lalu mengapa kita harus merendahkan agama kita dan kembali, padahal Allah belum memberikan keputusan antara kita dan mereka.?" 

Nabi SAW menjawab, "Wahai Ibnul Khaththab, aku adalah Rasul Allah, dan aku tidak akan mendurhakaiNya, Dia penolongku, dan sekali-kali Dia tidak akan menelantarkan aku." 

Bukan namanya Umar al Faruq, kalau ia berhenti dengan penjelasan seperti itu, ia berkata lagi, "Bukankah engkau telah memberitahukan kepada kami, kita akan mendatangi Ka'bah dan Thawaf disana?"

"Apakah aku pernah menjanjikan kita melakukannya tahun ini?" Kata Nabi SAW.

"Tidak, Ya Nabi…!" Jawab Umar.

Maka Nabi SAW menegaskan, "Kalau begitu, engkau akan pergi ke Ka'bah dan thawaf disana!!"

Walau tidak bisa lagi mendebat Nabi SAW, kemudian Umar mendatangi Abu Bakar dan menyampaikan keresahan yang dirasakannya dan sebagian besar orang Islam lainnya. Tetapi Abu Bakar memberikan jawaban yang sama dengan Nabi SAW, dan akhirnya ia menasehati Umar, "Patuhlah engkau kepada perintah dan larangan beliau sampai engkau meninggal dunia, Demi Allah, beliau berada di atas kebenaran." 

Tak lama berselang, turunlah wahyu Allah, "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata." (Al Fath 1). Nabi SAW membacakan ayat ini dan ayat-ayat selanjutnya kepada Umar, barulah hatinya merasa tenang. 

Berlalulah waktu, Umar menyadari apa yang dilakukannya kepada Nabi SAW, dan tak habisnya ia menyesali sikapnya. Ia ungkapkan kegundahan hatinya dengan kata-katanya, "Setelah itu aku terus menerus melakukan berbagai amal, bersedekah, berpuasa, shalat dan berusaha membebaskan dari apa yang kulakukan saat itu. Aku selalu dibayangi dengan peristiwa itu, dan aku berharap semoga ini merupakan kebaikan (sebagai penebus sikapku saat itu)"

Kelembutan Hati Umar

Rasa kasihan kepada kepada pemeluk non Islam
Sikap tegas dan temperamental Umar bin Khaththab ternyata berubah drastis ketika ia telah dibaiat menjadi khalifah, pernah ia melewati biara seorang rahib, yang kemudian memanggilnya. Ketika melihat kehidupannya yang susah dan semangatnya dalam zuhud -meninggalkan segala kesenangan dunia- Umar jadi menangis.

Begitu diberitahukan kalau dia seorang Nashrani, Umar berkata, "Aku tahu dia seorang Nashrani, aku kasihan kepadanya. Sayang sekali ia dalam kelelahan dan kepayahan dalam kehidupan dunia ini, sedangkan di akhirat nanti ia masuk neraka." 

Pernah dikabarkan kepada Umar yang saat itu menjabat sebagai Amirul Mukminin, bahwa ada seseorang yang murtad, lalu oleh pasukan yang dipimpin oleh Abu Musa RA, orang tersebut dihukum mati. Umar menyesalkan tindakan tsb. Dan berkata, "Apakah engkau telah menahannya selama tiga hari dan memberinya roti, serta memintanya untuk kembali kepada Islam dan bertaubat, kembali kepada perintah Allah? Ya Allah, sesungguhnya aku tidak hadir saat itu, tidak memerintahkannya, dan tidak ridha atas apa yang mereka lakukan jika kabar ini sampai kepadaku sebelumnya."

Walaupun secara hukum syariat, apa yang dilakukan oleh Abu Musa sebagai komandan pasukan tidak salah, tetapi tetap saja hal itu meresahkan Umar sebagai Amirul Mukminin, yang sebenarnya harus melindungi semua manusia yang berada di bawah pemerintahannya.

Menolong persalinan keluarga pengembara

Telah menjadi kebiasaan Umar sebagai Amirul Mukminin untuk berkeliling kota saat malam hari menjelasng. Suatu ketika ia menemukan suatu kemah tua dari kulit unta di suatu padang, yang sebelum ini tidak pernah ditemuinya. Di luarnya ada seorang lelaki duduk termenung. Umar menghampirinya, dan bertanya, "Assalamualaikum, dari mana anda datang?" 

"Wahai tuan," Kata orang itu, "Saya orang asing disini yang datang dari hutan, saya hendak menemui Amirul Mukminin untuk mengharap belas kasihannya." 

Tampaknya orang tersebut belum pernah bertemu dan mengenali wajah Umar, dan Umar tidak mau membuka jati dirinya. Ia berkata, "Katakanlah keperluanmu, aku bersedia membantu," 

Tiba-tiba didengarnya ada suara rintihan dari dalam kemah, Umar menanyakannya lagi, tetapi orang tersebut malah menyuruh Umar pergi, tanpa menjelaskannya. Setelah Umar terus mendesak, orang tersebut berkata, "Jika benar engkau ingin membantu, baiklah kuberitahukan. Di dalam kemah tersebut adalah istriku yang mengerang kesakitan karena akan melahirkan." 

"Apakah ada orang lain yang sedang merawatnya?" Tanya Umar. 

Orang tersebut menggeleng sedih. Mendengar jawaban ini, Umar bergegas pulang dan menemui istrinya, Umi Kultsum binti Ali bin Abi Thalib, cucu Rasulullah SAW. Ia menceritakan secara apa yang dilihatnya, dan berkata, "Wahai istriku, sesungguhnya Allah SWT membuka jalan bagimu, jalan yang mulia di sisi Allah, agar engkau memperoleh peluang berbuat kebaikan malam ini." 

Umar memintanya membantu persalinan pengembara tsb. dan istrinya setuju. Ia mempersiapkan peralatan yang dibutuhkan dan Umar juga membawa perbekalan, kemudian bergegas menuju padang dimana suami istri pengembara itu berada. Sampai di sana, Umi Kultsum langsung masuk kemah dan menolong persalinan sang istri, sedang Umar menyalakan api kemudian memasak makanan untuk dua orang tersebut.

Tidak berapa lama, terdengar seruan Umi Kultsum dari dalam kemah, “Ya Amirul Mukminin, ucapkanlah tahniah (selamat) kepada saudaramu itu, karena ia memperoleh seorang anak laki-laki."

Mendengar ucapan dari dalam kemah tersebut, si lelaki jadi terkejut. Tidak disangkanya kalau yang bersusah payah membantunya ini ternyata Umar, Amirul Mukminin yang sempat diacuhkannya. Umar meminta istrinya membawa masuk makanan bagi sang ibu baru tsb. Dan terhadap si lelaki yang tampak terkejut, ia berkata, "Tidak mengapa wahai Saudara, janganlah kedudukanku ini membebani perasaanmu. Datanglah besok menemuiku, aku akan mencoba menolongmu!" 

Setelah semuanya selesai, Umar dan Istrinya, Ummi Kultsum berpamitan. 

Umar Menemukan Menantunya

Salah satu kebiasaan Umar bin Khaththab saat menjadi khalifah, adalah berkeliling kota di waktu malam untuk mengetahui keadaan umat Islam. Ia khawatir kalau ada di antara mereka yang merasa terdzalimi karena kepemimpinannya, dan akan memberatkan hisabnya di akhirat.

Dalam salah satu perjalanannya menjelang fajar, ia mendengar pembicaraan seorang ibu dan anak. Ibunya meminta anak perempuannya untuk mencampur susu yang akan dijual pagi harinya dengan air. Tetapi sang anak dengan tegas menolak dan berkata, "Bagaimana mungkin aku mencampurnya, sedangkan Amirul Mukminin telah melarangnya!" 

Tetapi ibunya tetap saja menyuruh anaknya, karena kebanyakan penjual susu melakukan itu, apalagi Amirul Mukminin Umar bin Khaththab tidak akan mengetahuinya. Tetapi putrinya itu bertahan untuk tidak mencampurinya dan berkata, "Jika Umar tidak melihatnya, pasti Tuhannya Umar melihatnya, aku tidak mau melakukannya karena sudah dilarang." 

Umar begitu tersentuh dengan ucapan anak perempuan itu. Pagi harinya ia menyuruh putranya, Ashim untuk mencari tahu tentang keluarga tersebut, yang ternyata salah seorang dari Bani Hilal. Umar berkata pada anaknya, "Wahai anakku, nikahlah dengannya, sesungguhnya ia yang pantas melahirkan keturunan seorang penunggang kuda yang akan memimpin Arab." 

Ashim memenuhi permintaan ayahnya tersebut menikah dengan anak gadis penjual susu. Dari pernikahannya itu, istrinya melahirkan seorang anak perempuan, yang kemudian dinikahi Abdul Aziz bin Marwan. Dari pernikahan ini lahirlah Umar bin Abdul Aziz, seorang pemimpin adil dan jujur, tak ubahnya Khulafaur Rasyidin yang empat, walaupun ia tumbuh dan dewasa di kalangan Bani Umayyah yang mengagungkan kemewahan dan kekuasaan. Seorang pemimpin yang zuhud, sederhana dan wara' sebagaimana kakek buyutnya, Umar bin Khaththab, sehingga ia sering disebut Khulafaur Rasyidin yang ke lima. 

Karamah Umar bin Khaththab

Memperingatkan Pasukan Perang dari Mimbar Jum'at

Suatu ketika Umar bin Khaththab tengah berkhutbah di Masjid Madinah, tiba-tiba berseru lantang, "Wahai pasukan Ibnu Hishn, gunung! gunung! Menjauhlah dari gunung! Barang siapa meminta srigala menggembalakan kambing, ia dzalim!"

Sesaat kemudian ia meneruskan khutbahnya. Tentu saja para jamaah jum'at saat itu saling berpandangan tak mengerti, apa maksud dari Amirul Mukminin dengan perkataannya tsb. Usai shalat, Ali bin Abi Thalib menghampiri Umar dan menanyakan apa yang terjadi.

"Engkau mendengarnya?" Tanya Umar.

"Tentu saja, dan juga semua orang di dalam masjid!" Kata Ali.

Umar menjelaskan, kalau dengan hatinya ia melihat orang-orang musyrikin bersiap menyerang pasukan muslim melalui pundak-pundak mereka, mereka akan melewati gunung. Jika orang mukmin berpaling dari gunung, mereka dapat menyerang dan menang, tetapi jika mereka melintasi gunung, mereka yang akan hancur. Karena itu aku berteriak memperingatkan mereka.

Sebulan kemudian ada pembawa berita ke Madinah tentang kemenangan pasukan muslimin. Pada hari peperangan itu terdengar suara seperti suara Umar memperingatkan, "Wahai pasukan Ibnu Hishn, gunung! Gunung ! Menjauhlah dari gunung!" Mereka mengikuti suara tersebut sehingga Allah memberi kemenangan kepada mereka.

Berkirim Surat kepada Sungai Nil

Mesir ditaklukkan pasukan muslim dan Amru bin Ash diangkat sebagai Gubernur Mesir. Suatu saat ia didatangi sekelompok penduduk sekitar sungai Nil karena sungai itu sedang kering. Mereka berkata, "Wahai Gubernur, saat ini sungai Nil sedang kering. Kami biasa melakukan suatu tradisi, dan sungai Nil itu tidak akan mengalirkan air kecuali jika kami memenuhi tradisi tersebut." 

Waktu Amr bin Ash menanyakan tentang tradisi tersebut, mereka menjelaskan, bahwa setelah berlalu sebelas hari dari bulan tersebut, mereka mencari seorang gadis untuk dikurbankan. Mereka meminta kerelaan orang tuanya, kemudian gadis ini didandani dan diberi perhiasan yang paling indah, dan akhirnya dilemparkan ke sungai Nil sebagai persembahan. Jika semua itu dilakukan, biasanya Nil akan mengalirkan airnya lagi. 

Tentu saja Amr bin Ash melarang dilanjutkannya tradisi yang seperti itu, karena Islam menghancurkan tradisi-tradisi jahiliah yang merusak. Kembalilah penduduk sekitar Nil ini ke rumahnya masing-masing dan sungai itu tetap dalam keadaan kering, hingga hampir saja mereka memutuskan untuk pindah.

Melihat keadaan yang memprihatinkan masyarakat itu, Amru bin Ash mengirim surat pada Umar bin Khaththab dan menceritakan keadaan tersebut. Umar membalas surat Amr bin Ash dan membenarkan tindakan yang diambilnya untuk menghentikan tradisi kuno tsb. Selain itu Umar juga menyelipkan suatu surat lain, yang ditujukan untuk sungai Nil. Amr diminta untuk melemparkan surat tersebut ke dalam sungai Nil yang sedang kering. Isi surat tersebut adalah sebagai berikut : 

"Dari hamba Allah, Umar bin Khaththab, Amirul Mukminin, kepada hamba Allah Nil di Mesir, Amma Ba'du. Jika engkau mengalir dari dirimu sendiri, maka janganlah kamu mengalir. Namun jika Allah yang mengalirkan, maka mintalah kepada Dzat Yang Maha Kuat untuk mengalirkanmu." 

Amr melemparkan surat tersebut ke sungai Nil pada malam harinya, sehari sebelum peringatan hari raya salib. Pada pagi harinya, sungai Nil telah terisi air sedalam enam belas hasta hanya dalam semalam, dan mengalir terus hingga sekarang. Sungguh dengan ijin Allah, tradisi kuno yang berjalan ratusan bahkan ribuan tahun telah dihancurkan oleh secarik surat Umar bin Khaththab.

Kekhawatiran Umar sebagai Amirul Mukminin

"Cambuklah aku sebagai tindakan balas"

Umar sedang sibuk dengan suatu urusan penting, ketika seseorang datang untuk mengadukan kalau dirinya didzalimi oleh seseorang. Umar yang merasa terganggu, menjadi marah dan mencambuk orang tersebut, sambil berkata, "Ketika aku menyediakan waktu untuk menerima pengaduan, engkau tidak datang. Sekarang ketika aku sedang sibuk dengan suatu urusan penting, engkau datang mengganggu." 

Menerima perlakuan ini, orang itu berlalu meninggalkan Umar. Sesaat kemudian Umar sadar apa yang telah dilakukannya. Sebagai seorang Amirul Mukminin, tidak seharusnya ia mendzalimi orang yang mengadu kepadanya. Umar mengirim seseorang untuk menjemput orang tersebut, ketika dia datang, Umar menyodorkan cambuk yang tadi dipakainya untuk mencambuk, dan berkata,

"Cambuklah aku sebagai tindakan balas, karena aku telah mendzalimimu!"

"Tidak!" Kata orang itu, "Aku telah memaafkanmu karena Allah."

Umar menangis mendengar jawaban itu, ia pulang dan mendirikan shalat dua rakaat, dan terus menerus mengatakan pada dirinya sendiri dengan menangis, "Wahai Umar, dahulu kedudukanmu rendah tetapi kini ditinggikan oleh Allah. Dahulu engkau sesat tetapi kini diberi hidayah oleh Allah. Dahulu kamu hina tetapi kini Allah memuliakan dan menjadikanmu seorang khalifah. Namun ketika salah seorang dari mereka memohon keadilan, engkau malah memukul dan menyakitinya, hari kiamat nanti, apa yang akan engkau katakan kepada Allah sebagai alasan?"

"Apa setiap orang Islam mampu membeli tepung yang baik?"

Satu saat ketika sedang makan, pembantunya memberitahukan kalau seorang sahabat, Utbah bin Abi Farqad datang untuk menemuinya, dan Umar mengijinkannya. Utbah masuk dan duduk bersama Umar dan dipersilahkan untuk makan roti bersamanya. Utbah kesulitan untuk menelan roti tersebut karena terlalu keras, ia berkata, "Padahal engkau mampu membeli makanan dari tepung yang empuk..!!"

"Apakah setiap orang Islam mampu membeli tepung yang baik?" Tanya Umar.

"Tentu saja tidak!" Kata Utbah.

"Sungguh menyesal," Kata Umar, "Engkau menginginkan agar aku menghabiskan seluruh kenikmatan hidupku di dunia ini?" 

Memang telah menjadi komitmien Umar ketika diba'iat sebagai Khalifah, "Kalau terjadi kelaparan pada umat Islam, akulah orang pertama yang akan mengalami kelaparan. Dan jika terjadi kemakmuran bagi umat Islam, aku adalah orang terakhir yang merasakan kemakmuran itu."

Dan inilah yang dilihat oleh sahabat Utbah, dan juga sahabat-sahabat lainnya, bagaimana Umar menjalani kehidupannya sebagai khalifah. 

"Bagaimana dan dari mana asal susu ini?"

Suatu kali seseorang membawakan segelas susu untuk Umar, Umar yang memang sedang kehausan segera saja meminum susu tsb., tetapi dirasakannya ada yang aneh dengan susu tersebut, iapun bertanya, "Bagaimana dan dari mana susu ini? 

"Di hutan sana ada seekor unta sedekah," Kata orang itu, "Ketika aku berjalan di sana, orang-orang sedang memerah susu unta tersebut, mereka memberikan segelas susu kepadaku, yang kemudian kuberikan kepadamu." 

"Astaghfirullah," Kata Umar. Ia memasukkan tanganmya ke mulutnya, dan berusaha untuk memuntahkan semua susu yang telah diminumnya. Ia tidak ingin ada barang syubhat yang masuk ke perutnya. 

"…Itu berarti aku mendapatkan lebih dari hakku yang halal!"

Ketika Bahrain ditaklukan, didatangkanlah sejumlah besar kesturi ke kota Madinah. Umarpun berkata, "Apakah ada di antara kalian yang mau menimbang dan membagi-bagikan kesturi ini pada umat Islam?"

"Saya bersedia menimbangnya!" Kata Atikah, yang tidak lain istri Umar sendiri.

Tetapi Umar mengabaikannya dan sekali lagi mengulang pertanyaannya. Karena tidak ada yang menjawab, atau bisa juga sungkan karena Atikah, istri Amirul Mukminin telah mengajukan diri, sekali lagi Atikah yang menyatakan kesediaannya, dan Umarpun masih mengabaikannya.

Ketika untuk ketiga kalinya Atikah mengajukan dirinya, Umar berkata, "Aku tidak suka kamu meletakkan kesturi itu di timbangan dengan tanganmu, kemudian kamu menyapukan tangan yang berbau kesturi ke badanmu, karena itu berarti aku mendapatkan lebih dari hakku yang halal." 

"….Apakah engkau mengira bahwa sabda Nabi SAW akan terjadi pada jamanku?"
Seusai perang Hunain, ketika orang-orang Anshar merasa tidak puas dengan cara Nabi SAW membagi ghanimah, beliau mengumpulkan mereka dan menjelaskan alasannya. Setelah itu beliau bersabda, bahwa orang-orang Anshar suatu ketika akan menerima perlakuan berat sebelah dan tidak adil dari mereka yang sedang berkuasa.

Suatu ketika Umar membagi-bagikan pakaian kepada umat Islam. Usaid bin Hudair, salah seorang tokoh sahabat Anshar, melihat seorang pemuda Quraisy memakai pakaian pemberian Umar yang lebih bagus daripada yang diterimanya, iapun berkata, "Benarlah Allah dan Rasulnya!!"

Ketika Umar diberitahu tentang penuturan Usaid, segera saja ia menemui Usaid, yang saat itu sedang shalat. Dengan sabar Umar menunggunya sampai selesai shalat, setelah itu ia berkata, "Wahai Usaid, apakah engkau mengira bahwa sabda beliau itu (yakni sabda beliau seusai Perang Hunain) akan terjadi pada jamanku ini? Sesungguhnya pakaian itu telah aku berikan kepada seseorang yang mengikuti perang Badar dan Uhud, dan juga Ba'iatul Aqabah, dan pemuda Quraisy itu telah membeli pakaian tersebut darinya!" 

Setelah mendengar penjelasan tersebut, Usaid berkata, "Demi Allah, aku mengira hal itu tidak akan terjadi pada jamanmu!!"

Dalam kasus yang sama, Muhammad bin Maslamah RA, seorang sahabat Anshar juga, dua kali bertemu dengan orang Quraisy yang berpakaian bagus, dan mereka berkata kalau diberi oleh Amirul Mukminin, yakni Umar bin Khaththab. Sejenak kemudian ia bertemu seorang Anshar yang berpakaian jelek, yang juga diberi oleh Umar. Maka, ketika ia masuk ke dalam Masjid Nabi SAW, iapun berseru agak keras, "Allahu Akbar, sungguh benarlah Allah dan RasulNya!"
Ibnu Maslamah mengulang ucapannya tersebut sampai dua kali. Umar yang mendengar ucapannya tersebut segera menghampirinya dan menanyakan maksudnya, tetapi Ibnu Maslamah menunda menjawabnya hingga ia selesai shalat sunnah.
Usai shalat, ia menemui Umar dan menceritakan apa yang ditemuinya dalam perjalanan, dan juga sabda Nabi SAW kepada orang-orang Anshar setelah berakhirnya Perang Hunain, kemudian ia berkata, "Sungguh aku tidak ingin dan tidak senang, sabda Nabi SAW tersebut terjadi pada jamanmu ini!"
Umar menangis mendengar penuturan tersebut, dan berkata, "Aku memohon ampunan kepada Allah, sungguh aku tidak akan mengulanginya lagi!"

“...naiklah, ini giliranmu…!!”
Pada tahun 16 hijriah, pasukan muslim mengepung kota al Quds, di mana disana terdapat Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha), dan setelah beberapa waktu lamanya, akhirnya gubernur al Quds, Beatrice Sofernius bersedia menyerahkan kota tersebut, khususnya Baitul Maqdis, tetapi langsung kepada Amirul Mukminin, Umar bin Khaththab. Karena itu komandan pasukan mengirim surat untuk meminta kehadiran Umar ke sana.

Umar langsung menanggapi permintaan tersebut, ia berangkat dengan hanya seorang pembantunya dan satu tunggangan (kuda atau onta). Ketika sampai di luar kota Madinah, Umar berkata kepada pembantunya, “Wahai Ghulam, kita berdua hanya memiliki satu tunggangan. Jika saya naik dan engkau berjalan kaki, artinya aku menzhalimimu. Jika engkau naik dan aku berjalan kaki, engkau yang menzhalimiku. Jika kita berdua naik, kita menzhalimi tunggangan kita…”

“Kalau begitu bagaimana sebaiknya, ya Amirul Mukminin?”

Marilah kita bagi tiga periode waktu, pertama aku yang menaikinya, kedua engkau yang menaikinya, dan ketiga, biarlah tunggangan kita melenggang tanpa beban. Pelayannya tersebut menyetujuinya. Umar memperoleh giliran pertama menaikinya, setelah waktu yang disepakati habis, ganti sang pelayan yang menaikinya, dan etelah waktunya habis, mereka berdua membiarkan tunggangannya bebas.

Begitulah giliran itu bergulir terus, ketika telah memasuki pintu kota al Quds, ternyata bertepatan dengan selesainya giliran Umar, dan ia turun sambil berkata kepada pembantunya, “Kini giliranmu, naiklah!!”

Sang pembantu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, engkau jangan turun dan saya tidak mungkin naik. Kita telah sampai di kota tujuan, di sana ada peradaban, kemajuan dan berbagai pemandangan modern. Jika kita datang dengan keadaan ini, saya naik sedang engkau menuntun, tentu mereka akan merendahkan dan mentertawakan kita. Dan itu akan mempengaruhi kemenangan kita!!”

Tetapi dengan tegas Umar berkata, “Naiklah, ini giliranmu. Demi Allah, kalau memang waktunya giliranku, aku tidak akan turun dan engkau tidak perlu naik!!”

Inilah memang ciri khas Umar, ia takut berlaku zhalim dan bersikap tidak adil kalau harus tetap naik tunggangan hanya karena telah memasuki kota al Quds. Ketika masyarakat kota yang menyambut mereka di Babul Damaskus melihatnya, mereka langsung mengelu-elukan sang pembantu yang menunggang dan mengabaikan Umar yang menuntun tunggangan. Memang, dalam penampilan dan baju yang dikenakan, Umar tidaklah jauh berbeda dengan pembantunya tersebut. Bahkan ada beberapa orang yang melakukan penghormatan dengan sujud, sehingga pembantu itu memukulnya dengan tongkatnya, sambil berkata, “Celaka kalian, angkatlah muka kalian, sungguh tidak boleh bersujud kecuali kepada Allah semata..!!”

Ketika tiba di hadapan gubernur Beatrice Sofernicus dan pasukan muslimin, barulah mereka tahu kalau Amirul Mukminin Umar bin Khaththab itu adalah yang berjalan menuntun tunggangan, karena mereka menyapa dan menyalaminya.

Gaji Umar bin Khaththab sebagai Amirul Mukminin

Seperti halnya yang ia sarankan kepada Abu Bakar, setelah diba'iat sebagai khalifah, Umar tidak mungkin tetap berdagang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Karena itu ia mengumpulkan masyarakat Madinah seraya berkata pada mereka, "Dahulu aku berdagang untuk memenuhi kebutuhan keluargaku, sekarang kalian telah memberiku kesibukan dalam menangani urusan ini, bagaimana aku akan memenuhi kebutuhan hidup keluargaku?" 

Merekapun setuju memberikan tunjangan kepada Umar sebagaimana dahulu diberikan kepada Abu Bakar, tetapi berbagai usulan yang berbeda muncul dalam menentukan jumlahnya. Setelah berbagai perbedaan pendapat tanpa kepastian, Umar berpaling kepada Ali bin Abi Thalib, "Bagaimana pendapatmu, wahai Ali?" 

"Ambillah uang sekedar yang bisa memenuhi mencukupi kebutuhan keluargamu!!" Kata Ali. 

Dengan senang hati, Umar menerima usulan Ali ini. Berlalulah waktu, Islam memperoleh kejayaan dimana-mana sehingga harta benda mengalir ke Madinah memenuhi Baitul Mal. Beberapa sahabat, di antaranya Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Thalhah bin Ubaidillah termasuk Ali bin Abi Thalib berkumpul dalam satu majelis untuk mengusulkan kenaikan tunjangan bagi Umar, karena tunjangan tersebut dinilai terlalu kecil, terlebih jika melihat begitu banyaknya kekayaan negara dalam Baitul Mal.

Kesepakatan tercapai, tetapi mereka takut untuk menyampaikan hal ini pada Umar. Karena itu mereka meminta tolong kepada Hafshah RA, putri Umar yang juga Istri Nabi SAW, untuk menyampaikan usulan ini pada Umar, tetapi mereka berpesan agar merahasiakan nama-nama mereka. Ketika Hafshah mengemukakan usul ini, Umar menjadi marah. 

"Siapa yang mengajukan usul tersebut?" Kata Umar dengan nada tinggi. 

"Bagaimana pendapat dulu, ayah?" Kata Hafshah mengelak, karena ia telah berjanji untuk merahasiakannya.

"Seandainya aku tahu nama-nama mereka, niscaya aku pukul wajahnya," Kata Umar,

"Katakan padaku Hafshah, apakah pakaian terbaik Nabi SAW yang ada di rumahmu?" 

"Sepasang pakaian berwarna merah, yang dipakai pada hari Jum'at dan ketika menerima tamu…"

"Makanan apa yang paling lezat, yang pernah dimakan Nabi SAW di rumahmu?" Tanya Umar lagi.

"Roti yang terbuat dari tepung kasar, yang dicelup ke dalam minyak. Suatu kali saya oleskan sisa-sisa mertega, dan beliau memakannya penuh nikmat dan membagi-bagikannya pada orang lain…"

"Alas tidur apa yang paling baik, yang pernah dipakai Nabi SAW di rumahmu?" Tanya Umar lagi.

"Sehelai kain tebal, yang pada musim panas dilipat empat, dan pada musim dingin dilipat dua, separuh dijadikan alas tidur, dan separuhnya lagi untuk selimut…" Kata Hafshah.

Umar kemudian berkata, "Sekarang pergilah, katakan pada mereka Rasulullah telah mencontohkan pola hidup seperti ini dan aku mengikuti beliau. Nabi SAW, Abu Bakar dan aku bagaikan tiga orang musafir yang menempuh suatu jalan. Musafir pertama telah sampai dengan perbekalannya, musafir kedua telah mengikuti jejak musafir pertama. Dan yang ketiga ini baru saja memulai perjalanannya, kalau ia mengikuti jejak keduanya, ia akan sampai kepada mereka, jika tidak maka ia tidak akan pernah bertemu mereka lagi."

Baca Juga Kisah Sahabat Nabi :
Imran bin Hushain Al Khauzi RA
Khabbab bin Arats RA
Muawiyah bin Haidah RA
Shafiyyah Binti Abdul Muthalib RA
Rubayyi binti Mu'awwidz RA

Said Bin Zaid RA